Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply



Sudah beberapa saat sejak trailer pertama Aruna dan Lidahnya hilir mudik di beberapa chanel You Tube atau beberapa media sosial lainnya. Hal yang paling saya ingat tentang film ini adalah sebuah buku dengan sampul gambar mangkuk ayam jago yang selalu jadi khas penjual mie ayam atau bakso. Tapi tidak, tentu saya tidak akan membicarakan bukunya atau mie ayamnya. Saya akan menceritakan pengalaman saya menonton film ini.

Film ini bercerita tentang Aruna yang sedang menyelam sambil minum air. Jangan dibayangkan dia menyelam beneran loh ya. Maksudnya, Aruna yang sedang ditugaskan untuk investigasi 'wabah' flu burung juga menyempatkan diri untuk kulineran bersama teman-temannya, Bono (seorang chef) dan Nandesta (penulis). Muncul juga Farish, patner Aruna dalam tugas sekaligus lelaki yang ditaksirnya. Investigasi flu burung dan wisata kuliner tentu saja hal yang berbeda jauh. Aruna menjalankan keduanya. Menemukan masalah, tentang rasa dan tentang manusia.

Makanan, adalah hal pertama yang menarik perhatian saya ketika trailer film ini muncul. Saya penasaran bagaimana makanan diwujudkan dalam bentuk visual oleh sutradaranya, terlebih jika pemeran utamanya Mbak Dian Sastro dan Mas Nicholas Saputra. Tentu saja juga tentang rasa penasaran saya sebagai salah satu penonton AADC. Saya penasaran bagaimana dua mas dan mbak ini ada dalam satu frame tanpa cap Rangga dan Cinta. 

Pertama, makanan. Saya menikmati setiap sajian visual makanan yang ditampilkan dalam film. Bagaimana proses memasak sop buntut menggoda. Atau ketika seorang bapak mendeskripsikan soto lamongan yang menjadi masakan andalan almarhum istrinya. Soto lamongan yang banyak tersebar di seluruh Indonesia itu, yang menurut saya biasa saja, entah mengapa bisa membuat saya menelan ludah. Visual yang ditampilkan dalam film ini serasa membuat makanan-makanan itu siap menyembul dari balik layar dan siap untuk disantap.

Kedua, tidak ada lagi Cinta dan Rangga!! Saya senang. Udah itu aja.

Namun sayangnya saya tidak paham mana yang lebih diprioritaskan untuk disampaikan dalam film ini. Tentang kuliner kah? Atau tentang nilai-nilai yang ditemukan Aruna dalam menjalankan tugasnya? Keduanya kabur menurut saya. Jika kuliner yang hendak disampaikan, maka visual saja tidak cukup untuk menyampaikannya. Perlu informasi yang lebih jelas apabila ingin menonjolkan makanan Indonesia yang beragam itu. Begitu pula tentang nilai-nilai yang ditemukan Aruna, proses berpikir mendalam yang dialami Aruna sehingga bisa menemukan nilai-nilai itu pun tidak ditampilkan secara jelas. Penonton perlu melihat lebih teliti keseluruhan film apabila ingin menemukan proses berpikir mendalam tersebut, karena saya rasa sang Sutradara pun sudah menyisipkan di dalamnya. 

Tapi film ini membuat saya senang dengan celetukan recehnya yang menyentil. Tentang pencarian resep nasi goreng Mbok Sawal, yang menyampaikan bahwa pencarian yang jauh itu kadang tidak perlu dilakukan kalau kita bisa melihat lebih dekat dan memahami lebih baik. Juga tentang musik yang memanjakan telinga, dan warna-warna yang dipilih untuk menghidupkan sinemanya. Penyampaian narasi yang cenderung atraktif dengan penonton pun juga cukup segar, sehingga sebagai penonton saya pun merasa menjadi bagian dari adegan-adegan yang dijalani Aruna.

Apa saya senang setelah menonton film ini? Iya, saya senang. Cukup.

September 30, 2018 No comments
"Kenapa sih kamu ngga bisa seperti mereka?"
"Kenapa sih kamu menyia-nyiakan kesempatan?"
"Kamu seharusnya jadi *ini*, yang normal"

Hmm... Ada masa dalam hidup pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kepada saya. Bukan dari orang lain, justru pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari orang-orang terdekat. Pada saat itu saya lebih sering bertanya kepada diri sendiri, apakah saya memang tidak normal?

Dari pertanyaan itu muncul pertanyaan-pertanyaan lain yang saya ajukan untuk diri sendiri seperti; jika saya memilih Z sedangkan yang lain memilih A, apakah saya akan jadi aneh?, atau; jika saya tidak menyukai apa yang orang lain sukai apakah saya normal?, atau juga seperti ini; jika saya tidak ingin menjadi seperti mereka, apakah saya akan gagal?
Hingga pertanyaan itu mengerucut menjadi satu pertanyaan utama, bagaimana sebenarnya menjadi normal itu?

Bertahun-tahun saya dihantui oleh pertanyaan yang sama. Meskipun berkali-kali saya diingatkan bahwa tidak perlu menjadi normal jika menjadi 'aneh' membuatmu bahagia. Tetapi mengapa saya tetap terjebak di lingkaran yang sama? Jawabannya, saya tidak menerima diri saya sendiri, saya tidak memaafkan diri sendiri, dan saya tidak mencintai diri sendiri.

Jawaban itu saya temukan baru-baru ini, ketika kehidupan saya mulai terganggu. Saya berhenti menulis, kepekaan saya tumpul, saya pun bingung. Inilah yang mengganggu. Rasanya hidup saya sia-sia. Saya ketakutan dengan keadaan ini, hingga akhirnya saya memutuskan untuk hidup.

Ya, saya ingin hidup. Hanya itu.
Dengan beberapa bantuan, saya mengaji kembali hal-hal sederhana yang pernah luput. Saya menemui keheningan yang ternyata tidak pernah benar-benar saya sambangi. Keheningan yang seharusnya bisa membuat saya lebih peka melihat dan lebih peka merasakan. Keheningan yang awalnya saya kira gelap, tapi justru hal itulah yang membantu saya menemukan titik terang.

Pada akhirnya saya belajar untuk melepaskan, belajar memaafkan diri sendiri, dan belajar menerima. Apakah hal ini mudah? Tentu saja tidak. Ada hal-hal yang membuat saya berhenti belajar, hingga saya kembali terkurung. Apakah saya bodoh hingga membiarkan itu terjadi? Entahlah, mungkin saat itu Tuhan menguji kesungguhan saya. Hingga pada satu titik saya memutuskan untuk memulai lagi, meskipun membuat saya begitu lelah.

Saya mengulangi lagi dari awal, dari titik nol. Menemukan sistem dukungan yang saya butuhkan, menemukan alasan untuk tidak menyerah, hingga akhirnya saya menyadari saya ini berharga. Ya, saat itu saya memutuskan bahwa saya berhenti menjadi normal. Saya tidak butuh menjadi normal, saya hanya butuh merasakan bahagia meskipun itu jauh dari hal-hal normal. Saya hanya butuh memaafkan diri sendiri sekali lagi, dan menerima diri sendiri sekali lagi pula.

Ya, saya cukup menjadi diri saya sendiri. Berhenti menjadi 'normal'.
September 18, 2018 No comments
Aku ingin bahagia. Menjadi diri sendiri, menikmati hidup.
Aku ingin bahagia. Menuliskan suka, menceritakan duka. Membaginya pada manusia.
Aku ingin bahagia. Sebuah buku dengan namaku disampulnya. Membawa tawa dan tangis pada pembaca.
Mencintai seseorang dengan penuh. Dicintai dengan utuh.
Mengajari anak-anak membaca. Mengajak mereka memandang awan, tak jarang juga bintang.
Menggandeng tanganmu di depan mereka, bersamamu keliling dunia.

Aku ingin bahagia. Tanpa takut, tanpa cemas.
membaca tanpa batas. belajar di kampus tanpa peduli usia.
Aku ingin bahagia. Tanpa peduli mereka siapa.
mengungkap sedih, meluap marah. berbicara cinta, melepaskan rindu.
Aku ingin bahagia. Tapi tidak sendiri.
aku takut pada sendiri, tapi tidak pada sunyi.

Aku ingin bahagia. Hanya itu.
August 24, 2018 No comments
(Source: Wikipedia)

Hugh Jackman kembali bernyanyi! Wohooo!!! Saya bersorak riang ketika melihat poster film ini akhirnya rilis di jaringan bioskop di Indonesia. Begitu saya lihat penata musik dan lyricist saya bersorak riang lagi, mereka orang-orang dibalik musik di film La La Land. Bukankah akan memberikan pengalaman menonton yang asyik, pikir saya.

Film ini menceritakan tentang kehidupan P.T Barnum, seorang pemimpin sirkus yang pada akhirnya menjadi pengusaha hiburan yang terkemuka di masanya. Belakangan saya baru tahu bahwa P.T Barnum adalah sosok di balik Barnum & Bailey Circus (Ringling Bros and Barnum & Bailey Circus, sejak 1919 hingga 2017), sebuah perusahaan sirkus terkemuka dunia. 
Barnum yang diperankan oleh Hugh Jackman memulai karirnya di bidang hiburan dengan membeli sebuah museum yang hampir bangkrut lalu mengubahnya menjadi panggung pertunjukan yang menampilkan orang-orang aneh. Pada masa itu, orang kerdil, kulit hitam, atau pengidap gigantisme menjadi tontonan menarik bagi masyarakat karena dianggap aneh. Tentu saja di film ini orang-orang itu ditunjukkan sebagai kelompok yang termarginalkan. Melalui musikal yang menghentak dan lirik membangun, Barnum mampu mengubah pemikiran tentang self-value mereka lalu menjadikan mereka bagian dari sirkus sebagai bentuk menunjukkan jati diri. Bahkan Barnum juga berhasil membujuk Philip Carlyle (Zac Efron), untuk berinvestasi di bisnis hiburannya tersebut. 
Tidak puas dengan pertunjukan yang dibangunnya, Barnum membujuk seorang diva dari Eropa untuk meluaskan karirnya di Amerika. Barnum pun mendapatkan pasar dan simpati dari kalangan atas. Hal ini memunculkan konflik pada Barnum, Kelompok Sirkus, dan keluarganya.

Sebenarnya tidak ada konflik pelik yang ditunjukkan dalam film ini, bahkan klimaksnya pun tidak menunjukkan kekrisisan yang bisa membuat penontong ingin memaki atau menonjok tokoh utamanya. Saya selalu suka ketika Hugh Jackman bernyanyi atau menunjukkan sisi romantisme lelaki. Zac Efron yang kembali bernyanyi pun membawa saya bernostalgia ke High School Musical. Karena itu, film ini bikin saya bahagia. Sejak awal film disajikan visual yang memanjakan mata, musik yang memanjakan telinga, dan suasana hangat yang disajikan membuat saya tersenyum sepanjang film. 
Tetapi jika ingin mengkritisi, ada beberapa hal krusial yang diselipkan sebagai pesan dalam film ini. Pertama, film ini mengangkat pesan tentang 'mimpi dan menjadi diri sendiri'. Tentu saja akan menjadi penyemangat bagi orang-orang yang memiliki kepercayaan diri rendah untuk menggapai mimpi. Ya, live like Barnum, believing in your self, and believing in your dream, that's how you supposed to be. Kedua, film ini secara tidak langsung menunjukkan sisi gelap hiburan sirkus di masa itu. Jika kalian pernah membaca buku atau artikel, pada masa tersebut orang-orang yang memiliki cacat fisik, ras yang berbeda, atau cara hidup berbeda menjadi bagian marginal. Bahkan tak jarang menjadi budak  atau komoditas untuk dipertontonkan. Ketiga, Zac Efron dan Zendaya yang terlibat hubungan romantis di film ini mengalami hal yang pada saat itu dialami oleh semua orang yang memiliki hubungan cinta beda ras. Orang kulit hitam adalah budak dan lebih rendah statusnya, orangtua Philip Carlyle pun menganggap Anne Wheeler adalah aib bagi putranya. Keempat, ternyata Ringling Brother and Barnum & Bailey Circus dituntut atas eksploitasi hewan-hewan untuk keperluan pertunjukan pada tahun 2000, hingga berujung pada skandal serupa pada tahun 2011 hingga 2015. Sirkus ini menutup seluruh kegiatannya, tepat 7 bulan sebelum film ini rilis.

Overall, film ini bikin saya bahagia. Tak henti-hentinya ikut bernyanyi atau mengikuti irama musik yang kaya dan megah. Pembuka tahun yang luar biasa, The Greatest Showman.
January 14, 2018 No comments
Judul : The Dog Who Dared to Dream
Penulis : Hwang Sun Mi
Penerbit : Little Brown, UK



"Pada suatu masa di sebuah tempat yang selalu dipenuhi salju saat musim dingin, hiduplah seekor anjing kecil yang punya mimpi-mimpi sederhana"

Awalnya saya kira buku ini akan diawali dengan kalimat tersebut. Tetapi teriakan dan keluhan seorang lelaki tua justru menjadi bagian dari bab pembukanya. Kemudian mengalirlah cerita tentang lelaki tua itu dan Scraggly, peliharaannya.

Scraggly, seekor anjing kecil yang lahir berbeda dari saudara-saudaranya. Berbulu gelap, nyaris hitam, berbadan kecil yang termasuk ringkih. Belakangan saya tahu, bulunya berpendar biru apabila terkena pancaran sinar rembulan. Menjadikannya istimewa.

Scraggly hidup bersama keluarga Kakek Screecher, di sebuah desa di daerah pegunungan Korea yang diselimuti salju pada musim dingin. Musim dingin berbuat sesuatu pada mereka, membuat Scraggly memiliki mimpi-mimpi sederhana yang menurut Kucing Tua tidak patut dimiliki seekor anjing.

Musim dingin pertama Scraggly merenggut nyawa adik bungsunya karena ulah si Kucing Tua. Scraggly memahami rantai yang menahan leher ibunya, membuatnya kehilangan si bungsu karena terlambat diselamatkan. Kemudian musim dingin juga merenggut ibu dan saudaranya yang lain karena ulah pencuri yang memasuki rumah Kakek Screecher. Scraggly belajar bahwa makanan yang diberikan orang asing, harus diwaspadai, lalu dia juga menyesal tidak mampu menggigit dengan kuat si pencuri untuk menyelamatkan saudara-saudara dan ibunya.

Memasuki berikutnya, Scraggly hampir mati karena anjing liar di lingkungan mereka. Namun musim dingin itu pula Scraggly bertemu si Putih, hingga akhirnya dia melahirkan anak-anaknya sendiri. Scraggly pun memiliki mimpi sederhana, ia ingin hidup bersama anak-anaknya. Tetapi ternyata musim dingin selanjutnya dia harus dipisahkan dari anaknya, Scraggly tidak punya pilihan. Tregedi demi tragedi terjadi, di musim dingin. Scraggly menumbuhkan mimpinya, tetapi juga tak bisa berbuat apa-apa ketika mimpinya hancur.

Saya tidak terlalu paham mengapa penulisnya memilih musim dingin sebagai momentum penting dalam kehidupan Scraggly. Apakah musim dingin yang menggigit dimaksudkan untuk menambah suasana sedih dan terluka yang dialami oleh Scraggly, atau musim dingin yang putih memang cocok untuk menggambarkan kontras warna antara Scraggly dan salju? Tetapi yang jelas musim dingin yang digunakan untuk latar cerita mampu membuat saya setiap tragedi yang dialami Scraggly dengan nyata, juga merasakan kehangatan ketika Scraggly mendapatkan sup atau makanan hangat untuk perutnya termasuk perasaan hangat ketika si Kucing Tua ternyata menjadi sahabat terbaik Scraggly meskipun selalu bermulut pedas.

Penulisnya pun menggunakan kata ganti 'Who' untuk Scraggly pada judulnya. Menunjukkan bahwa Scraggly bukan hanya sebuah benda, tetapi 'memanusiakan' Scraggly. Sehingga mimpi-mimpi dan perasaan yang dimiliki Scraggly terasa sangat wajar. Hal ini membuat pembaca menjadi gampang tersentuh pada setiap peristiwa yang dialami oleh Scraggly. Tentu saja ini bisa jadi pendukung untuk gerakan animal welfare. Bahwa hewan adalah makhluk hidup yang juga layak mendapatkan kesejahteraan, terhindar dari kekerasan, dan tidak boleh diperlakukan sebagai sebuah obyek. Meskipun penggambaran hubungan Kakek Schreecher dan Scraggly masih berubah-ubah. Kakek Screecher menganggap Scraggly sebagai obyek dan subyek pada saat bersamaan. Bukan hal buruk, justru hal ini sangat wajar karena manusia pun saat ini tidak ada yang benar-benar menganggap hewan sebagai subyek yang memiliki kebutuhan 'setara' dengan manusia.

Tidak ada plot klimaks menurut saya, penulisnya menceritakan kehidupan Scraggly secara wajar. Kakek Screecher bertambah usia, Scraggly pun bertambah usia. Kakek Screecher tak bisa lagi memberikan perhatian utuh, Scraggly pun terabaikan secara wajar. Kakek Screecher kehilangan masa-masa indah hidupnya, Scraggly pun kehilangan semua yang pernah dimilikinya. Wajar. Tanpa dramatisir.

Buku ini salah satu yang membuat saya menghela napas panjang setelah selesai membacanya. Alur cerita yang sederhana dan sangat wajar justru membuat saya memikirkan banyak hal yang pernah terjadi dalam hidup. Salah satu buku yang menggelitik saya, menyadarkan bahwa hal sederhana bisa menjadi istimewa apabila diceritakan dengan baik. Buku ini juga meyakinkan saya bahwa saya bersyukur telah mengadopsi hewan, meskipun hanya satu ekor. Menyediakan rumah dan makanan yang cukup bagi hewan ini, membuat hati saya penuh. Semoga Scraggly-Scraggly di luar sana bisa merasakah kehangatan hati yang sama seperti kucing saya di rumah.
December 17, 2017 No comments
Keluarga terdiri dari rasa percaya. Percaya bahwa bisa berjalan bersama. Percaya bahwa bisa melewati semua tantangan.


Ketika ayah memutuskan menikah lagi setelah ibu tiada, saya memang mengiyakan dan merestui. Tetapi ada ragu yang masih terselip ditengah doa yang sedang saya rapal. Ada pertanyaan-pertanyaan penuh kekhawatiran. Apakah si calon istri adalah orang baik? Apakah sanggup menjadi sosok ibu? Apakah bisa mendampingi adik saya untuk tumbuh? Dan banyak pertanyaan lainnya.
Let's see, itulah kalimat yang saya ucapkan untuk diri sendiri supaya pertanyaan-pertanyaan itu teredam. Ya, saya hanya perlu melihat bagaimana peran itu dijalankan. Satu hal yang saya pegang, saya percaya pada ayah. Sudah itu saja.
Empat tahun pernikahan mereka, tentu saja ada masalah yang menghadang. Saya tak ambil pusing, karena keluarga kami demokratis. Masalah yang ada bisa terselesaikan. Adik saya yang beranjak dewasa pun lebih banyak tak ambil pusing juga, dia masih bergantung pada kakak perempuannya dan ayahnya. Saya tahu adik saya belum sepenuhnya percaya pada sosok baru dalam keluarga kami.
Menurut saya, beliau perempuan yang sangat baik, kuat, dan cantik. Baik karena mampu menerima kami sebagai anaknya juga (dia memiliki tiga anak lelaki dari pernikahan sebelumnya). Kuat karena dia pernah mengalami kehilangan yang hebat sehingga belajar berdamai dengan kehilangan itu. Cantik, setiap perempuan cantik dengan caranya sendiri, begitu pula perempuan yang kini saya panggil Mama itu.
Kami masih dalam proses membina saling percaya, dalam arti kami mencoba untuk percaya bahwa tidak akan menyakiti satu sama lain. Proses itu panjang, seumur hidup. Tapi saya tahu kami sudah dalam tahap untuk percaya.
Terima kasih, Mama. Sudah bersedia mendampingi ayah, karena itu yang paling penting bagi kami saat ini.

November 01, 2017 No comments
Lagi-lagi saya menemukan diri saya menulis ketika sedang hancur. Ketika luka lama yang saya kubur rapat-rapat menganga seenaknya. Menganggu konsentrasi saya, membuat saya selalu ingin bersandar pada seseorang. Tentu saja saya mengutuk diri saya sendiri ketika merasa selemah ini.
Saya kembali menyalahkan hujan karena hal ini. 
Saya benci hujan. Saya membencinya bukan tanpa alasan. Meskipun saya menyugesti diri saya untuk berkata bahwa hujan itu rahmat, tetapi tetap saja saya terluka ketika hujan dan saya menemukan diri saya menyalahkan rahmat Tuhan itu. Sungguh hina.

Pertama, saya mendapatkan berita buruk tentang kanker ketika langit Surabaya sedang mendung delapan tahun yang lalu. Ibu saya divonis bahwa hidupnya tidak lama lagi, bahwa kanker akan merenggut satu-satunya manusia yang menjadi sandaran hidup saya. Meskipun saya memasang wajah tegar dan datar dihadapan orang tua saya waktu itu, di dalam mobil travel menuju Malang saya menangis. Di luar hujan turun sangat deras, meredam suara isakan saya.

Kedua, didalam mobil ambulans yang menggaungkan sirine saya mendampingi jenazah ibu saya. Di luar mobil hujan deras mengetuk-ngetuk. Saya tidak bisa menangis, tidak satu tetes pun.
Mobil ambulans dan hujan sukses membuat saya sesak napas sampai sekarang.

Jadi, kamu masih bilang saya drama karena hujan? IYA! Saya mendrama, melodrama.
September 27, 2017 No comments


Salah satu langkah, menuju mimpi-mimpi yang lain. Yang saya tahu, doa-doa orang tua saya sedang di-ijabah.

Saya memiliki mimpi menjadi editor setelah membaca hal-hal yang dibagi Windy Ariestanty, former Editor in Chief di Gagas Media dan Bukune, tentang editor dan pekerjaan editing. Windy juga yang mengenalkan saya pada sosok Mula Harahap dan impian-impiannya untuk literasi Indonesia.

Membuktikan sendiri perkataan Windy tentang masih awamnya profesi ini di sekitar, saya pun dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tentang pilihan profesi ini. "Editor? Apa itu?" atau "Yang kerjaannya ngedit typo?" atau "Jauh-jauh S2, kerja jadi editor? ngedit kesalahan cetak?" dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Saya sih cuma ketawa mendengarnya. Kalau lagi baik, saya menjelaskan. Tetapi kalau lagi malas, saya cuma berlalu.

Bagi orang lain, pekerjaan editor adalah pekerjaan sepele. Tetapi saya menganggap profesi ini keren. Bagaimana tidak keren? Jika nasib sebuah naskah dan mungkin juga penulis ada di tanganmu. Tanggung jawab besar, beban moral besar. Menjadi editor, menjadi yang dibalik layar. Kata Windy, editor adalah yang pertama bertepuk tangan ketika sebuah naskah selesai ditulis dan menjadi yang pertama bersedih ketika kemampuan menulismu tidak mengalami perbaikan. Kalau boleh saya tambahkan, editor juga akan menjadi orang pertama yang senang ketika bukumu laris di pasar, dan akan menjadi orang pertama yang sedih ketika bukumu tidak diminati.

Sebuah buku selalu ada campur tangan editor, jadi ketika buku tidak diminati maka tak jarang editor juga merasa gagal. Ini hal yang saya takutkan. Meskipun kita harus tahu rasanya gagal, tetapi saya masih takut ketika harus menghadapi hal itu. Karena itu bagi saya rasa saling percaya yang tinggi antara editor dan penulis menjadi faktor penting. Mereka harus saling menguatkan ketika jatuh, dan mungkin bisa menari bersama ketika berhasil.

Saya banyak belajar dari penulis-penulis yang saya temui beberapa bulan pertama ini. Dari mereka saya belajar tentang proses yang panjang dan panjang. Dari mereka juga saya meningkatkan kualitas diri dan kemampuan.

Menyesalkan? Tidak. Saya masih ingin jadi editor untuk beberapa tahun ke depan. Mungkin tahun ini saya berada di tempat yang sekarang, tetapi tidak menutup kemungkinan saya akan berpindah. Meningkatkan kemampuan diri, meningkatkan kualitas diri. Bukankah manusia perlu berpindah agar bisa meningkatkan kualitas?

Saya sedang menikmati hidup. Saya sedang bahagia.




September 19, 2017 No comments

Naskah ini sudah seperti anakku juga, jadi apapun itu jika untuk kebaikannya lakukan saja - (Senin, 28 Agustus 2017, 5:24 PM)

Hari ini salah satu penulis yang saya dampingi menyelesaikan naskahnya. Setelah dua bulan lebih berkutat dengan saya yang selalu menuntut untuk lebih baik dan lebih detail. Menghadapi segala keriwilan masing-masing dan tak jarang berbeda pendapat. Naskahnya saya nyatakan lolos hari ini.

Saya paham dia mengerjakan naskah ini bertahun-tahun jauh sebelum bertemu saya. Berkali-kali mengatakan bahwa dia jenuh, dan berkali-kali saya katakan pula bahwa tinggal selangkah lagi agar naskah ini bisa dinikmati pembaca yang lebih luas. Tidak seperti penulis lain yang berhadapan dengan saya, yang membawa revisi naskahnya secara utuh. Dia membawakan setiap revisi dalam potongan-potongan bab, membuat saya lebih detail memperhatikan tokoh maupun plot. Bakhan lebih detail dalam beragumen. Membuat saya terikat lebih dalam dengan cerita yang ditulisnya. Membuat saya juga menjadi pemilik dari cerita yang ditulisnya. Membuat ikatan emosional yang jauh lebih erat saya rasakan, bahkan dia sendiri mungkin tidak merasakannya. He's a great story teller. He did a great job.

Hari ini saya menyatakan lolos untuk naskahnya, membawanya ke tahap lanjutan untuk dipoles lebih baik dengan perbaikan ejaan ataupun tanda baca, lalu dipercantik dengan tata letak dan sampul. Hari ini saya melepas satu lagi anak saya. Meskipun si penulis akan membuat sekuel dari cerita ini, tetapi saya tidak tahu kapan saya bisa bertemu lagi dengan cerita ini. Bahkan saya tidak tahu apakah saya masih mampu mendampingi cerita itu, mendampingi kembali si penulis yang saya tahu akan menjadi besar.

Berkali-kali saya yakinkan diri, bahwa saya mampu mendampinginya lagi. Tapi saya pun berkali-kali meyakinkan diri bahwa suatu saat mungkin cerita ini akan lepas dari saya. Bertemu dengan orang-orang yang lebih baik, yang membuatnya lebih besar dan lebih bermanfaat. Ketika saat itu datang, saya harus siap untuk melepaskannya. Tidak, bukan hanya harus siap tetapi saya harus yakin untuk melepaskannya.

Cerita ini menjadi petualangan menantang bagi saya yang baru memulai, menjadi pembelajaran besar untuk tumbuh lebih baik, dan menjadi ikatan yang entah seerat apa nantinya. Sama seperti orangtua lainnya, saya ingin anak saya tumbuh lebih baik. Tidak hanya dinikmati sebagai bacaan menghibur, tetapi juga menjadi cerminan diri untuk lebih baik, menjadi inspirasi untuk melakukan kebaikan. 

Hey you, thanks for the adventure. see you (again)!
August 28, 2017 No comments



Saya jarang mengulas tentang film. Mungkin bahkan tidak pernah selama beberapa tahun terakhir. Kali ini saya membagikan pengalaman menonton Genius. Colin Firth, Jude Law, dan Nicole Kidman masih menjadi aktor dan aktris favorit. Saya jatuh cinta pada akting Colin Firth ketika dia membintangi serial Pride and Prejudice versi BBC, sampai saat ini saya selalu menikmati dengan baik aktingnya di beberapa film. Di film Genius pun Colin Firth juga memukau saya dengan karakternya sebagai Maxwell Perkins, seorang editor yang menemukan Hemingway, Fitzgerald, dan Wolfe.
Film ini sudah saya lirik sejak akhir tahun lalu, hanya saja saya masih ragu menontonnya. Hingga kemaren seorang penulis sekaligus teman saya merekomendasikan film ini setelah saya berujar sesuatu kepadanya tentang pekerjaan saya. Saya pun menonton film ini.
Patah hati. Perasaan yang pertama kali muncul dalam diri saya. Wajar saja, karena saya merelasikan alur cerita dengan kehidupan nyata. Sama seperti Perkins, saya seorang editor meskipun masih seumur jagung. Saya tidak bisa membandingkan pencapaian Perkins dengan apa yang baru saya mulai dalam kehidupan saya. Tetapi saya bisa merelasikan bagaimana Perkins patah hati ketika penulis-penulisnya tidak mampu lagi menuliskan satu kalimat pun. Atau ketika penulisnya terlalu jumawa dengan nama besar yang berhasil dicapai.
Perkins selalu bisa menemukan batu yang dia percaya akan bersinar. Dia memoles batu itu, hingga menjadi permata. Kadang Perkins sadar permata itu akan berpindah tangan, tetapi kadang dia juga naif bahwa permata itu akan selalu berada di genggamannya. Saya akui bahwa saya pun pernah sangat naif. Percaya bahwa seseorang yang saya temani ketika berada di masa sulit, akan ada bersama saya ketika dia sudah menjadi besar. Kenyataannya berbalik 180 derajat dari yang saya percaya. Karena itu saya pun patah hati.
Pekerjaan editor hanyalah menemani proses penulis untuk sebuah buku. Menyediakan sarana dan sedikit polesan untuk diantarkan kepada pembaca. Seperti kata Perkins, buku akan selalu menjadi milik penulis, editor hanya bertugas mengantarkannya kepada pembaca. Editor tidak perlu kredit untuk setiap proses kreatif penulis, pembaca yang mengulas dengan baik dan mengkritik dengan kritis sudah cukup.  Jauh sebelum saya memahami ini, sepertinya saya telah belajar tentang hal ini. Menemani seseorang hingga sampai puncak lalu berdiri dibawah sambil tersenyum puas, tak peduli jika ia tak memperhatikan kalau saya telah berbalik pergi.
Saya masih perlu banyak belajar untuk melepaskan. Seperti Perkins yang merelakan Fitzgerald untuk tidak menuliskan kata-kata lagi. Atau seperti ketika Perkins merelakan Wolfe pergi untuk selamanya ketika ia sedang berada di puncak.
Tampaknya saya menemukan padanan kata baru untuk editor. Editor sama dengan melepaskan.
July 30, 2017 No comments
Entah sudah berapa banyak saya berbicara tentang mimpi. Rasanya sejak saya memiliki halaman blog ini saya sudah membicarakan tentang mimpi. Saya ini pemimpi, bahkan bapak saya pernah bilang 'kamu kebanyakan mimpi'. Ah iya, saya memang kebanyakan mimpi.

Saya pernah bermimpi pergi keliling dunia. Taukah bagaimana saya mewujudkannya? Saya mengajukan permohonan paspor tanpa saya tahu kapan atau ke mana saya pergi berkeliling dunia. Orang bilang, saya impulsif. Tapi saya bilang, saya sedang berdoa untuk terwujudnya mimpi saya. Tahukah apa yang terjadi? Setahun setengah dari pembuatan paspor itu, saya benar-benar pergi keluar negeri. Bahkan saya pergi ke tiga negara pada tahun yang sama. Pada tahun-tahun berikutnya saya masih punya mimpi keliling dunia.

Saya pernah bermimpi untuk menulis seumur hidup saya, atau lebih tepatnya menjadi bagian dari proses kreatif sebuah buku. Orang bilang menulis itu tidak banyak penghasilan, tidak punya jadwal gajian yang tetap, dan kerjanya selalu berkhayal. Saya sempat berhenti untuk mewujudkannya, mencoba menjadi 'normal' dengan mengejar karir kantoran dengan gaji tinggi dan tetap. Tetapi ternyata saya tidak menikmatinya. Saya pun kembali lagi impulsif, bekerja di bidang kreatif dengan gaji yang cukup untuk bayar kosan. Menyesal? Saat ini belum, saya masih dalam tahap sedang senang-senangnya. Bakal menyesal? Ngga tahu, belum kelihatan.

Masih punya mimpi? Masih. Banyak pula.
Saya masih ingin terus jadi pemimpi, hidup dalam mimpi, dan menikmati mimpi. Biar apa? Biar saya bahagia.
June 08, 2017 No comments
Tolong saya. Ini yang pertama kali saya ucapkan dalam hati ketika mengalami hal yang benar-benar mengguncang saya kemaren. Tolong saya. Tolong saya.
Sudah lama saya memiliki krisis kepercayaan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Saya tidak nyaman jika harus terlalu percaya pada orang, bahkan saya tidak nyaman jika orang lain menaruh kepercayaan pada saya. Tidak hanya orang lain, bahkan saya tidak nyaman ketika hewan peliharaan menaruh rasa percaya yang besar pada saya.
Ada banyak hal terjadi di masa lalu yang membuat saya menjadi seperti ini. Ya, seperti yang sudah banyak diduga. Kesalahan satu orang pada saya membuat saya menarik kesimpulan. Saya tahu kesimpulan ini salah. Tetapi wajar jika saya tidak ingin mengulangi kesalahan itu.
Banyak hal yang terjadi karena hal ini. Mungkin orang membenci saya, karena mereka merasa tidak dibutuhkan atau tidak dipercaya. 
Saya mencoba mengatasi hal ini dengan mengadopsi satu hewan untuk membantu saya. Kali ini pun saya menghancurkan sendiri usaha saya karena hal-hal yang saya takutkan bisa terjadi. Mengembalikan hewan yang saya adopsi memang bukan hal yang benar, saya menghancurkan komitmen yang saya buat dengan lembaga adopsi tersebut. Saya sadar bahwa saya akan dihujat oleh aktivis animal welfare manapun. Saya sejujurnya tidak takut dihujat. Saya lebih takut hewan tersebut tidak mendapatkan kasih sayang optimal dari saya. Saya lebih takut dia merasa dibuang oleh saya, meskipun secara fisik dia bersama saya. Saya lebih takut pada sorot mata hewan daripada tatapan penuh hujat dari manusia. Oleh karena itu saya kembalikan hewan tersebut pada orang yang lebih baik daripada saya.
Tolong saya. Tolong saya. Saya tidak tahu pertolongan apa yang saya butuhkan. Tolong saya.
March 07, 2017 No comments
Tuhan menciptakan manusia bukan karena kita layak menjadi manusia. Tuhan hanya menguji, apakah kita benar-benar layak menjadi manusia
November 18, 2016 No comments
Kalau memang rindu, katakan saja rindu. Tak usah kau bikin drama karena kesal pada gengsimu sendiri.

Baru saja saya membaca kembali halaman blog seorang kawan baik yang kini berada ratusan kilometer dari Semarang. Halaman blog yang menyadarkan saya betapa saya sangat merindukan kawan saya ini. Seorang yang seperti keluarga, yang orang tuanya sudah seperti orang tua sendiri. Seorang yang rumahnya sudah menjadi tempat 'pulang' bagi kami, teman-temannya. Seorang yang punya mimpi, yang membuat orang seperti saya bahkan tertular semangatnya untuk mewujudkan mimpi. Ah, saya rindu berbincang dengannya.

Mungkin saya terlalu sering mengajukan alasan untuk tidak mengunjunginya setahun belakangan ini. Entah karena saya sok sibuk, atau saya hanya malu menemuinya. Karena saya merasa jauh tertinggal dari dirinya. Ini absurd. Sangat absurd. Karena saya tahu, dia akan selalu membuka tangannya untuk saya kapan pun saya datang. Dia akan selalu membuka pintu rumah dan mengucapkan selamat datang. Saya juga tahu dia akan dengan tenang mendengarkan segalanya, karena dia baik. terlampau baik.

Atau saya hanya ingin melupakan? Melupakan sebuah kota yang menjadi saksi saya tumbuh. Ada begitu rasa bahagia di sana, juga rasa sakit. Rasa sakit yang membuat saya bisa melupakan rasa bahagia. Lagi-lagi ini tak masuk akal. Mengapa orang bisa lebih merasakan sakit daripada merasa bahagia? Mengapa orang bisa lebih mudah melupakan bahagia? Mungkinkah manusia sangat se-delusional itu?

Tapi, kawan saya ini menjadi salah satu pemicu saya untuk kembali ke kota ini. Mematahkan seluruh visi delusi yang saya bangun selama beberapa tahun terakhir. Sekaligus untuk membuktikan bahwa mimpi memang harus wujudkan. Begitu bukan?

Dear, kota yang selalu dingin padaku. Cukuplah aku merindumu sekarang.
October 18, 2016 No comments
I want to wander, not to feel the joy or the pain. But to understanding.
Pagi ini saya dikejutkan oleh notifikasi email dari seorang teman baik. Subyek emailnya membuat saya penasaran, tentang sebuah dunia yang dekat namun begitu jauh. Tentang ide yang hidu didalamnya, yang membuatnya seakan tak bisa terjangkau. Sebuah vlog dari seorang pelaku perjalanan yang membuat saya tertegun sekaligus iri. Saya tertegun dengan keberaniannya, tentu saja tentang mengambil resiko serta penghakimannya yang 'polos' namun membuat hampir siapa pun menyetujuinya. Kemudian saya juga iri, karena dia bisa menjajak dunia itu lalu bercerita kepada dunia tentang semua yang dialaminya di dunia itu.



Bagi saya, Korea Utara sudah berada di satu tempat istimewa di hati saya. Bagaimana tidak menjadi istimewa, kalau negara ini telah mengantarkan saya menuju jenjang lebih jauh dalam hidup saya? Korea Utara menjadi salah satu 'pintu' yang membawa saya kepada pilihan-pilihan hidup berikutnya, yang membuat saya sampai pada titik saat ini. Korea Utara juga meluruhkan segala penghakiman saya terhadap segala hal yang dianggap berbeda, membuat saya lebih bisa memahami daripada menghakimi secara tidak adil.

Video blog berdurasi sekitar empat belas menit tersebut dibuat oleh Jacob Laukaitis (kalian bisa mencarinya di laman youtube untuk mengikuti cerita perjalanannya), saat berkunjung ke Korea Utara. Tidak mudah mengunjungi negara yang cenderung menutup diri dari dunia, diperlukan izin yang cukup sulit prosesnya untuk mendapatkannya, diperlukan himbauan yang harus berkali-kali diulang agar tidak melakukan kesalahan, dan menekan segala bentuk rasa penasaran berlebihan yang bisa membuat diri celaka. Jacon Laukaitis berhasil memenuhi aturan-aturan itu sehingga saya bisa menikmati ceritanya.

Saya rasa ketika orang bilang 'waktu terasa berhenti' di Korea Utara, rasanya saya tidak melihat itu di video blog ini. Semua orang bergerak maju di negara ini, hanya saja cara mereka bergerak maju tidak sama dengan cara kita atau cara masyarakat lain di belahan dunia lainnya di bumi. Mereka telah mengizinkan turis berambut pirang dan bermata biru untuk berkunjung ke negara mereka, tentu saja dengan aturan-aturan yang mengikat. Saya rasa aturan itu pun dibuat bukan untuk membatasi diri terhadap dunia luar, tetapi untuk menunjukkan identitas mereka kepada dunia. Bahwa mereka punya nilai-nilai yang diyakini, dan cara hidup yang cocok dengan identitas mereka. Sama seperti kita yang memiliki prinsip atau aturan-aturan yang kita buat sendiri untuk menunjukkan identitas kita pada orang-orang di sekitar kita. 

Korea Utara mengalami banyak hal untuk bisa sampai pada kehidupaan saat ini, tentu saja dengan cara mereka. Jika beberapa negara lain memilih untuk berjalan di ide yang sama, Korea Utara memilih untuk tetap mengikuti ide yang dipilih dan disusunnya sendiri. Jika ada beberapa yang menganggap apa yang terjadi di Korea Utara adalah karena ambisi pemimpinnya, sebaiknya saya mulai membuka lagi catatan lama lalu menganalisanya lagi. Jika sebagian besar menganggap hal itu melanggar Hak Asasi Manusia, tampaknya perlu dibuka lagi tentang asal definisi hak asasi manusia. Karena saya meyakini definisi itu bisa berbeda tergantung pada latar belakang tempat, kondisi, dan budaya. Saya tidak ingin memberikan penghakiman apa pun pada apa yang terjadi, bukan berarti saya tidak punya empati. Saya hanya ingin memahami untuk apa yang mereka pilih, dan saya rasa hal itu akan memunculkan pesonanya sendiri. 
October 10, 2016 No comments
Pengalaman menonton yang paling berkesan adalah ketika keluar dari zona nyamanmu untuk masuk ke zona nyaman orang lain - Sevy Kusdianita

Penghujung tahun 2014, lebih tepatnya bulan November tahun 2014, waktu itu Christoper Nolan (sutradara Dark Knight Series, yang menjadi film superhero favorit saya sepanjang hidup) melakukan meluncurkan hasil kerja terbarunya, Interstellar. Tentu saja saya yang pada waktu itu sedang berada di belahan dunia lain tak ingin ketinggalan menonton. Saya membujuk beberapa teman yang tidak hobi nonton untuk menemani hasrat saya itu. Alhasil, mereka pun bersedia ikut menonton bersama saya.

Sebenarnya saya tidak ingat tanggal berapa dan jam berapa kami menonton Interstellar. Saya hanya ingat di mana kami menonton pada saat itu. Cinema Stars yang berada di pusat perbelanjaan bernama City Stars di salah satu distrik di Kairo bernama Nasr City, adalah tempat saya dan kelima teman saya menonton Interstellar. Beruntunglah saya masih menyimpan foto tiket bioskop yang sudah lusuh yang menunjukkan studio, tanggal, waktu, dan nomor kursi. Saya pun masih menyimpan tiket itu di buku kenangan saya.

Bagian depan tiket Cinema Strars, entahlah itu tulisan Arab artinya apa



kalau ini bagian belakang yang memberitahukan tanggal,waktu, studio, dan nomor kursi


Karena masih berselang seminggu dari tanggal rilis Interstellar di Amerika Serikat, maka pengunjung yang menonton film ini cukup banyak. Saya melihat hampir seluruh kursi di Studio 1 Cinema Stars ada pemiliknya pada waktu itu. Ketika film dimulai, maka petualangan saya di studio 1 itu pun juga dimulai.

Saya tidak akan menceritakan tentang alur cerita Interstellar atau mengomentari hasil kerja Christoper Nolan. Tidak, saya masih belum punya kapasitas untuk itu, saya hanya penikmat film yang menilai berdasarkan preferensi saya saja. Kali ini saya akan bercerita tentang apa yang saya alami ketika menonton film di belahan dunia lain.

Ada subtitle berbahasa Perancis dan Arab ketika layar menayangkan adegan pertama, dan masih ada riuh rendah orang mengobrol bahkan ketika lampu dimatikan supaya gambar di layar lebih fokus. Duh, mati! saya langsung mengumpat dalam hati. Arda, teman sekelas saya yang berasal dari Semarang pun langsung bertanya pada saya, "Mbak, sampeyan ngerti?" Dia merujuk pada teks Bahasa Arab dan Perancis yang muncul.
"Aku ora paham subtitle-nya," jawabku. "Moga-moga aja paham filmnya." Ya, semoga saya paham alur film yang menjadikan ilmu fisika sebagai bagian besar dalam alur ceritanya.

Selang beberapa saat sejak film di mulai, saya masih saja mendengar ada beberapa orang yang berbicara. Perlu diketahui, bagi beberapa orang, nonton di bioskop adalah sebuah ritual suci. Mereka sangat mengagungkan sebuah ruang bioskop yang bebas dari suara obrolan orang, pantulan cahaya LCD smartphone, dan kursi yang tenang tanpa adanya dorongan-dorongan kaki dari penonton dibelakang. Di tempat ini, jangan harap bisa menemui para pengikut ritual suci tersebut. Alih - alih menonton dengan tenang, suara orang bercakap-cakap sampai suara orang membuka bungkus plastik makanan ringan bisa didengarkan bersamaan dengan suara yang muncul dari film. It was annoyed me for a while, but then I was fascinated.

Ya, awalnya menjengkelkan nonton bersama orang-orang berisik. Tidak bisa konsentrasi, dan kesulitan memahami tiap adegan karena keterbatasan pengetahuan dan bahasa yang saya punya. Tetapi secara bersamaan ada hal lain yang membuat saya terkejut kemudian tersenyum. Ketika alur film mencapai bagian tengah, tiba-tiba saja layarnya berhenti kemudian lampu bioskop menyala. Awalnya saya mengira ada kerusakan, saya melihat orang-orang di sekitar saya sebagian beranjak dari tempat duduknya sebagian lagi keluar ruangan. Saya dan teman-teman kebingungan dengan situasi ini. Tetapi kemudian saya teringat suatu fakta yang mirip dengan keadaan ini. Ketika bioskop di Indonesia belum memasuki era modern, film yang diputar akan dihentikan ditengah alur cerita untuk 'istirahat'. Penonton diperbolehkan keluar ruangan untuk ke toilet atau membeli makanan. Akhirnya saya tertawa, sampai teman-teman saya kebingungan. Saya pun menjelaskan kepada mereka tentang ingatan saya itu dan menghubungkannya dengan situasi yang kami alami. Mereka ikut tertawa bersama saya.

Sekitar lima menit kemudian, lampu bioskop dimatikan kembali. Film di layar kembali di putar. Saya pun menikmati sisa film dengan baik, masih bersama suara percakapan orang-orang di sekitar saya.



October 07, 2016 No comments
Klik, adalah yang pertama kali saya dengar di kepala saya ketika salah seorang teman mengirimkan foto sepatu lari yang dikenakannya dengan latar belakang rintik hujan. Habis lari, katanya ketika saya menanyakan sedang apa kepadanya. Melihat rintik hujan dan sepatu lari warna hitam dengan kombinasi warna hijau neon itu membuat saya ingin menceritakan sesuatu.

Saya seseorang yang tidak menyukai hujan, tetapi saya selalu merindukan hujan. Katakanlah saya terjebak love-hate relationship bersama hujan. It' was tiring, very tiring. Karena saya memakai perbandingan itu untuk menggambarkan love-hate relationship sepihak yang saya rasakan terhadap suatu hal dan juga seseorang.

It was tiring. Yes, it was. Ketika saya tidak tahu caranya menari bersama hujan, dan tidak tahu caranya menikmati gejolak perasaan yang naik, turun, serta memutar seperti roller coaster. It was tiring, ketika saya belum bisa bernegosiasi dengan perasaan saya dan penghakiman-penghakiman yang ditujukan kepada saya kala itu.

Melihat sepatu lari yang ia kenakan dengan latar belakang rintik hujan, membuat saya merindukannya sekaligus membuat saya mengingat bagaimana saya bisa berdamai dengan semua hal yang melelahkan itu. Time will heal everything, and it's work for me. Love-hate relationship  yang saya alami sudah menghilang. Namun ada yang tersisa dari itu, yakni cherish. Ya, I cherish the rain, I cherish him, and I cherish my self.

Saya menikmati rintik hujan yang jatuh ke dahi saya saat menengadahkan kepala, ketika saya sudah belajar bahwa hujan menghapus panas dan debu seharian. Seperti hujan yang meluruhkan lelah dan jengah yang saya alami seharian. Saya menikmati setiap percakapan jarak dekat maupun jarak jauh tanpa berharap apa pun kecuali pertemuan kembali untuk menceritakan kembali tentang apa pun yang kami lewatkan secara terpisah. Saya menghargai setiap hadirnya, dan setiap usahanya untuk mempertahankan ikatan yang terbentuk antara saya dengan dirinya. Karena saya tahu, akan sangat bodoh sekali apabila apa yang kami bangun selama ini hancur karena keegoisan salah satu diantara kami.

Saya sudah memutuskan untuk tidak lagi berpura-pura bahwa saya memiliki perasaan untuk dirinya, keputusan itu sudah lama dibuat dan saya menemukan diri saya membaik ketika mengakui hal itu. Ketika dia membaca tulisan ini nanti, saya berharap dia tidak lari. Saya harap dia akan memuji saya karena keberanian saya, dan belajar untuk melewati ini dengan baik tanpa merusak apa pun. Karena saya yakin, dia mampu mengataasi hal ini dengan baik seperti saya. Karena saya pun yakin, dia bisa menari bersama hujan seperti yang selalu saya lihat dari dirinya selama ini. Karena menikmati hujan akan selalu lebih baik daripada harus menggertutu. Karena penerimaan akan suatu keadaan akan selalu lebih baik daripada melakukan penolakan yang sia-sia bukan?

Thanks for the picture, memories, and lesson


September 15, 2016 No comments
Singapore, 6th February 2016

July 23, 2016 No comments
Kau pernah memberiku edelweis, pada suatu hari saat hujan turun. Saat aku kesal padamu, entah karena apa.
Kau pernah memberiku edelweis, pada suatu hari saat hujan turun. Kau bilang 'Aku tidak memetiknya, aku membelinya dari seorang penjual di kaki gunung kemarin,' aku hanya tersenyum mendengarnya. Kesalku padamu hilang seketika.
Kau pernah memberiku edelweis, pada suatu hari saat hujan turun. Aku mengira kau dan aku akan bersama. Ternyata mimpi kita berbeda, kau dengan jalanmu dan aku dengan jalanku.

Edelweis itu masih di sana, di rumah masa kecilku di lemari pajangan ruang tamu. Aku selalu mengingatmu.
Edelweis itu masih di sana, di rumah masa kecilku di lemari pajangan ruang tamu. Kamu selalu mengingatku.
Edelweis itu masih di sana, di rumah masa kecilku di lemari pajangan ruang tamu. Aku tak pernah mengunjunginya lagi.
Edelweis itu masih di sana, di rumah masa kecilku di lemari pajangan ruang tamu. Kau lupa pernah memberiku edelweis, sama seperti kau lupa memenuhi janjimu mengajakku menonton film terbaru di bioskop.

Ku kira edelweis tak akan pernah layu, bunga abadi katamu. Namun kelopaknya mulai rontok dan batangnya mulai berlubang, kata bibi penjaga rumah masa kecilku.
Kau salah, edelweis tidak abadi. Dia pun layu.
Kau dan aku tidak abadi, kau benar dalam hal ini. Kau dan aku akan selalu memilih jalan berbeda. Seperti edelweis yang memilih layu daripada harus menunggu pemiliknya kembali.
Edelweis pun layu, kau tak mengingatnya dan aku tak pernah kembali.
July 16, 2016 No comments
Sebuah alasan tetaplah menjadi alasan, kecuali kau mampu menegosiasikannya

Aku baru menyadari kalau daya produksiku menurun drastis tahun kemarin. Bahkan aku belum menulis sama sekali tahun ini. Kecuali jika kali ini dihitung sebuah tulisan, maka inilah tulisan pertamaku tahun ini.
Jika ditanya mengapa produktivitasku turun, maka jawabanku adalah aku tidak sedang jatuh cinta (I can see that you're rolled your eyes to me!).

Aku tahu itu absurd dan tidak masuk akal. Tapi kali ini aku akan bernegosiasi denganmu.
Kalau kau bilang alasanku absurd dan tidak bisa kau terima, aku mengerti. Karena memang menulis butuh konsistensi, alasan yang ku berikan kepadamu hanya alasan saja. Kau menganggapku malas. Aku mengerti, aku paham semua itu.
Tapi kalau boleh aku menambahkan, aku belajar melawan mood. Tidak sedang jatuh cinta kemudian tidak menulis adalah keadaan paling buruk yang ku alami, mood paling buruk yang ku alami dan cukup menjadikanku tidak produktif.
Ketika aku sedang jatuh cinta, aku mendapatkan banyak inspirasi. Rasa deg-degan ketika aku melihatnya, saat pipiku memerah karena bersamanya, saat cemburu ketika dia tidak memperhatikanku, bahkan saat patah hati ketika tahu bahwa hanya aku yang menyukainya tetapi dia tidak menyukaiku. Semua itu membuatku menulis. Aku menulis supaya dunia tahu aku sedang jatuh cinta pada pria terbaik di mataku saat itu. Aku menulis supaya aku baik-baik saja saat aku patah hati.

Ironi sekali bukan? :)
Aku memang bukan penulis yang kau harapkan. Tulisanku acak-acakan dan semaunya. Tapi mengetahuimu menggemari tulisanku dan menungguku untuk menghasilkan bacaan baru bagimu, aku bahagia. Aku tahu itu caramu mencintaiku. Maka, bisakah kau membuatku jatuh cinta kepadamu lagi? Supaya aku bisa menulis tentangmu, bahkan saat kau mematahkan hatiku. Jika kau membuatku patah hati sekali lagi, aku harap kau bisa membuatku jatuh cinta lagi. Bisakah kau melakukannya terus. Maka aku akan menulis terus, lagi, dan selamanya.
March 04, 2016 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose