Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

libur tlah tiba.... libur tlah tiba... hore hore hore HORE!!!!
Yap, saatnya membuat rencana-rencana untuk mengisi liburan kali ini
Pertama, menjamu teman yang datang ke rumah. (check)
sudah dilakukan sabtu lalu. Thanks to Mega Nisfa, Aridiah, dan Dennis. Hey guys, you have to come again!!
Kedua, merutinkan olah raga dan banyak minum air putih. Tiap hari minimal jalan kaki selama 30 menit.
Ketiga, baca buku yang super tebal. Dear Dunia Sophie, are you ready???!!! :D
Keempat, nyiapin 100 hari buat Ibu. Dear Ibu, doaku bersamamu tiap hari.
Kelima, bantu adek belajar tiap hari
Keenam, aktifkan menulis. Banyak ide-ide yang perlu ditulis Sevy... Ayo... kamu pasti bisa
Ketujuh, balik ke malang untuk bedah buku bersama Pak Habibie. "Bapak, tolong tanda tangani buku saya (red. Habibie-Ainun)"
*sebenernya janjian sama Dennis dan Nita untuk dateng bareng ke acara ini.
Kedelapan, nyiapin mental untuk liat IP semester ini. *Damn, I have a bad feeling for this
Kesembilan, minta duit ke ayah untuk bayar SPP
Kesepuluh, ngurus KRS
Kesebelas, masih mikir mau ngapain lagi..... =.=

So, here we go...
Dear Holiday, berbaik hati padaku yak??!!!
January 17, 2011 No comments
Mungkin kalian merasa bahwa ini adalah masalah klasik dan kalian bosan sekali mengdengarkan ataupun membacanya. Tapi entah mengapa aku masih merasakan hal ini, bahkan hingga saat ini.
Kehilangan membuatku berubah, mungkin untuk selamanya.
Aku lebih banyak berbohong, dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja padahal aku sakit didalamnya.
Mengatakan bahwa aku mampu mengatasinya, padahal aku merangkak dengan lutut yang sudah bersimbah darah.
Mengatakan bahwa aku tidak sendirian, padahal aku merasa sepi.
Jiwaku kosong melompong, tanpa isi.
Kehilangan beliau seperti kehilangan sandaran hidup
Kehilangan beliau seperti kehilangan jarum kompas.
Aku tak tahu lagi di mana arah utara
Aku tak tahu lagi ke mana aku memutar haluan kapalku
Aku tak tahu lagi ke mana harus pulang.

God, aku tak tahu lagi bagaimana aku harus melangkah
aku belum bisa menentukan langkahku

Aku benar-benar merindukannya
Dia yang selalu menjadi utara bagiku, hingga aku selalu tahu ke mana harus pulang
Tapi utaraku telah pergi, seperti matahari yang hilang tiba-tiba karena malam

Ibu, aku tak tahu lagi harus ke mana tanpamu
Aku kosong, hilang isi.
Aku tak tahu lagi harus ke mana....
December 04, 2010 1 comments
You and Me
dua subyek yang tentu saja berbeda, karena itu menyangkut aku dan kamu.
Aku dan Kamu
memiliki dunia yang berbeda, kita hidup di dunia yang berbeda
kamu dan identitasmu itu, hidup bersama mereka dan identitas yang sama dengan mereka.
aku dan identitasku, hidup dengan keyakinanku sendiri dan tentu saja itu tanpa kamu.
lalu, mengapa kau ingin 'menjadikannya' satu?
bukankah itu hal yang mustahil?
jika kau memang ingin 'menjadikannya' satu, mengapa kau pilih aku?
apa karena kau penasaran dengan duniaku? seperti halnya aku penasaran dengan duniamu?
apakah kau tidak menyadari bahwa itu tidak adil bagi aku dan bagimu?
apakah kau pernah berpikir bahwa sikapmu itu menyakitkan?
apakah kau pernah berpikir untuk menyingkir?
percayalah, aku ingin sekali menyingkir dari dirimu
sangat, dan sangat ingin
aku benci dirimu yang tidak dewasa
aku benci dirimu yang tidak jujur, bahkan pada dirimu sendiri
ketahuilah, aku sangat tidak menyukai orang yang tidak jujur terlebih kepada dirinya sendiri
kau adalah kau
dan aku adalah aku
jika kau ingin tetap 'menjadikan' duniamu dan duniaku menjadi satu, maka bolehkah aku tetap hidup di duniaku?
karena kau tahu, aku bahagia dengan duniaku
maaf, aku tidak ingin kau mengubah identitasmu itu
terserah kau dengan identitasmu dan duniamu
bagiku yang ada hanyalah aku dan kau, bukan kita
duniaku dan duniamu, bukan dunia kita
jadi, mari kita hidup di dunia kita masing-masing dan saling menghargai
jangan hakimi aku dan duniaku, sebelum kau benar-benar masuk ke kulitku dan menjalani kehidupan serta memandang dari sudut pandangku. karena kita berbeda.
November 17, 2010 No comments

Hujan,
Entah mengapa setiap kali kau datang berbagai macam pemikiran datang ke benakku. Bagaikan kereta barang yang berjalan cepat. Membuatku memikirkan banyak hal sekaligus.
Seperti saat aku memandangmu melalui jendela kereta api yang kusam dan berdebu yang tetap membuatku dapat melihatmu dengan jelas tanpa harus menghapus debu itu. Memang aku menyukai aromamu, yang membawa berbagai aroma kehidupan. Hanya dengan mencium aromamu, aku mampu melihat semua kehidupan yang juga kau lihat termasuk kehidupanku.
Aku memikirkan banyak hal sambil memandangku. Memikirkan kenangan-kenangan bahkan berangan-angan tentang masa depan.
Dengan memandangmu aku jadi tahu dan mengerti bahwa aku benar-benar kehilangan sosok orang yang sangat berarti dan ku cintai, yang memberiku cinta tanpa syarat, memberiku jantung dan nafasnya, dan memberiku banyak pelajaran hidup. Rasanya dadaku sesak saat aku menyadarinya, sesak sekali. Aku bahkan ingin sekali menangis dan berteriak, tapi entah mengapa selalu ada sesuatu yang mencegahku melakukkannya.
Dengan memandangmu aku teringat pada tanggung jawab yang sedang aku jalani. Aku seorang ibu sekaligus seorang kakak bagi gadis 11 tahun. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana menjadi ibu baginya, karena aku memang bukan ibu baginya. Tapi aku sadar bahwa aku memiliki perasaan sebagai seorang ibu. Perasaan khawatir terhadapnya, bangga terhadap kecantikan dan kedewasaan yang luar biasa yang dimiliki gadis seusianya, sedih terhadap apa yang telah terjadi pada kami yang pada akhirnya mengubah hidupnya untuk selamanya, dan terlebih lagi aku mencintainya hingga aku merasa tak ingin meninggalkannya barang sedetik pun.
Dengan memandangmu aku bermimpi mengenai masa depan. Tentang siapa diriku nanti, tentang apa yang akan kulakukan, dan tentang siapa yang akan menemaniku menghabiskan sisa waktuku. Aku memikirkan semua itu, termasuk memikirkan tentang gadis 11 tahun-ku. Akan seperti apa dia, dan bagaimana dia menjalani hidupnya.
Dengan memandangmu aku memikirkan betapa aku selalu lari dan menghindari perasaanku sendiri. Aku lari jika aku mulai ingin menangis, aku lari jika aku mulai ingin tertawa, aku lari jika aku mulai menyadari bahwa aku jatuh cinta. Aku selalu lari dan lari, bahkan ketika aku mulai memikirkan tentang dirinya. Dirinya yang memulai permainan rahasia tentang cinta, dirinya yang memiliki mata yang teduh yang seakan memahamiku, dirinya yang selalu memiliki lelucon untuk membuatku tertawa, dirinya yang membuatku sesak ketika mulai memikirkannya.
Oh Tuhan…. Aku lelah. Aku sangat lelah memikirkan semua ini. Tuhan, aku merindukan ibuku, sangat merindukannya, aku mencintainya, sangat mencintainya. Tuhan, aku ingin Kau bersamaku saat aku menjalankan semua tanggung jawabku. Jangan pergi dariku ketika aku senang, dan jangan pergi dariku ketika aku menangis. Tuhan, ku mohon jagalah perasaanku terhadapnya, aku tak ingin terjebak pada perasaan ini setidaknya hingga dia benar-benar halal bagiku dan aku halal baginya. Tuhan, ku mohon jagalah aku bersama hujan yang kau kirim…
October 31, 2010 No comments
Add caption
Aku tahu ini akan menjadi tulisan yang aneh, tapi inilah adanya tulisan ini.
here we go....

Saat ini aku sedang merasa bahwa aku memainkan sebuah permainan rahasia. It's about love, secret love maybe. Ya, aku sedang mengamati seseorang yang 'kutahu' juga sedang mengamati aku. Mungkin ini aneh bagi kalian yang membacanya. Atau mungkin kalian berpikir aku hanya kepedean alias ke GR-an. Bisa jadi seperti itu, tapi tak apalah.... aku menikmatinya.

Ya, orang ini benar-benar membuatku penasaran. Dia orang yang berbeda dengan orang yang pernah mengisi hatiku pada masa lalu. Berbeda 180 derajat dan lebih baik 180 derajat!
Dia memandangku saat aku tidak melihat kearahnya, begitu aku melihat ke arahnya aku bisa melihat kegugupan saat dia merasa kepergok. Aku bisa tahu dari sorot matanya.
Dia orang yang cuek, dan menurutku rikuh. Tapi aku suka kerikuhannya itu. Membuatku juga sungkan mendekatinya. Membuatku bertanya-tanya, apa yang diinginkannya dengan melakukan itu padaku.

Aku tidak berharap dia mengatakan sesuatu yang akan membuatku bingung menjawabnya. Aku tidak berharap seperti itu. Dan kalaupun dia mengatakannya, aku hanya ingin dia tahu bahwa mungkin aku juga ingin mengatakan hal yang sama.

Untuk saat ini, aku sedang menikmati permainan rahasia yang dilakukannya padaku. Aku ingin mengikuti alur permainan ini sehingga aku tahu bagaimana akhir permainan ini. Akankah berakhir bahagia, atau sebaliknya.

Dear yang di sana,
Aku suka permainanmu itu.
Aku akan mengikutinya dengan senang hati
^^
October 30, 2010 No comments
Aku tak pernah tahu akan menulis apa untuk tentang hal ini. Terlalu banyak hal yang ingin ku bagi tetapi juga terlalu banyak hal yang ingin ku simpan sendiri. Terlebih lagi terlalu banyak kesakitan yang aku rasakan jika membicarakan mengenai hal ini. Ah, tapi lupakan saja, toh aku juga menulisnya saat ini untuk kalian baca.

Aku baru saja kehilangan orang yang sangat, sangat, sangat, dan sangat berarti dalam hidupku.
Ibu...
Ibu...
Ibu...
Aku kehilangan ibuku...
Kematian memisahkan kami, kuasa Tuhan memisahkan kami.
Ibu yang selalu berada disampingku
Ibu yang menjadi kekuatanku
Ibu yang menjadi tempatku bersandar.
Ibu yang selalu membuatku memiliki alasan untuk pulang dan untuk mengabdi

Kini beliau telah pergi, menghadap sang Illah. Berjumpa dengan penciptanya.

Pada dasarnya semua manusia juga akan mengalami kematian. Berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, meninggalkan segala yang ia punya di dunia.
Ibuku meninggalkan kami (secara fisik), meninggalkan kami bersama kenangan-kenangan yang tak bisa dilupakan atau dihapus begitu saja. Ibuku meninggalkan cintanya untuk kami, dan entah kenapa aku tahu bahwa cinta itu tidak akan berhenti begitu saja. Karena pada saat aku senang aku selalu menyebut beliau, ketika sedihpun aku masih menyebut nama beliau. Seakan aku ingin beliau tahu, seakan aku ingin beliau mengerti, seakan aku ingin dipeluk.

Ibuku menderita kanker paru-paru selama setahun, beliau bertahan dan berjuang hingga akhir hanya demi kami.
"Mbak, kamu yang pinter ya," kata ibuku pada suatu sore, "Ikhlaskan Ibu," dua hari sebelum beliau benar-benar pergi. Aku hanya bisa mengangguk mendengarnya, menahan air mata supaya ibu tidak sedih melihatnya.
Hingga akhirnya ibu pergi.
Tak ada air mata, tak ada teriakan, dan tak ada penyesalan.
yang ada hanyalah rasa lega.
Lega karena ibu tidak perlu lagi menderita
Lega karena tahu bahwa ibu berada di tempat yang lebih baik
Lega karena aku tahu bahwa Allah SWT menyayanginnya
Karena aku diajarkan ikhlas
Karena aku diajarkan bersabar
Karena aku diajarkan bersyukur
"Ikhlas, sabar, dan bersyukur adalah kunci menjalani hidup" kata Ibu
Ibu meninggalkanku dengan tanggung jawab besar
mengurus, mendidik, dan membimbing adik perempuan yang beranjak dewasa
mengurus keperluan rumah seperti yang dilakukannya dulu
memastikan Ayah untuk menjalankan tugasnya tanpa rasa khawatir
dan pada akhirnya aku tahu Ibu meninggalkan aku karena aku dirasa sudah dewasa dan mampu melakukan segala yang pernah dilakukannya di dunia
Aku menemukan bahwa diriku telah dewasa

Ibu...
Ibu....
Ibu....
aku ingin kau bahagia disana
aku ingin kau tahu bahwa kami baik-baik saja
aku ingin kau menikmati hidupmu disana, setelah semua yang kau lakukan untuk kami
dan aku ingin tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu
bahwa aku benar-benar berterima kasih padamu tetang semua yang kau ajarkan padaku mengenai kehidupan
Ibu, sampaikan salamku padaNya... sampaikan terima kasihku padaNya karena telah mengizinkan aku bertemu denganmu
Ibu...
aku ingin seperti dirimu
menjadi luar biasa seperti dirimu
Ibu...
Ibu...
Ibu...
aku mencintaimu
October 28, 2010 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose