Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

In your light I learn how to love.
In your beauty, how to make poems.
You dance inside my chest,
where no one sees you,
but sometimes I do,
and that sight becomes this art. (1)





how very close
is your soul with mine
i know for sure
everything you think
goes through my mind

i am with you
now and doomsday
not like a host
caring for you
at a feast alone

with you i am happy
all the times
the time i offer my life
or the time
you gift me your love

offering my life
is a profitable venture
each life i give
you pay in turn
a hundred lives again

in this house
there are a thousand
dead and still souls
making you stay
as this will be yours

a handful of earth
cries aloud
i used to be hair or
i used to be bones

and just the moment
when you are all confused
leaps forth a voice
hold me close
i'm love and
i'm always yours (2)


Never be without rememberance of Him,
for His rememberance
gives strength and wings
to the bird of the Spirit.
If that objective of yours
is fully realized, that is
"Light upon Light"...

...But at the very least, by
practicing God's rememberance
your inner being
will be illuminated
little by little and
you will achieve
some measure of detachment
from the world. (3)



Joyful the moment when we sat in the bower, Thou and I;
In two forms and with two faces - with one soul, Thou and I.

The colour of the garden and the song of the birds give the elixir of immortality
The instant we come into the orchard, Thou and I.

The stars of Heaven come out to look upon us -
We shall show the moon herself to them, Thou and I.

Thou and I, with no 'Thou' or 'I', shall become one through our tasting;
Happy, safe from idle talking, Thou and I.

The spirited parrots of heaven will envy us -
Wen we shall laugh in such a way, Thou and I.

This is stranger, that Thou and I, in this corner here...
Are both in one breath here and there - Thou and I. (4)
June 19, 2011 No comments


Aku tak penah tahu sebabnya mengapa malam ini begitu dingin dan membosankan. Hingga aku memutuskan menulis untuk mematahkan rasa bosan itu. Ya, menulis lagi. Tapi kali ini aku memutuskan menulis sesuatu yang benar, benar menurutku, tentu saja. :D
Well, kalian tahu permainan bernama puzzle? Kalian pernah memainkannya? Bagaimana rasanya ketika memainkan permainan tersebut? Menyenangkan? Pusing? Penasaran? Sedih? Marah karena tiap keping yang kau ambil tidak cocok?
Ya, begitulah bermain puzzle. Kau harus sabar menyusun setiap kepingnya. Sama seperti hidup.
Tapi tunggu dulu, aku tidak akan menganalogikan kehidupan dengan puzzle. Tapi aku akan menganalogikan satu babak kehidupan itu seperti bermain puzzle. Hampir sama memang, tapi tidak sama.
Satu babak kehidupan itu memiliki kepingan-kepingan yang harus disusun. Kepingan-kepingan itu acak, memiliki bentuk yang berbeda, dan masing-masingnya unik. Satu babak, hanya satu babak.
Dalam satu babak itu mungkin kita mengalami babak di mana kita harus menghadapi kesulitan menyusun puzzlenya. Mungkin kita penasaran akan apa yang dimaksudkan Tuhan kepada kita dengan babak yang harus kita jalani itu. Mungkin kita marah dalam menyusun kepingan-kepingannya, karena berkali-kali kita mengambil satu keping tapi ternyata tidak cocok dengan pola yang ada di papan puzzle. Mungkin kita terluka ketika ada yang mengacak-acak puzzle yang hampir tersusun sempurna. Dan pada akhirnya kita akan bersyukur ketika puzzle itu tersusun dengan sempurna.
Sama seperti satu babak itu. Ada rasa sedih yang menyelimuti, marah, hingga terluka yang mampu membuat kita jatuh tersungkur. Sama seperti hidupku, yang setiap babaknya aku menyusun puzzle satu babak itu. Demi mengetahui maksud Tuhan kepada setiap ujian yang aku jalani. Namun pada akhirnya aku bersyukur meskipun gambar yang aku lihat di puzzle itu bukan sesuai dengan harapanku. Namun setidaknya, aku telah berusaha menyusunnya.
Kehidupan dalam satu babak itu sederhana, hanya harus memilih kepingan mana yang harus kau letakkan dalam papan puzzle itu. Kepingan yang tak selalu cocok, namun yang penting adalah tidak menyesali keputusan untuk mengambil kepingan itu, karena setidaknya kau sudah mencoba mencocokannya.
Kehidupan dalam satu babak terlalu berharga untuk disia-siakan dengan terkubur dalam perasaan terluka, dan terlalu berharga untuk dibuang sia-sia dengan kemarahan tiada batas. Hidup yang berharga harus senantiasa disyukuri untuk menatap babak lain yang sudah dipersiapkan.
May 08, 2011 No comments


Aku mungkin tak pernah tahu bahwa akan ada yang berbeda tentang kamu
Tentang aku, dan tentang kita
Aku mungkin tak pernah tahu awalnya bahwa kau menjadi istimewa
Istimewa karena kau ada, meski pada nyatanya kau masih menjadi angin yang tak pernah bisa kulihat namun ku rasa.
Untukmu, hanya sekedar tahu.
Demi segala rasa yang kau pendam untuk aku
Demi segala pedulimu untukku, hanya untuk memastikan aku baik-baik saja
Demi segala pedulimu yang tak pernah mau kau tunjukkan padaku, meski pada akhirnya aku tahu
Untuk memahamiku meski tidak pernah ku minta
Untuk mengerti tentang aku meski tak pernah aku bisa mengerti tentang kamu
Untuk hal-hal kecil yang selalu kau ingat, meskipun itu adalah hal sepele yang aku katakan padamu
Untuk mendengar
Untuk memperhatikanku dengan diam-diam, menjaga agar aku tak tahu
Untuk jatuh cinta padaku
Untuk menulis tentang aku di buku harianmu
Untuk senyummu
Untuk memaafkanku atas semua luka yang kuberikan
Aku tak pernah tahu bagaimana menjagamu, atau perasaanmu.
Aku tak pernah tahu bagaimana berterima kasih padamu
Dan aku tak pernah tahu bahwa kau adalah hal pertama yang kuingat setiap harinya dalam hidupku.
Terima kasih, karena menjadi istimewa tanpa pernah menjadikan dirimu istimewa.
May 08, 2011 No comments
Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang  tertutup. Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu  dengan cinta yang malu-malu.

 Aku dan kamu, seperti  hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan.  Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan.

May 05, 2011 No comments
Aku tidak pernah merasa sesendiri ini selama hidupku. Dan saat ini akhirnya aku merasakan apa itu sendiri. Tak ada yang batu karang untukku bersandar ketika butuh kekuatan. Tak ada pohon untukku sekedar bersandar sambil memeluk kedua kakiku untuk menangis. Yang ada hanyalah aku, sendiri, ditengah padang rumput yang gersang dan panas.
Aku kehilangan kompasku. Tak tahu harus ke mana jalan pulang, bahkan aku tak yakin apakah aku punya rumah. Aku mulai kesakitan karena matahari begitu terik, panas, dan membakar kulitku. Perih rasanya. Aku panik! Aku harus ke mana?!
Aku pun berlari, tentu saja tanpa alas kaki karena aku memang tidak punya. Berlari dan terus berlari, tanpa arah, hingga peluh turun deras melalui pelipisku. Napasku terengah-engah, dan dadaku sakit saat mengambil napas berikutnya. Aku bingung, mencari sesuatu yang aku tak tahu pasti apa yang aku cari. Tentu saja aku masih sendiri.
Aku pun mendengar suaramu, lirih namun jelas. Memanggil namaku dengan cara yang tak pernah ku tahu. Aku berusaha mengatur napasku, untuk mendengar suaramu lebih jelas hingga aku tahu dari mana suara itu berasal. Tanpa membuang waktu aku menuju ke arah suaramu, berharap aku bertemu denganmu. Aku tak peduli, betapa lelahnya aku atau betapa sakitnya aku. Langkahku semakin cepat saat namaku kau sebutkan semakin jelas.
Langkahku semakin cepat hingga aku menemukan sebuah pohon, di mana suaramu tak lagi terdengar. Aku menghampiri pohon itu, mencarimu, tapi kau tak ada. Aku pun tertawa, ternyata hanya ilusi. Ilusi agar aku tak lagi merasa sendiri. Tawaku pun menjadi tangis, tangis tersedu-sedu. Aku memeluk diriku sendiri di bawah pohon itu, menangis sejadi-jadinya. Aku lega, meskipun untuk sesaat aku merasakan ilusi itu, aku lega.
Aku pun kembali sendiri, di jalanku. Dan lagi-lagi kau memanggil namaku. Aku tersenyum dan kembali berjalan ke arahmu, yang menungguku di sana.
April 23, 2011 No comments
Hey Hujanku, apa kabarmu hari ini? Kau baik-baik saja? Bagaimana dengan amanah-amanah yang kau jalankan? Apakah sudah sesuai dengan apa yang kau inginkan?

Aku selalu tahu kau baik-baik saja, Hujanku, dan aku percaya kau akan selalu baik-baik saja. Aku mungkin tak akan pernah tahu ketika kau jatuh, karena kau tak ingin aku tahu itu. Hujanku, aku disini bersamamu jika kau menginginkannya.

Hujanku, kali ini aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sesuatu yang sudah lama ingin aku katakan, bahkan jika diberi kesempatan, aku ingin mengatakannya secara langsung padamu.

Hujanku, terima kasih karena kau telah peduli padaku, dengan tanpa alasan apa pun. Kau tahu, betapa itu berartinya bagiku? Sangat, sangat berarti. Kepedulian tanpa alasan itu, mampu membuat hatiku menjadi lebih sejuk dan tenang. Karena aku tahu bahwa hatiku tidak pernah sendirian lagi dengan adanya dirimu. Karena aku tahu kau akan menjagaku dengan caramu.

Aku tahu kau percaya padaku, bahwa aku lebih kuat dari yang aku kira. Bahwa aku bisa melewati semua ujian dariNya. Aku tahu kau percaya padaku, bahwa aku mampu meraih cintaNya dan kemudian meraih cintamu.

Hujanku, tapi aku takut. Aku takut sendirian. Aku takut aku tidak punya bahu untukku bersandar ketika aku lelah. Aku takut kau pergi seperti yang lain. Aku takut kau lelah menghadapiku, apalagi bertahan denganku. Dengan semua sifat kekanak-kanakaku, dengan sifat manjaku, dan dengan kelabilanku ketika aku jatuh. Aku takut kau meninggalkanku saat aku berada di saat paling buruk. Hujanku, aku takut.

Hujanku, apa kau sanggup menjadi batu karangku nanti? Apa kau sanggup menyediakan bahumu untuk tempatku bersandar ketika aku lelah nanti? Hujanku, apa bisa terus menjadi hujanku?

Sekali lagi, terima kasih karena peduli padaku dengan tanpa alasan. Hujanku, aku bersyukur tentang itu.

April 08, 2011 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose