Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

aku memandang gerimis sore ini, lewat kaca jendela yang sudah dingin
hanya desah napas dan tubuhku yang membuatnya hangat, lalu sedikit berembun
titik-titik air membasahi tanah, lalu menghantarkan jutaan bayang tentang kamu
tentang kamu yang pernah datang
tentang kamu yang pernah peduli
tentang kamu yang pernah tertawa bersamaku
tentang jalan yang kau pilih
tentang jalan yang aku pilih
tentang aku, kamu, lalu tentang dia
kemudian tentang punggungmu yang semakin jauh, atau barang kali tentang aku yang pergi
aku tidak pernah mengerti mengapa ada gerimis lalu hujan
mengapa ada hujan kemudian pelangi
sama seperti aku tak pernah bisa memahami mengapa kamu datang lalu pergi
sama seperti aku tak pernah bisa mengerti mengapa aku pergi darimu, namun kamu tak pernah menahannya
aku menanti gerimis berubah menjadi hujan
supaya aku bisa menarikmu lagi, berteduh disini bersamaku
supaya aku bisa bertanya padamu, 'Apa kabar, hujanku?'
lalu bertahan sejenak disini, sebelum dia kembali menjemputku
March 05, 2012 No comments
Hari itu 22 Juli 2011, pukul 4 sore waktu Jakarta. Saya baru saja keluar dari kantor, tempat magang saya. Terburu - buru, dipenuhi rasa senang dan rindu. Saya akan pergi ke Bandung, mengunjungi salah satu cinta saya, salah seorang dimana saya selalu memiliki alasan untuk berjuang. Saya akan mengunjungi kakak saya hari itu.

Begitu sampai rumah, saya melakukan segala sesuatunya dengan cepat. Mulai dari packing hingga menginjakkan kaki ke jalan. Entah mengapa tinggal di kota yang serba terburu-buru dan cepat ini, membuat saya melakukan hal yang sama. Cepat dan terburu-buru. Maklum saja, saya pikir saya harus sampai di shelter travel satu jam lebih awal, macetnya Jakarta tidak bisa dikompromi bukan?

Rumah tempat tinggal sementara saya di daerah Rawamangun, shelter travel ada di daerah Cempaka Mas. Lumayan jauh, dan ongkos taksi akan sangat mahal ditengah macetnya Jakarta sore ini. Jadi saya putuskan naik metro mini, lalu ojek menuju ke sana. Panas, lengket, dan berdebu. Tapi tak menyurutkan buncah di dada.

Travel yang membawa saya ke Bandung berangkat pukul setengah tujuh. Saya punya waktu yang cukup untuk sholat maghrib dan sedikit mengamati sekitar saya. Dalam waktu menunggu itulah saya teringat seseorang yang hingga hari itu masih ada dipikiran saya.

Tiba - tiba saya begitu merindukan dia waktu itu, ingin tahu bagaimana kabarnya. Tanpa pikir panjang, saya mengeluarkan ponsel dan mengetik untuk dia. Lalu dimulailah percakapan singkat, melalui sms. Saya lega mengetahui kabarnya, dan saya mulai berpikir tentangnya.

Berbagai pertanyaan mulai hadir di benak saya. Pertanyaan utamanya adalah, mengapa saya selalu peduli sama dia, padahal dia belum tentu masih peduli sama saya. Pertanyaan rentetan berikutnya adalah, mengapa saya yang selalu lebih dulu menanyakan 'apa kabar', mengapa begitu cepat pedulinya pada saya hilang, mengapa tidak pernah menanyakan tentang saya lagi. Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Berkali-kali menghela napas. Berkali-kali pula tak mampu menjawabnya. Hingga akhirnya saya harus naik ke travel, menuju Bandung. Perjalanan selalu membuat saya mampu berpikir jernih, mampu menguraikan kusutnya otak saya. Tapi tidak di perjalanan ini. Pada akhirnya saya memilih untuk menghilangkan bosan dengan menulis pesan singkat kepada sahabat saya di Malang, dan seorang sahabat saya yang sedang berada di KL untuk 'bertugas'.

Dua jam kemudian, saya sampai di Bandung. Waktu itu kakak saya langsung menjemput, jadi tak perlu menunggu lama di tanah asing. Dan saya sangat lega bertemu dengannya, karena saya tahu saya berada di tangan yang tepat. Kakak saya pun membawa saya ke tempat kosnya, di daerah Siliwangi yang padat.

Begitu tiba di tempat kosnya, saya langsung mengangguk-anggukan kepala. 'Jadi seperti ini kehidupanmu di sini, Mas.' benak saya berkata. Kamar kos itu sangat sempit, berukuran 2x2 meter, tanpa dipan, hanya kasur tipis dan karpet. Disatu sisi dindingnya penuh dengan meja dan lemari mungil. Mejanya berantakan, ada laptop, buku2. Di kolong mejanya ada masih padat dengan buku dan kertas-kertas, ada juga satu toples berisi biskuit cokelat, temannya saat mengerjakan tugas. Di sisi lain tembok kamarnya, ada setumpuk barang yang diletakkan di kardus, termasuk beberapa baju. Lalu ada magic com dan peralatan makan yang sudah di cuci. Satu-satunya pikiran yang mampir adalah, kakakku tidak pernah berubah, dia selalu sama, selalu sederhana. Salah satu alasan saya sangat menghargainya.

Dia menanyakan pada saya mau jalan-jalan kemana. Saya dengan cepat menjawab, 'ke Kawah Putih atau Tangkuban Perahu.' Dia mengernyit, lalu menjelaskan bahwa kedua tempat itu berada di daerah berbeda dengan jarak tempuh yang jauh dan memakan waktu. Satu di selatan, dan satu di utara. Akhirnya saya memilih ke Kawah Putih saja. Akhirnya saya pun menemaninya mengerjakan tugas sambil ngobrol hingga tengah  malam, sebelum akhirnya dia pindah ke kamar lain, supaya saya bisa menguasai kamarnya dengan leluasan. It is gentle, huh?!

Malam berlalu lambat, dan dingin. Menusuk hati, hingga mungkin bisa patah.

Pagi buta yang dingin itu mampu membangunkan saya, selain suara adzan yang langsung menembus tembok kamar kos yang memang menempel dengan masjid kampung. Air wudhu yang dingin langsung menusuk tulang, tapi tak cukup mampu membuat mata saya melek seratus persen. Akhirnya setelah sholat pun, saya melanjutkan tidur hingga pukul 6 pagi. Waktu itu kakak saya membangunkan saya dan mengajak jalan-jalan ke ITB, kampus kesayangannya. Saya menurut, apa salahnya menghirup udara segar di Bandung sebelum kembali pada Jakarta yang berdebu.

Jalan-jalan bersama kakak saya, membuat saya lebih mengenalnya dari yang pernah saya tahu selama ini. Ternyata dia tak pernah benar-benar belajar tentang politik kampus, tidak seperti saya yang memang beruntung bisa mempelajari itu meskipun masih dangkal. Mimpinya tentang bisnis yang sedang dikembangkannya. Kehidupan di kampusnya.

Dia membawa saya masuk ke kampus, padahal waktu itu saya hanya memakai celana training dan kaus. Tapi waktu itu kan hari sabtu, jadi saya cuek saja. Dia menjadi guide tour dadakan bagi saya. Menunjukkan gedung - gedung disekitar kami, menunjukkan titik gema buatan di ITB, menunjukkan not-not Indonesia Raya yang dibuat dari ubin di sebuah kolam hias. Dia tidak lupa menunjukkan pada saya dimana dia kuliah. Saya hanya bisa mengangguk - angguk, sejujurnya pikiran saya ada ditempat lain saat itu.

Pukul sepuluh pagi dia mengantarkan saya ke Kawah Putih, membonceng saya dengan motor pinjaman yang STNK-nya masih diurus perpanjangannya. Ditambah lagi, dia tak pernah benar-benar tahu jalan ke Kawah Putih. Jadilah kami ke Kawah Putih tanpa STNK dan tanpa pernah benar-benar tahu arahnya. Seperti yang sudah saya duga, ada razia dadakan dan kami kena tilang. Seratus ribu pun melayang. Dan berkurang pula hasrat belanja di Kota Belanja ini.

Perjalanan ke Kawah Putih sangat menyenangkan. Seperti jalanan di daerah Batu dan sekitarnya. Berkelok-kelok, memanjakan mata dengan kebun stroberinya. Bukan dingin menusuk, tapi sejuk yang menyenangkan. Saya hanya berbekal pashmina sebagai penghangat tubuh waktu itu. Berwudhu dengan air gunung yang sejuk dan melimpah siang itu, membuat saya mencintai tempat itu seketika. Dan saya berjanji, saya akan kembali lagi.

Memasuki kawasan wisata Kawah Putih ternyata tidak semulus yang saya pikir. Kami harus melalui jalanan yang tidak mulus, berkelok, sekaligus menanjak. Tapi karena saking senangnya, saya tidak mengeluh sedikitpun. Saya ingin segera sampai di puncak, lalu mengagumi.

Inilah keajaiban itu (23 Juli 2011)
Kawah Putih. Tempat yang membuat saya terdiam sejenak saking takjubnya. Hijau, biru, dan putih menjadi satu. Asap kawah yang tipis, seperti selimut yang membungkus pemandangan menakjubkan itu. Saya pun menemukan diri saya jatuh cinta sekali lagi. Jatuh cinta pada tempat itu, dan jatuh cinta pada penciptanya. Hati saya membuncah, dipenuhi rasa bersyukur. Hilang sudah kekusutan otak yang sempat mampir, bahkan saya bisa melupakan dia pada saat itu. Benar-benar lupa. Saya sedikit tidak percaya, tapi itulah adanya. Saya menemukan sedikit titik terang tentang dia akhirnya.

Saya memanfaatkan camera pocket kesayangan saya dengan maksimal, jepret sana jepret sini. Tak melewatkan satu spot pun. Kakak saya menjadi juru jepret, dia tak pernah mau diabadikan dalam memori foto. Kalaupun mau, pasti ditutup bagian wajahnya. Lucu tapi menjengkelkan juga.
Salah satu 'harta karun' di Kawah Putih (23 Juli 2011)

Lalu dia mengajak saya ke Danau Situ Patengan, yang ditengahnya ada sebuah pulau kecil yang dinamakan Pulau Cinta. Saya sangat geli dengan nama itu. Bagaimana mungkin masih ada orang yang menamakan suatu tempat dengan nama rasa hati. Tapi saya penasaran juga, bagaimana bisa dinamakan Pulau Cinta. Ternyata memang bentuknya seperti hati, dan konon jaman dahulu pulau itu menjadi tempat pertemuan sepasang kekasih yang sedang merindu. Oh my God... ternyata ada juga cerita semacam ini. 

Danau Situ Patengan dengan Pulau Cinta-nya (23 Juli 2011)
Pulau itu bisa diakses dengan menyewa sebuah perahu mesin untuk sampai ke sana. Kakak saya menawarkan untuk kesana, tapi saya menolak. Biaya sewa perahu untuk satu orang saja cukup mahal, sekitar tiga puluh ribu. Lagipula saya tidak tertarik kesana. Akhirnya kami berdiam diri di pinggir danau, menikmati kemilau air yang ditempa sinar matahari. 

Sepulang dari Situ Patengan, saya dimanjakan dengan pemandangan kebun teh yang tak berbatas. Benar-benar menyenangkan. Dan tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan itu begitu saja, beberapa jepretan berhasil diambil. Saya puas. Kami pun kembali ke Bandung.

Kami tiba di Bandung tepat saat maghrib menjelang, Kakak saya mengajak ke Masjid Salman. Ah, masjid itu lagi. Ada perasaan rindu tak tertahankan, begitu mendengar nama masjid itu disebut. Saya masih ingat harum lantai kayunya dari pertama kali menginjak masjid ini tahun 2007 yang lalu, akhirnya pada 2011 saya kembali lagi ke tempat ini. Masih sama seperti saat pertama kali, masih menjanjikan kehangatan dan kedekatan pada Tuhan. Dan masih menjanjikan pelukan pada setiap orang yang datang. Termasuk saya.

Bersujud saat itu, seperti bercinta dengan Tuhan. Masuk ke dalam pelukannya, penuh rasa syukur.

Malam itu belum berakhir. Saya bertemu kawan lama, yang juga kawan kakak saya. Banyak kabar yang ditukar, banyak cerita yang dibagi. Dia pun mengajak kami menghabiskan malam minggu di CiWalk. Aku langsung menyetujuinya. Malam itu kami menjadi anak gaul Bandung yang nongkrong di mall hingga tengah malam. Kami duduk di pelataran mall, melihat pertunjukan musik yang hampir selesai. Dan seperti biasa, saya menikmati itu bersama kopi.

Pukul 12 tepat kami kembali ke tempat kos, kali ini aku menginap di kos kawan saya itu karena saya tidak rela ditinggal sendirian di tempat kos kakak saya yang sepi, sementara dia berencana menginap juga di tempat kawan kami itu. Akhirnya kami tidur bersama di dalam kamar yang sempit itu, dan karena saya satu-satunya perempuan di tempat itu, saya bisa menguasai tempat terhangat, yakni kasur dengan dipannya. Thanks Dude!

Keesokan harinya, kami pergi ke Sabuga. Olahraga pagi. Sungguh, dua hari itu hidup saya berasa sehat dengan olahraga rutin selama dua hari. Meskipun akhirnya rasa kantuk membuat saya tetap tertidur setelah selesai olahraga pagi itu. Padahal jam menunjukkan masih pukul 9 pagi. Keterlaluan memang, tapi masa bodohlah.

Saya harus kembali ke Jakarta pukul setengah lima hari itu, dengan kereta. Tapi sebelumnya saya ingin diantar ke Kartika Sari untuk membeli sedikit camilan untuk keluarga di Jakarta. Kakak saya bersedia mengantar. Kartika Sari pada hari minggu menurut saya adalah pasar. Banyak orang dan sangat sesak. Semua berteriak minta dilayani. Antrian kasir lebih panjang daripada antrian di bank pada hari senin. Saya terjebak di sana dengan tiga potong brownies.

Pukul setengah empat sore saya sudah ada di stasiun. Kakak saya meninggalkan saya di sana, kembali lagi ke kehidupan normalnya tanpa saya. Saya harus bersabar selama sebulan lagi, untuk bertemu dengan dia saat lebaran nanti. Yaitu saat dia kembali ke rumah.
Stasiun Bandung (24 Juli 2011)
Stasiun, bagi saya adalah rumah saya yang lain. Saya mampu menemukan kedamaian disana, sekaligus menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang saya ajukan. Kali ini saya menemukan jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan pada hari saat saya berangkat ke Bandung. Saya memutuskan sesuatu. Titik terang yang saya temukan sebelumnya saat berada di Kawah Putih membuat saya yakin, bahwa saya memang perlu melepaskannya. Tak perlu lagi membawanya ke dalam kehidupan saya yang serba absurd itu. Karena saya tahu hidupnya begitu tertata, dan penuh kepastian, tidak seperti saya yang serba spontan dalam melakukan sesuatu. Saya bukan tak ingin bejuang, tapi saya tidak ingin berjuang demi orang yang tidak berjuang demi saya juga. Egois memang, tapi saya ingin menyelamatkan hati saya dari ketidakpastian. Saya ingin hati saya bebas.

Saya menemukan cinta yang lebih dari yang saya rasakan pada saat itu. Dia ada di sekitar saya, memeluk saya lebih erat. Melepaskan bukan berarti membiarkan pergi, tapi menyelamatkan dari sakit yang seharusnya tak perlu dirasakan. Melepaskan juga bisa berarti berdamai dengan hati.

Pada akhirnya saya memeluk cinta lagi hari itu.
March 03, 2012 No comments
aku pernah mendengar tentang bidadari, berparas ayu dan bersinar
matanya mampu menyihir siapa pun, membuat jatuh cinta setiap mata yang memandang
senyumnya mampu membuat setiap hati meleleh, rela memberikan apa pun untuknya
aku pernah mendengar tentang malaikat, yang bersayap maupun tidak
berparas teduh, seperti surga
setuhannya mengandung kelembutan surga, menjanjikan kebahagiaa abadi
tutur katanya memiliki keteduhan, menjanjikan kedamaian
sayapnya kokoh, menjanjikan perlindungan.
kadang aku iri pada mereka, iri pada pesona mereka, membuat setiap hati bertekuk lutut menginginkan cinta mereka
kadang aku ingin mendapatkan sedikit saja pancaran dari diri mereka, supaya aku memiliki keharuman yang diinginkan setiap manusia
tapi aku tahu, hati ini menolak menjadi seperti mereka. bahkan menolak menjadi salah satu diantara mereka.
aku tak ingin menjadi malaikat, karena aku akan selalu tergoda untuk pergi ke surga
tempat dimana seharusnya aku berada
aku tak ingin menjadi bidadari, karena aku akan selalu tergoda untuk terbang ke khayangan
tempat yang seharusnya ku sebut dengan rumah
aku tak ingin menjadi malaikat ataupun bidadari, karena aku tak ingin kau cemburu
aku tak ingin kau cemburu pada setiap mata yang menatapku, pada setiap hati yang menginginkanku
bagaimana bisa aku menjadi malaikat atau bidadari yang baik, jika aku sanggup membiarkanmu terbakar cemburu?
bagaimana bisa aku menjadi malaikat atau bidadari yang baik, jika aku tak sanggup pergi dari hadapanmu?
March 01, 2012 No comments
I trust you is a better compliment than I love you. Because you may not always trust the person you love, but you always love the person you Trust (anonim)
Hei, bagaimana jika aku bilang aku percaya padamu?
Apakah kau juga percaya?
Masih ingat saat kelingkin kita bertaut? Saling berjanji, saling percaya.
Masihkah kau ragu saat aku bilang aku percaya padamu?
Tidak, jangan pernah ragu. Dan jangan pernah menanyakan alasannya.
Aku tak pernah tahu alasannya, dan tidak pernah ingin mencari tahu.
Jadi percaya saja padaku, seperti aku percaya padamu.
Tak usah mencari alasan, lakukan saja.
Mimpimu, mimpiku.
Berjanjilah, untuk percaya pada mimpimu.
Lalu kau bisa mencintai mimpimu lebih dari kau mencintainya sekarang.
Lalu kau bisa mencintai seluruh dunia, dan menggenggamnya.
February 20, 2012 No comments
Hei kawan, masih ingat kita pernah berbicara tentang langkah? Saat kamu membicarakan tentang mimpimu dan saat aku tersenyum di sela-sela ceritamu.
masih ingatkah saat kita menggenggam tangan masing-masing dan melangkah bersama? Saat aku mengamit mesra lenganmu, dan saat kamu menempelkan dagumu di puncak kepalaku sementara kedua tanganmu kau masukkan ke dalam saku celana.
Masih ingatkah saat kamu merebahkan diri di pangkuanku, dan perlahan tertidur saat aku membacakan salah satu puisi tentang cinta dan kematian? Saat itu jemarimu tak sedetikmu melepaskan jemariku. Menahanku untuk tetap di sana.
Hah, sudah berapa lama sejak terakhir kali kamu membangunkanku di sela-sela tidurku yang nyenyak? Hanya untuk mendengar cerita tentang hari-harimu. Dan, sudah berapa lama sejak kita sama-sama menikmati hujan dari kaca jendela kafe sembari minum kopi dan makan cheese cake dibumbui perdebatan sengit tentang hidup?
Masih ingatkah kamu saat perlahan kau melepaskan jemarimu dari genggamanku, lalu meninggalkan spasi yang tak berbekas, kemudian melangkah.
Aku masih ingat, derap langkahmu yang semakin lama semakin tak terdengar. Punggungmu yang semakin menjauh, menjadikan dirimu tak kasat mata seiring jarak yang melebar.
Suratmu yang pertama dan terakhir, mengabarkan kau baik-baik saja, sedang menjalani mimpi katamu. Tak lupa kamu menanyakan, bagaimana kabarku dan apakah aku menangis saat kamu mulai melangkah.
Aku tersenyum membacanya, kemudian menuliskan balasan.
'Aku baik-baik saja, malaikat menjagaku dengan baik. Jangan khawatir. Dan aku juga tidak menangis saat kau melangkah. Karena aku tahu, kau akan bahagia.
Masih ingat janjiku, bahwa ketika kau menengok ke belakang kau tak akan pernah menemukan aku lagi? Aku menepatinya bukan. Itu karena aku tahu kau yakin, bahwa aku akan bahagia.
Kalau kau merindukanku, ingat saja hal-hal sederhana yang indah di sekitarmu. Aku di sana'
February 15, 2012 No comments
A heart must break... to know what will come.... (Marina K, 2008)
Entah harus istirahat, atau benar-benar patah
dan entah harus berhenti sejenak, atau berhenti sama sekali
aku tak pernah bisa memutuskan, untuk benar-benar membenci atau mencinta
hanya menuruti kata hati, sebuah keinginan kebanyakan, tanpa benar-benar tahu tentang kebutuhan
aku membutuhkan kamu untuk ku genggam tanganmu, tanpa pernah ku peluk
Karena aku tahu, memelukmu sama dengan menghancurkan
aku membutuhkan kamu untuk ku hirup aromamu, tanpa pernah ku cium
Menciummu sama dengan meremukkan dunia
Mungkin aku orang paling egois sedunia, menurutmu. Karena aku tak pernah memeluk cintamu.
Tapi pernahkah kamu sadar, ketika aku berhasil memeluk cintamu nanti, aku ingin mencium, lalu mencumbu cintamu. Aku tak ingin mencandu heroinmu, aku tak ingin meminum anggur dari gelasmu.
Jika kamu pikir, mencanduku adalah soal fisika paling rumit hingga Einstein pun tak mampu menyelesaikan. Maka mencadumu, adalah membaca Sigmud Freud yang tak pernah bisa kutamatkan.
Jangan pernah menyalahkanku, karena tak bisa memutuskan. Jangan pula menyalahkanmu, karena tak bisa menentukan.
Cukup seperti ini. Berjalan bersama, menggenggam tangan masing-masing, tanpa perlu saling menatap mata.
Cukup seperti ini. Berbicara dengan bahasa angin, berharap untuk paham.
Cukup seperti ini. Menunggu untuk tahu apa yang akan terjadi nanti.
Hanya menunggu.

February 11, 2012 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose