Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

Saya baru saja membuat garis batas. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk saya sendiri

Sebuah garis, sebuah batas. Berharap bisa melindungi dari segala macam yang bisa menghancurkan.
Bukannya saya takut tantangan, Mulia. Saya hanya tak ingin menghabiskan tenaga saya untuk meladeni mereka yang tak menghargai saya sebagai manusia.
Saya tahu saya salah, Mulia. Saya meminta maaf untuk salah saya. Mulia pun akan memaafkan saya, bukan?

Sebuah garis, sebuah batas. Saya lelah melompat.
Berjalanlah, saya dengar Mulia mengatakan itu pada saya. Menjadi kuat bukan berarti tak pernah terluka. Saya memberanikan diri terluka. Hanya saja kadang, saya tak ingin terluka di tempat yang sama dengan sebab yang sama. Saya bodoh jika saya membiarkan itu terjadi. Bukan begitu, Mulia?

Sebuah garis, sebuah batas. Saya mengambil arah lain.
Bijakkah, Mulia? Bolehkan saya mengambil arah lain? Padahal saya pernah berjanji untuk tetap berada di tempat saya. Tapi saya mulai lelah, tempat itu mulai tak nyaman. Mulai membuat saya sakit di tempat yang sama. Saya akan pergi, Mulia. Sejauh-jauhnya pun tak masalah, asalkan Mulia ada di samping saya. Itu sudah cukup.

Sebuah garis, sebuah batas. Saya hanya punya Mulia.
March 22, 2014 No comments

Ada yang enggan meninggalkan pekat. Ada pula yang memejamkan mata menunggu kejutan matahari. Adakah kamu diantaranya untuk merindu Tuhan?

September 05, 2013 No comments


Adelaide Sky by Adhitia Sofyan, saya tidak tahu kenapa saya tidak bisa berhenti memutar lagu ini di playlist saya. Tapi saya begitu hanyut dalam nuansa musik yang disajikan Adhitia ini. Saya serasa menjadi seseorang yang ada didalamnya, dimana saya menunggu seseorang yang sedang pergi.
Menunggu itu mungkin tak pernah ada habisnya untuk dituliskan atau dibicarakan. Begitu banyak emosi yang terlibat dalam suatu hal yang bernama menunggu. Bagi saya, tak ada yang salah dengan menunggu dan tak akan pernah bisa dihindari.
Dalam menunggu, saya selalu bisa dengan jelas membayangkan apa yang saya tunggu. Jika saya menunggu seseorang, bayangan wajahnya akan tercetak jelas di pikiran saya, bahkan mungkin di pupil mata saya. Saya akan terus mengingat hal - hal yang pernah saya lalui bersama dia, entah itu yang membuat saya kesal setengah mati atau yang membuat saya terbahak-bahak. Saya selalu punya cadangan memori jika harus mengenang seseorang. Ketika menunggu saya selalu merasa bingung dan cemas, harapan selalu tersempil saat saya menunggu. Selalu ada pertanyaan, apakah saya harus terus menunggu ataukah saya harus berhenti.
Dalam menunggu juga selalu ada pertanyaan, sedalam apakah saya mencintai apa yang sedang saya tunggu dan mengapa saya hampir selalu memilih untuk tetap menunggunya. Saya tak pernah tahu jawabannya, mungkin jika saya tahu saya akan berhenti mencintainya dan mungkin juga berhenti menunggu. Saya tidak ingin itu terjadi, jika saya tidak mencinta dan tidak menunggu hidup saya pasti akan sepi sekali.
Lagi-lagi saya memutar lagu ini, ah saya tidak tahu. Mungkinkah saya merindukan dirimu? Mungkinkah saya sedang menunggu kamu?
May 08, 2012 No comments
Hari itu 22 Juli 2011, pukul 4 sore waktu Jakarta. Saya baru saja keluar dari kantor, tempat magang saya. Terburu - buru, dipenuhi rasa senang dan rindu. Saya akan pergi ke Bandung, mengunjungi salah satu cinta saya, salah seorang dimana saya selalu memiliki alasan untuk berjuang. Saya akan mengunjungi kakak saya hari itu.

Begitu sampai rumah, saya melakukan segala sesuatunya dengan cepat. Mulai dari packing hingga menginjakkan kaki ke jalan. Entah mengapa tinggal di kota yang serba terburu-buru dan cepat ini, membuat saya melakukan hal yang sama. Cepat dan terburu-buru. Maklum saja, saya pikir saya harus sampai di shelter travel satu jam lebih awal, macetnya Jakarta tidak bisa dikompromi bukan?

Rumah tempat tinggal sementara saya di daerah Rawamangun, shelter travel ada di daerah Cempaka Mas. Lumayan jauh, dan ongkos taksi akan sangat mahal ditengah macetnya Jakarta sore ini. Jadi saya putuskan naik metro mini, lalu ojek menuju ke sana. Panas, lengket, dan berdebu. Tapi tak menyurutkan buncah di dada.

Travel yang membawa saya ke Bandung berangkat pukul setengah tujuh. Saya punya waktu yang cukup untuk sholat maghrib dan sedikit mengamati sekitar saya. Dalam waktu menunggu itulah saya teringat seseorang yang hingga hari itu masih ada dipikiran saya.

Tiba - tiba saya begitu merindukan dia waktu itu, ingin tahu bagaimana kabarnya. Tanpa pikir panjang, saya mengeluarkan ponsel dan mengetik untuk dia. Lalu dimulailah percakapan singkat, melalui sms. Saya lega mengetahui kabarnya, dan saya mulai berpikir tentangnya.

Berbagai pertanyaan mulai hadir di benak saya. Pertanyaan utamanya adalah, mengapa saya selalu peduli sama dia, padahal dia belum tentu masih peduli sama saya. Pertanyaan rentetan berikutnya adalah, mengapa saya yang selalu lebih dulu menanyakan 'apa kabar', mengapa begitu cepat pedulinya pada saya hilang, mengapa tidak pernah menanyakan tentang saya lagi. Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Berkali-kali menghela napas. Berkali-kali pula tak mampu menjawabnya. Hingga akhirnya saya harus naik ke travel, menuju Bandung. Perjalanan selalu membuat saya mampu berpikir jernih, mampu menguraikan kusutnya otak saya. Tapi tidak di perjalanan ini. Pada akhirnya saya memilih untuk menghilangkan bosan dengan menulis pesan singkat kepada sahabat saya di Malang, dan seorang sahabat saya yang sedang berada di KL untuk 'bertugas'.

Dua jam kemudian, saya sampai di Bandung. Waktu itu kakak saya langsung menjemput, jadi tak perlu menunggu lama di tanah asing. Dan saya sangat lega bertemu dengannya, karena saya tahu saya berada di tangan yang tepat. Kakak saya pun membawa saya ke tempat kosnya, di daerah Siliwangi yang padat.

Begitu tiba di tempat kosnya, saya langsung mengangguk-anggukan kepala. 'Jadi seperti ini kehidupanmu di sini, Mas.' benak saya berkata. Kamar kos itu sangat sempit, berukuran 2x2 meter, tanpa dipan, hanya kasur tipis dan karpet. Disatu sisi dindingnya penuh dengan meja dan lemari mungil. Mejanya berantakan, ada laptop, buku2. Di kolong mejanya ada masih padat dengan buku dan kertas-kertas, ada juga satu toples berisi biskuit cokelat, temannya saat mengerjakan tugas. Di sisi lain tembok kamarnya, ada setumpuk barang yang diletakkan di kardus, termasuk beberapa baju. Lalu ada magic com dan peralatan makan yang sudah di cuci. Satu-satunya pikiran yang mampir adalah, kakakku tidak pernah berubah, dia selalu sama, selalu sederhana. Salah satu alasan saya sangat menghargainya.

Dia menanyakan pada saya mau jalan-jalan kemana. Saya dengan cepat menjawab, 'ke Kawah Putih atau Tangkuban Perahu.' Dia mengernyit, lalu menjelaskan bahwa kedua tempat itu berada di daerah berbeda dengan jarak tempuh yang jauh dan memakan waktu. Satu di selatan, dan satu di utara. Akhirnya saya memilih ke Kawah Putih saja. Akhirnya saya pun menemaninya mengerjakan tugas sambil ngobrol hingga tengah  malam, sebelum akhirnya dia pindah ke kamar lain, supaya saya bisa menguasai kamarnya dengan leluasan. It is gentle, huh?!

Malam berlalu lambat, dan dingin. Menusuk hati, hingga mungkin bisa patah.

Pagi buta yang dingin itu mampu membangunkan saya, selain suara adzan yang langsung menembus tembok kamar kos yang memang menempel dengan masjid kampung. Air wudhu yang dingin langsung menusuk tulang, tapi tak cukup mampu membuat mata saya melek seratus persen. Akhirnya setelah sholat pun, saya melanjutkan tidur hingga pukul 6 pagi. Waktu itu kakak saya membangunkan saya dan mengajak jalan-jalan ke ITB, kampus kesayangannya. Saya menurut, apa salahnya menghirup udara segar di Bandung sebelum kembali pada Jakarta yang berdebu.

Jalan-jalan bersama kakak saya, membuat saya lebih mengenalnya dari yang pernah saya tahu selama ini. Ternyata dia tak pernah benar-benar belajar tentang politik kampus, tidak seperti saya yang memang beruntung bisa mempelajari itu meskipun masih dangkal. Mimpinya tentang bisnis yang sedang dikembangkannya. Kehidupan di kampusnya.

Dia membawa saya masuk ke kampus, padahal waktu itu saya hanya memakai celana training dan kaus. Tapi waktu itu kan hari sabtu, jadi saya cuek saja. Dia menjadi guide tour dadakan bagi saya. Menunjukkan gedung - gedung disekitar kami, menunjukkan titik gema buatan di ITB, menunjukkan not-not Indonesia Raya yang dibuat dari ubin di sebuah kolam hias. Dia tidak lupa menunjukkan pada saya dimana dia kuliah. Saya hanya bisa mengangguk - angguk, sejujurnya pikiran saya ada ditempat lain saat itu.

Pukul sepuluh pagi dia mengantarkan saya ke Kawah Putih, membonceng saya dengan motor pinjaman yang STNK-nya masih diurus perpanjangannya. Ditambah lagi, dia tak pernah benar-benar tahu jalan ke Kawah Putih. Jadilah kami ke Kawah Putih tanpa STNK dan tanpa pernah benar-benar tahu arahnya. Seperti yang sudah saya duga, ada razia dadakan dan kami kena tilang. Seratus ribu pun melayang. Dan berkurang pula hasrat belanja di Kota Belanja ini.

Perjalanan ke Kawah Putih sangat menyenangkan. Seperti jalanan di daerah Batu dan sekitarnya. Berkelok-kelok, memanjakan mata dengan kebun stroberinya. Bukan dingin menusuk, tapi sejuk yang menyenangkan. Saya hanya berbekal pashmina sebagai penghangat tubuh waktu itu. Berwudhu dengan air gunung yang sejuk dan melimpah siang itu, membuat saya mencintai tempat itu seketika. Dan saya berjanji, saya akan kembali lagi.

Memasuki kawasan wisata Kawah Putih ternyata tidak semulus yang saya pikir. Kami harus melalui jalanan yang tidak mulus, berkelok, sekaligus menanjak. Tapi karena saking senangnya, saya tidak mengeluh sedikitpun. Saya ingin segera sampai di puncak, lalu mengagumi.

Inilah keajaiban itu (23 Juli 2011)
Kawah Putih. Tempat yang membuat saya terdiam sejenak saking takjubnya. Hijau, biru, dan putih menjadi satu. Asap kawah yang tipis, seperti selimut yang membungkus pemandangan menakjubkan itu. Saya pun menemukan diri saya jatuh cinta sekali lagi. Jatuh cinta pada tempat itu, dan jatuh cinta pada penciptanya. Hati saya membuncah, dipenuhi rasa bersyukur. Hilang sudah kekusutan otak yang sempat mampir, bahkan saya bisa melupakan dia pada saat itu. Benar-benar lupa. Saya sedikit tidak percaya, tapi itulah adanya. Saya menemukan sedikit titik terang tentang dia akhirnya.

Saya memanfaatkan camera pocket kesayangan saya dengan maksimal, jepret sana jepret sini. Tak melewatkan satu spot pun. Kakak saya menjadi juru jepret, dia tak pernah mau diabadikan dalam memori foto. Kalaupun mau, pasti ditutup bagian wajahnya. Lucu tapi menjengkelkan juga.
Salah satu 'harta karun' di Kawah Putih (23 Juli 2011)

Lalu dia mengajak saya ke Danau Situ Patengan, yang ditengahnya ada sebuah pulau kecil yang dinamakan Pulau Cinta. Saya sangat geli dengan nama itu. Bagaimana mungkin masih ada orang yang menamakan suatu tempat dengan nama rasa hati. Tapi saya penasaran juga, bagaimana bisa dinamakan Pulau Cinta. Ternyata memang bentuknya seperti hati, dan konon jaman dahulu pulau itu menjadi tempat pertemuan sepasang kekasih yang sedang merindu. Oh my God... ternyata ada juga cerita semacam ini. 

Danau Situ Patengan dengan Pulau Cinta-nya (23 Juli 2011)
Pulau itu bisa diakses dengan menyewa sebuah perahu mesin untuk sampai ke sana. Kakak saya menawarkan untuk kesana, tapi saya menolak. Biaya sewa perahu untuk satu orang saja cukup mahal, sekitar tiga puluh ribu. Lagipula saya tidak tertarik kesana. Akhirnya kami berdiam diri di pinggir danau, menikmati kemilau air yang ditempa sinar matahari. 

Sepulang dari Situ Patengan, saya dimanjakan dengan pemandangan kebun teh yang tak berbatas. Benar-benar menyenangkan. Dan tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan itu begitu saja, beberapa jepretan berhasil diambil. Saya puas. Kami pun kembali ke Bandung.

Kami tiba di Bandung tepat saat maghrib menjelang, Kakak saya mengajak ke Masjid Salman. Ah, masjid itu lagi. Ada perasaan rindu tak tertahankan, begitu mendengar nama masjid itu disebut. Saya masih ingat harum lantai kayunya dari pertama kali menginjak masjid ini tahun 2007 yang lalu, akhirnya pada 2011 saya kembali lagi ke tempat ini. Masih sama seperti saat pertama kali, masih menjanjikan kehangatan dan kedekatan pada Tuhan. Dan masih menjanjikan pelukan pada setiap orang yang datang. Termasuk saya.

Bersujud saat itu, seperti bercinta dengan Tuhan. Masuk ke dalam pelukannya, penuh rasa syukur.

Malam itu belum berakhir. Saya bertemu kawan lama, yang juga kawan kakak saya. Banyak kabar yang ditukar, banyak cerita yang dibagi. Dia pun mengajak kami menghabiskan malam minggu di CiWalk. Aku langsung menyetujuinya. Malam itu kami menjadi anak gaul Bandung yang nongkrong di mall hingga tengah malam. Kami duduk di pelataran mall, melihat pertunjukan musik yang hampir selesai. Dan seperti biasa, saya menikmati itu bersama kopi.

Pukul 12 tepat kami kembali ke tempat kos, kali ini aku menginap di kos kawan saya itu karena saya tidak rela ditinggal sendirian di tempat kos kakak saya yang sepi, sementara dia berencana menginap juga di tempat kawan kami itu. Akhirnya kami tidur bersama di dalam kamar yang sempit itu, dan karena saya satu-satunya perempuan di tempat itu, saya bisa menguasai tempat terhangat, yakni kasur dengan dipannya. Thanks Dude!

Keesokan harinya, kami pergi ke Sabuga. Olahraga pagi. Sungguh, dua hari itu hidup saya berasa sehat dengan olahraga rutin selama dua hari. Meskipun akhirnya rasa kantuk membuat saya tetap tertidur setelah selesai olahraga pagi itu. Padahal jam menunjukkan masih pukul 9 pagi. Keterlaluan memang, tapi masa bodohlah.

Saya harus kembali ke Jakarta pukul setengah lima hari itu, dengan kereta. Tapi sebelumnya saya ingin diantar ke Kartika Sari untuk membeli sedikit camilan untuk keluarga di Jakarta. Kakak saya bersedia mengantar. Kartika Sari pada hari minggu menurut saya adalah pasar. Banyak orang dan sangat sesak. Semua berteriak minta dilayani. Antrian kasir lebih panjang daripada antrian di bank pada hari senin. Saya terjebak di sana dengan tiga potong brownies.

Pukul setengah empat sore saya sudah ada di stasiun. Kakak saya meninggalkan saya di sana, kembali lagi ke kehidupan normalnya tanpa saya. Saya harus bersabar selama sebulan lagi, untuk bertemu dengan dia saat lebaran nanti. Yaitu saat dia kembali ke rumah.
Stasiun Bandung (24 Juli 2011)
Stasiun, bagi saya adalah rumah saya yang lain. Saya mampu menemukan kedamaian disana, sekaligus menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang saya ajukan. Kali ini saya menemukan jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan pada hari saat saya berangkat ke Bandung. Saya memutuskan sesuatu. Titik terang yang saya temukan sebelumnya saat berada di Kawah Putih membuat saya yakin, bahwa saya memang perlu melepaskannya. Tak perlu lagi membawanya ke dalam kehidupan saya yang serba absurd itu. Karena saya tahu hidupnya begitu tertata, dan penuh kepastian, tidak seperti saya yang serba spontan dalam melakukan sesuatu. Saya bukan tak ingin bejuang, tapi saya tidak ingin berjuang demi orang yang tidak berjuang demi saya juga. Egois memang, tapi saya ingin menyelamatkan hati saya dari ketidakpastian. Saya ingin hati saya bebas.

Saya menemukan cinta yang lebih dari yang saya rasakan pada saat itu. Dia ada di sekitar saya, memeluk saya lebih erat. Melepaskan bukan berarti membiarkan pergi, tapi menyelamatkan dari sakit yang seharusnya tak perlu dirasakan. Melepaskan juga bisa berarti berdamai dengan hati.

Pada akhirnya saya memeluk cinta lagi hari itu.
March 03, 2012 No comments
I trust you is a better compliment than I love you. Because you may not always trust the person you love, but you always love the person you Trust (anonim)
Hei, bagaimana jika aku bilang aku percaya padamu?
Apakah kau juga percaya?
Masih ingat saat kelingkin kita bertaut? Saling berjanji, saling percaya.
Masihkah kau ragu saat aku bilang aku percaya padamu?
Tidak, jangan pernah ragu. Dan jangan pernah menanyakan alasannya.
Aku tak pernah tahu alasannya, dan tidak pernah ingin mencari tahu.
Jadi percaya saja padaku, seperti aku percaya padamu.
Tak usah mencari alasan, lakukan saja.
Mimpimu, mimpiku.
Berjanjilah, untuk percaya pada mimpimu.
Lalu kau bisa mencintai mimpimu lebih dari kau mencintainya sekarang.
Lalu kau bisa mencintai seluruh dunia, dan menggenggamnya.
February 20, 2012 No comments
Inspirasi tak perlu dicari, dia selalu ada, hanya saja kita perlu lebih peka untuk menangkapnya. (dee-2011)
tik tok .... tik tok...
berpacu dengan waktu
dug,... dug... dug... dug.... dug...
berpacu dengan kehidupan
kamu selalu ada, tak pernah kemana-mana.
tes... tes... tes....
menghitung titik-titik air yang jatuh
aku mencarimu
bukankah itu bodoh?
padahal kamu selalu ada, tak pernah kemana-mana
kamu menunggu, menungguku menoleh, lalu mendekapmu
tik tok... tik tok...
aku menemukanmu, dalam dekapanku
January 27, 2012 No comments
"Bagimu aku adalah pendosa, yang meminum arak kehidupan dan mabuk akan puisi cinta"

Kau dan aku, memiliki dunia yang tak sama, meskipun bernafas dengan udara yang sama. Lagi-lagi tentang dunia, dunia yang cukup menjadi alasan bagiku untuk menilai bahwa kita berbeda.
Kau, dengan dunia para orang suci, menjauhi arak kehidupan dan menghindari puisi cinta. Aku, dengan dunia para pendosa, yang meminum arak kehidupan dan mabuk akan puisi cinta.
Duniamu memainkan peran dalam dunia warna kepentingan yang tak pernah ingin ku injak, hanya karena aku takut kehilangan rasionalitas dan rasa dalam jiwa. Duniaku memainkan peran dalam kehidupan warna warni duniawi, menyuguhkan segala macam asa dan penghiburan bagi pesakitan, menyuguhkan luka tanpa harus berbohong.

Aku mencoba bersahabat dengan duniamu, masuk ke dalamnya, namun tak terlalu dalam. Aku ingin tahu, aku ingin merasakan, dan aku ingin memahami, hingga aku bisa memandang segala hal dari sudut pandang yang berbeda. Tak menghakimi dan tak memaki. Aku bersahabat dengan para orang suci, hingga akhirnya aku terluka sendiri.
Hanya sebuah alasan sepele, namun entah mengapa membuatku begitu terluka. Aku merasa seperti orang asing dalam dunia yang mulai ku kenal dan ingin kujajaki. Aku mendapati kalian memiliki karakter yang sama dengan para pendosa, dimana kalian juga mabuk, hanya saja kalian begitu rapi menutupinya. Aku terluka ketika mendapati kalian 'menghujat' orang-orang yang menjadi lawan dalam lapangan permainan kalian. Aku kehilangan eksistensi makna orang suci yang selalu diagung-agungkan.

Aku merasa terasing, hingga akhirnya aku bersimpuh dengan darah dari luka yang aku timbulkan sendiri.

Aku melakukan penghakiman yang seharusnya tak pernah ku lakukan, dan aku menyesal melakukannya. Tapi tolong, tengoklah mengapa aku melakukan penghakiman itu? Mengapa aku berbalik menjauh? dan mengapa aku merasa terasing kemudian pergi?

Aku mengagumi kalian yang mampu mencintai tanpa dosa. Aku mengagumi perilaku kalian yang selalu jauh dari dosa. Mengagumi setiap tujuan mulia dalam setiap langkah yang kalian tapaki. Mengagumi setiap hasil atas perjuangan kalian. Tapi, ah, ternyata kalian juga manusia biasa, seperti aku. Hanya saja aku begitu muak dengan topeng yang kalian kenakan, dimana kalian menyembunyikan kemabukan tingkat tinggi daripada pendosa seperti kami. Dan kalian menyebut kejujuran cinta kami sebagai bagian dari zina yang tak pernah ingin kalian sentuh. Aku menemukan setiap langkah kalian berdasarkan pada tujuan atas identitas yang melekat, dan sering kali aku berpikir tidakkah kalian bisa melangkah dengan tujuan yang ikhlas tanpa identitas yang ada, melangkah sebagai makhluk Tuhan? Karena identitas yang melekat mengaburkan segala tujuan mulia itu bagi kami, para pendosa.

Aku memaknai cinta sebagai sesuatu yang diberikan tanpa syarat, dilakukan dengan tulus dan ikhlas, dan mampu berkorban. Aku memaknai cinta tanpa dosa sebagai sesuatu yang sakral dan tak pernah ada nafsu dan zina didalamnya. Oleh karena itu aku dan para pendosa mampu memilah antara keinginan untuk memiliki dan keinginan untuk memberi, bersikap jujur adalah salah satu cara kami untuk membedakan kedua hal itu. Aku menikmati setiap cinta yang ku berikan pada sahabat-sahabatku, memberikan segala yang aku miliki kepada mereka tanpa syarat, dan tanpa prasangka.

Aku dan kalian memiliki Tuhan yang sama dan menyembah dengan cara yang sama. Mungkin yang membedakan adalah cara aku dan kalian dalam mencintai Tuhan. Aku mencintai Tuhan dengan cara mencinta sesama dengan jujur, melangkah di jalannya dengan jujur, dan mencapai tujuannya tanpa identitas yang mengikat, hanya aku, sebagai makhluk Tuhan. 

Aku mencintai kalian, hingga aku tak peduli jika dianggap sebagai pendosa. Dan aku tak lagi peduli jika kalian menjauh, atau mungkin aku yang akan pergi sebelum terusir dari dunia kalian. Aku masih mencintai kalian, berharap mampu memahami mengapa aku bersikap begitu defensif terhadap kalian akhir-akhir ini. Aku tak meminta kalian memasuki duniaku, tak juga meminta kalian menengoknya. Aku masih ingin terus menghormati dan menghargai yang kalian pilih, hingga aku tak lagi bernafas. Aku masih ingin mencintai kalian, hingga tubuhku hancur bersama tanah. 


January 06, 2012 No comments
Sebuah jalan, lebar dan penuh batu. Kadang lumpur yang tergenang akibat hujan
Kadang mulus, kadang sangat terjal.
Merah, putih, kuning, dan hijau.
Akan sangat memukau jika terjalin bersama.
langit itu menakjubkan jika warna-warna itu berkesinambungan. membentuk dimensi lain yang mungkin ingin kutapaki
tapi tidak di jalan itu.
warna-warna itu berjalan sendiri-sendiri, menantang dan membebat satu sama lain.
kusut dan penuh lumpur. aku tak suka, aku jijik melihatnya.
lalu bagaimana ini? siapa yang akan merapikannya?
menjadikan warna-warna yang rapi dan indah
hingga aku terpukau lagi.
jalan itu berbatu
jalan itu berlumpur
tapi mungkin masih ada asa untuk menjadikannya seperti tangga pelangi

*untuk semua orang yang menapak jalan itu
*untuk sahabatku yang peduli untuk menjadikan jalan itu jalan terindah bagi hidupnya
December 06, 2011 No comments
"MENCINTAIMU ITU MENYAKITKAN. MAUNYA ADALAH SEGERA MELUPAKAN SEGALANYA, TAPI TERNYATA MEMANG TIDAK BISA. TERNYATA AKU MEMANG BUTUH WARNA DALAM HIDUPKU, SALAH SATUNYA ADALAH KAMU."
November 01, 2011 No comments
Apakah kau pernah ingin menanyakan kepadaku tentang bahagia? Apakah kau ingin merasakan bahagia? Apakah kau ingin menunjukkan apa itu bahagia dan bagaimana itu bahagia? Apakah kau pernah menentukan parameter bahagia? Aku yakin kau pernah menulis daftar-daftar tentang apa saja yang membuatmu bahagia dan aku yakin kau ingin sekali meraihnya.

Tapi tunggulah sejenak, pernahkah kau berpikir tentang hidup yang tak kau inginkan? Kau tahu, aku memikirkan itu setiap hari. Aku berpikir tentang hal-hal yang tidak kuinginkan dalam hidupku, yang membuat sebagian orang lain tidak merasa 'bahagia'. Seseorang pernah berkata padaku bahwa bahagia adalah pilihan, dan terluka juga merupakan pilihan. Tapi aku tentu saja memiliki pandangan lain tentang bahagia.

Bagiku, bahagia bukan lah mendapatkan hal terhebat. Bukan menjadi orang hebat yang mampu mengubah dunia. Bukan menjadi orang hebat yang dapat menginspirasi banyak orang. Bukan menjadi orang hebat yang ada dijajaran tahta. Bukan memiliki istana semegah Buckingham Palace. Bukan menjadi orang yang memiliki pekerjaan hebat. Dan bukan menjadi orang suci dalam agama.

Tidak, sesungguhnya aku tidak ingin menjadi seperti itu. Tidak ingin menjadi orang hebat. Tidak ingin memiliki istana ataupun tahta. Tidak ingin menginspirasi banyak orang. Karena aku memiliki parameter bahagia sendiri. Aku tahu apa yang aku inginkan.

Aku ingin menjalani hidup dengan baik. Menjalani hidup dengan rasa cinta yang tak terbatas. Ingin menjadi orang yang selalu peduli. Ingin menjadi orang yang selalu merendah. Dan ingin menjadi orang yang selalu bisa mengulurkan tangan ketika ada yang memerlukan, memeluk ketika ada yang perlu untuk dikuatkan, dan mendengar ketika ada yang ingin di dengar. Terlebih lagi, ingin menjadi orang yang selalu bersyukur. Karena aku tahu, bahwa aku begitu dicintai. Bahwa aku selalu mendapatkan yang terbaik dalam hidupku.

Aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ketika aku mampu melakukan itu semua. Ketika aku mampu mencintai sepenuh hatiku. Aku bahagia.

Lalu bagaimana jika aku terluka? Itukah yang ingin kau tanyakan selanjutnya? Tenang saja, aku akan terluka ketika hatiku mengijinkan untuk terluka. Aku akan terluka ketika aku dikecewakan, dan itu pasti. Bagaimana aku mengatasinya? Percayalah, aku mampu mengatasinya. Karena aku sudah berpengalaman tentang itu. Jangan khawatirkan aku.

Bahagialah bersamaku, kawan. Dan jangan khawatirkan apapun. Bahagialah bersamaku.
June 19, 2011 No comments


Aku tak penah tahu sebabnya mengapa malam ini begitu dingin dan membosankan. Hingga aku memutuskan menulis untuk mematahkan rasa bosan itu. Ya, menulis lagi. Tapi kali ini aku memutuskan menulis sesuatu yang benar, benar menurutku, tentu saja. :D
Well, kalian tahu permainan bernama puzzle? Kalian pernah memainkannya? Bagaimana rasanya ketika memainkan permainan tersebut? Menyenangkan? Pusing? Penasaran? Sedih? Marah karena tiap keping yang kau ambil tidak cocok?
Ya, begitulah bermain puzzle. Kau harus sabar menyusun setiap kepingnya. Sama seperti hidup.
Tapi tunggu dulu, aku tidak akan menganalogikan kehidupan dengan puzzle. Tapi aku akan menganalogikan satu babak kehidupan itu seperti bermain puzzle. Hampir sama memang, tapi tidak sama.
Satu babak kehidupan itu memiliki kepingan-kepingan yang harus disusun. Kepingan-kepingan itu acak, memiliki bentuk yang berbeda, dan masing-masingnya unik. Satu babak, hanya satu babak.
Dalam satu babak itu mungkin kita mengalami babak di mana kita harus menghadapi kesulitan menyusun puzzlenya. Mungkin kita penasaran akan apa yang dimaksudkan Tuhan kepada kita dengan babak yang harus kita jalani itu. Mungkin kita marah dalam menyusun kepingan-kepingannya, karena berkali-kali kita mengambil satu keping tapi ternyata tidak cocok dengan pola yang ada di papan puzzle. Mungkin kita terluka ketika ada yang mengacak-acak puzzle yang hampir tersusun sempurna. Dan pada akhirnya kita akan bersyukur ketika puzzle itu tersusun dengan sempurna.
Sama seperti satu babak itu. Ada rasa sedih yang menyelimuti, marah, hingga terluka yang mampu membuat kita jatuh tersungkur. Sama seperti hidupku, yang setiap babaknya aku menyusun puzzle satu babak itu. Demi mengetahui maksud Tuhan kepada setiap ujian yang aku jalani. Namun pada akhirnya aku bersyukur meskipun gambar yang aku lihat di puzzle itu bukan sesuai dengan harapanku. Namun setidaknya, aku telah berusaha menyusunnya.
Kehidupan dalam satu babak itu sederhana, hanya harus memilih kepingan mana yang harus kau letakkan dalam papan puzzle itu. Kepingan yang tak selalu cocok, namun yang penting adalah tidak menyesali keputusan untuk mengambil kepingan itu, karena setidaknya kau sudah mencoba mencocokannya.
Kehidupan dalam satu babak terlalu berharga untuk disia-siakan dengan terkubur dalam perasaan terluka, dan terlalu berharga untuk dibuang sia-sia dengan kemarahan tiada batas. Hidup yang berharga harus senantiasa disyukuri untuk menatap babak lain yang sudah dipersiapkan.
May 08, 2011 No comments
Aku tidak pernah merasa sesendiri ini selama hidupku. Dan saat ini akhirnya aku merasakan apa itu sendiri. Tak ada yang batu karang untukku bersandar ketika butuh kekuatan. Tak ada pohon untukku sekedar bersandar sambil memeluk kedua kakiku untuk menangis. Yang ada hanyalah aku, sendiri, ditengah padang rumput yang gersang dan panas.
Aku kehilangan kompasku. Tak tahu harus ke mana jalan pulang, bahkan aku tak yakin apakah aku punya rumah. Aku mulai kesakitan karena matahari begitu terik, panas, dan membakar kulitku. Perih rasanya. Aku panik! Aku harus ke mana?!
Aku pun berlari, tentu saja tanpa alas kaki karena aku memang tidak punya. Berlari dan terus berlari, tanpa arah, hingga peluh turun deras melalui pelipisku. Napasku terengah-engah, dan dadaku sakit saat mengambil napas berikutnya. Aku bingung, mencari sesuatu yang aku tak tahu pasti apa yang aku cari. Tentu saja aku masih sendiri.
Aku pun mendengar suaramu, lirih namun jelas. Memanggil namaku dengan cara yang tak pernah ku tahu. Aku berusaha mengatur napasku, untuk mendengar suaramu lebih jelas hingga aku tahu dari mana suara itu berasal. Tanpa membuang waktu aku menuju ke arah suaramu, berharap aku bertemu denganmu. Aku tak peduli, betapa lelahnya aku atau betapa sakitnya aku. Langkahku semakin cepat saat namaku kau sebutkan semakin jelas.
Langkahku semakin cepat hingga aku menemukan sebuah pohon, di mana suaramu tak lagi terdengar. Aku menghampiri pohon itu, mencarimu, tapi kau tak ada. Aku pun tertawa, ternyata hanya ilusi. Ilusi agar aku tak lagi merasa sendiri. Tawaku pun menjadi tangis, tangis tersedu-sedu. Aku memeluk diriku sendiri di bawah pohon itu, menangis sejadi-jadinya. Aku lega, meskipun untuk sesaat aku merasakan ilusi itu, aku lega.
Aku pun kembali sendiri, di jalanku. Dan lagi-lagi kau memanggil namaku. Aku tersenyum dan kembali berjalan ke arahmu, yang menungguku di sana.
April 23, 2011 No comments
What do I feel now?
aku tidak benar-benar tahu apa yang aku rasakan sekarang, eh tidak, semalam hingga hari ini. Tiba-tiba saja aku mendapat firasat kuat akan sesuatu. Sesuatu yang awalnya terus menerus aku tepis keberadaannya. Sesuatu yang membuatku benar-benar ingin hal itu menyingkir bahkan tak pernah ada dalam hidupku.
Aku mulai meyakini apa yang aku asumsikan selama ini. Aku mulai percaya bahwa rasa itu ada.
Entah mengapa tiba-tiba perasaan itu muncul, ada keyakinan dalam diri bahwa 'he is the one', bahwa 'he is for me'. Dan dalam waktu bersamaan, ada keraguan (lagi) yang muncul, hanya saja kadarnya sedikit.
Apa yang ku rasakan saat itu benar-benar kuat, sampai sekarang pun masih kuat. Begitu kuat, hingga aku tak mungkin menepisnya lagi. Tapi aku tak ingin hal ini menjadi tak masuk akal. Aku masih takut untuk berharap. Aku masih takut jika aku berharap maka aku akan jatuh dan sakit.
God, tolong aku...
March 14, 2011 No comments
AKU MULAI MEMBENCI RUMAH!!!!!!
March 13, 2011 No comments
semua menyerbu bagai kereta barang
menabrakku hingga tersudut ke pojok
membuatku jatuh
sakit
membuatku menghela napas berkali-kali
hanya untuk merasakan ilusi
ilusi yang tak menjadi nyata
mungkin memang harus menghela napas
atau rehat sejenak
dan sekali lagi merasakan ilusi

March 11, 2011 No comments
"Aku mengenalmu karena aku kau membuatku ingin lebih mengenalmu. Aku mengingatmu karena kepribadianmu, bukan karena apa yang sengaja kau tunjukkan padaku."
Sevy, 2010
February 12, 2011 No comments
Damn it!
Sejak pertama kali mendengar puisi ini, aku sudah jatuh cinta. Sederhana namun bermakna. Sederhana namun indah, dan yang jelas membuat melting para pendengarnya. Terbukti, beberapa teman langsung 'meleleh' begitu saya membacakan puisi ini.

Aku Ingin –Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Haaaassssshhhh!!!! Pak Sapardi, salut untuk Anda.

Love,
Sevy
February 10, 2011 No comments
Have you ever been in love? Horrible isn't it? It makes you so vunerable.
It opens your chest and it opens your heart and it means that someone get inside you and mess you up
You build up all these defenses, you build up a whole suit of armor so that nothing can hurt you
Then one stupid person, no different from any other stupid person wanders into your stupid life
You give them a piece of you, They didn't ask for it
They did something dumb one day, like kiss you or smile at you, and then your life isn't your own anymore
Love takes hostages. It gets inside you
It eats you and leaves you crying in the darkness
So simple a phrase like 'maybe we should be just friends' turns into a glass slointer working its way into your heart
It hurts, not just in the imagination, not just in the mind. It's a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain. I hate love.
January 24, 2011 No comments
Percakapan tweeps
@SevyKusdianita kamu si,,krn kamu belum percaya sepenuhnya tentang cinta, krn kamu takut, takut jatuh dan sakit...
@nitanitung aku mencoba tung, sugguh aku mencoba. tapi entah kenapa masih seperti itu, toh kamu juga tau aku mulai membuka hati. iya toh??
@SevyKusdianita membuka hati tapi belum percaya cinta, masih selalu bertanya kenapa,,hmmmm

Pecakapan di Illy cafe:
Dennis: gimana caranya skeptis sama cinta? kadang aku juga pengen seperti itu
Aku: Apa? *sigh. Skeptis sama cinta itu gak enak, trust me!

Ya, ku akui bahwa aku memang skeptis terhadap cinta, tapi tentu saja aku tidak skeptis akan keeksisan cinta. hanya saja aku masih pesimis untuk bertemu dengan cinta dan menjalani cinta.
Jika ditanya bagaimana rasanya, aku dengan lantang menjawabnya TIDAK ENAK. Benar-benar tidak enak hidup dengan keadaan sepeti ini. Bagaimana tidak, jika akhirnya aku harus dihadapkan dengan cinta seperti saat ini. Disatu sisi aku mengharapkannya, di sisi lain aku ingin menjauhinya. Yang ada hanyalah pertanyaan dengan kata tanya "kenapa" selalu muncul dalam benakku.

Ketika ada seseorang yang 'katanya' jatuh hati padaku, yang dengan 'mentah-mentah' aku mempercayainya, selalu ada pertanyaan yang kuajukan kepada mereka yang membuatku percaya dengan keadaan itu. Terlebih lagi kepada si Pemuda itu.
1. Why me?
2. Apa yang dilihat dari aku?
3. Why?
4. Why?

*sigh
Oh God, what's going on?????
sejujurnya aku lelah dengan keadaan ini
sangat lelah


January 21, 2011 No comments
Ya Allah
Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada Mu
agar bertambah kekuatanku untuk mencintai Mu

Ya Allah
Jika aku cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada Mu

Ya Allah
Jika aku jatuh hati, ijinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada Mu

Ya Allah
Engkau mengetahui hati ini telah terhimpun dalam cinta pada Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan jalannya, penuhilah hati kami dengan nur Mu. Lapangkanlah dada-dada kami dengan keimanan kepada Mu dan keindahan bertawakal di jalan Mu

*copy paste dari kata-kata dihalaman terakhir sebuah undangan pernikahan yang dikirim ke rumah tiga hari yang lalu ^_^
January 20, 2011 No comments
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose