Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply



Adelaide Sky by Adhitia Sofyan, saya tidak tahu kenapa saya tidak bisa berhenti memutar lagu ini di playlist saya. Tapi saya begitu hanyut dalam nuansa musik yang disajikan Adhitia ini. Saya serasa menjadi seseorang yang ada didalamnya, dimana saya menunggu seseorang yang sedang pergi.
Menunggu itu mungkin tak pernah ada habisnya untuk dituliskan atau dibicarakan. Begitu banyak emosi yang terlibat dalam suatu hal yang bernama menunggu. Bagi saya, tak ada yang salah dengan menunggu dan tak akan pernah bisa dihindari.
Dalam menunggu, saya selalu bisa dengan jelas membayangkan apa yang saya tunggu. Jika saya menunggu seseorang, bayangan wajahnya akan tercetak jelas di pikiran saya, bahkan mungkin di pupil mata saya. Saya akan terus mengingat hal - hal yang pernah saya lalui bersama dia, entah itu yang membuat saya kesal setengah mati atau yang membuat saya terbahak-bahak. Saya selalu punya cadangan memori jika harus mengenang seseorang. Ketika menunggu saya selalu merasa bingung dan cemas, harapan selalu tersempil saat saya menunggu. Selalu ada pertanyaan, apakah saya harus terus menunggu ataukah saya harus berhenti.
Dalam menunggu juga selalu ada pertanyaan, sedalam apakah saya mencintai apa yang sedang saya tunggu dan mengapa saya hampir selalu memilih untuk tetap menunggunya. Saya tak pernah tahu jawabannya, mungkin jika saya tahu saya akan berhenti mencintainya dan mungkin juga berhenti menunggu. Saya tidak ingin itu terjadi, jika saya tidak mencinta dan tidak menunggu hidup saya pasti akan sepi sekali.
Lagi-lagi saya memutar lagu ini, ah saya tidak tahu. Mungkinkah saya merindukan dirimu? Mungkinkah saya sedang menunggu kamu?
May 08, 2012 No comments
Hei kamu, iya kamu. Apa perlu saya menyebutnya dengan gamblang bahwa kamu teman kencan saya? Ah, saya rasa kamu akan malu mendengar saya menyebutmu begitu. Baiklah, saya akan menyebut kamu saja. Iya, kamu saja sudah cukup.
Kemarilah sebentar, saya ingin menceritakan satu rahasia saya kepada kamu. Rahasia tentang apa yang saya rasakan ketika kita merencanakan untuk menghabiskan waktu, merencanakan kencan. 
Saya selalu bersemangat ketika kita mulai set a date, and have some dinner. Karena saya tahu saya akan memiliki waktu yang menyenangkan, bahkan tak jarang menjadi rumit. Hal itulah yang membuat hati berdebar-debar karena senang. 
Saya akan bingung memilih baju mana yang akan saya pakai, saya tidak ingin kelihatan berlebihan di mata kamu, tapi saya juga ingin terlihat cantik. Kemudian pada akhirnya, saya akan memilih pakaian yang nyaman untuk saya pakai. Kamu tahu kan, saya cenderung memilih apa pun yang saya nilai nyaman. Dan saya memilih menjadi diri saya sendiri saat akan kencan denganmu, karena saya tahu kamu menyukai saya yang menjadi diri saya sendiri.
Lalu saya akan berhati-hati menggunakan make up. Eh salah, saya tidak pernah pake make up. Cukup dengan pelembab, bedak, dan pelembab bibir saja. Sekali lagi saya tidak ingin merasa tidak nyaman. Saya ingin bebas ngobrol sama kamu nanti, jadi sekalian saja saya nyamankan diri saya.
Saya pun berhati-hati menyemprotkan parfum ke tubuh saya. Tidak banyak, tapi saya yakin akan membuat aroma saya menyegarkan hidung kamu. Semoga kamu tidak pilek, jadi bisa mencium aroma tubuh saya.
Kemudian saya akan berkali-kali melihat jam tangan yang sudah melingkar rapi di pergelangan tangan saya, menunggu waktu janjian kita dengan gelisah. Harap-harap cemas, sering kali takut juga kalau membayangkan kamu akan membatalkan janji di waktu-waktu terakhir. Kadang ponsel saya berdering, pesan darimu pun masuk, mengabarkan bahwa kamu akan sedikit terlambat menjemput saya. Tak apa, saya selalu menjawab begitu. Saya menunggu, dan kamu juga selalu tahu, bahwa saya akan tetap menunggu sampai kamu bilang jangan menunggu lagi. Kamu benar-benar memahami karakter saya.
Ketika kamu sudah ada di depan pagar rumah saya, saya selalu sumringah melihat wajah kamu. Apa kamu melihat semburat merah dipipi saya waktu itu? Ah, saya harap saya bisa menyembunyikan semburat merah itu. Saya terlalu malu, untuk urusan ini. 
Kita tidak pernah benar-benar merencanakan dengan jelas tujuan kita setiap kali kencan. Keputusan mendadak selalu tercipta. Seperti makan apa dan dimana. Saya tidak keberatan dengan itu, saya selalu ikut kemanapun kamu mengajak saya. Dan hebatnya, kita ini sama-sama pemakan segala. Jadi tidak akan susah mencari tempat makan yang sesuai dengan lidah kita. Selera kita tentang makanan hampir selalu sama.
Obrolan demi obrolan pun mengalir di sela-sela makan malam kita, entah itu tentang hal menyebalkan yang kamu alami atau cerita tentang kamu yang sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan cantik. Saya selalu suka mendengar ceritamu. Tak jarang, kamu yang mendengarkan cerita saya pada beberapa kencan kita. Cerita tentang tulisan saya, atau cerita tentang pria yang membuat saya jatuh cinta kemudian patah hati. Tak peduli cerita senang atau sedih, kita hanya menikmati waktu bersama. Berdua, hanya kita.
Tak jarang pula kita membicarakan tentang politik, topik yang cukup berat tapi bisa membuat kita bertahan lama di suatu tempat hingga lupa waktu. Pembicaraan kita selalu melibatkan cangkir kopi dan cangkir cokelat yang lama-lama menjadi dingin, tetapi obrolan kita semakin panas.
Saya selalu suka berbicara dengan kamu. Kamu selalu bisa membuat saya bertahan mendengar cerita kamu atau berbicara denganmu, sampai saya tidak ingin pulang. Apa kamu juga merasa seperti itu setiap kali kita kencan?
Saya juga senang ketika kita memutuskan jalan-jalan mengelilingi kota, menikmati angin yang menerpa wajah, sesekali melihat apa yang terjadi di sekitar. Saya selalu suka berada di boncengan motormu, kamu yang membonceng tentu saja, rasanya aman berada di balik punggungmu.
Kata orang, kencan membawa kita pada cinta. Aku setuju dengan kata orang itu. Karena bagiku, kita memiliki cinta dengan cara kita sendiri yang orang lain mungkin tak akan paham. Saya mengasihi kamu, dan kamu mengasihi saya. Tapi saya tidak pernah jatuh cinta padamu, dan kamu tidak pernah jatuh cinta pada saya. Kita hanya punya chemistry yang sama, memiliki keinginan untuk berbagi cerita. Bukankah itu luar biasa? Bagaimana menurutmu?
Ah, saya selalu senang kencan denganmu. set a date, have some dinner, and talk some random things. Buktinya saya selalu tersenyum sebelum jatuh tidur setelah kamu mengantarkan saya pulang. Saya selalu tersenyum dalam tidur saya setelah kencan sama kamu.

berbagi itu menyenangkan bukan?


Hei kamu, saya bisa melihat semburat merah di pipi kamu loh. :)
May 04, 2012 No comments
Linikala terus berjalan, saat aku menunggu matahari senja masa itu. Secangkir kopi hitam pekat dan asam turut menunggu. Lagi-lagi titik-titik perak jatuh dari langit, membuat jendela mengembun, menghalangi pandangan, lalu membuat khawatir. Matahari senja enggan muncul.
Aku bernapas satu-satu dan perlahan, diselingi helaan panjang yang berat. Dadaku sesak seperti ditendang, tak mampu membuat ruang. Kaca berembun menghalangi pandangan. Kopi pun menjadi dingin. Dan kau belum muncul. Ah, sebenarnya apa atau siapa yang ku tunggu? Titik-titik hujan mengaburkan segalanya.
Aku mulai bertanya pada cangkir kopiku, sedang apa kau sekarang? Masihkah berkutat dengan dirimu sendiri? Masihkah mencari jati diri?
Aku pun mulai bertanya pada embun jendela, apakah kau pernah memikirkan aku? Apakah kau pernah memiliki keinginan untuk mengabulkan setiap waktu yang kuhabiskan untuk menunggumu? Apakah kau pernah mencoba melihat ke kaca jendela yang aku pandangi sekarang, melihat ke dalam, ke arahku?
Titik-titik bening pun mulai menyingkir, mengizikan matahari senja menghampiriku. Namun secangkir kopi dihadapanku mulai dingin, asamnya membunuh lambung.
Lalu kutemukan diriku masih bertahan menatap kaca, mencari sosokmu yang menatap kaca yang sama, lalu melihat ke dalam, ke arahku.
Kau tahu kemana harus menjemputku, bukan?
March 31, 2012 No comments
titik-titik bening jatuh dari langit seharian ini. membawa basah, lembab, dan suhu yang tidak bersahabat.
langit abu-abu selalu tidak bersahabat, pikirku. menusuk daging hingga tulang, membuat ngilu semua hal yang awalnya baik-baik saja. membuat ingin tetap bergelung, hingga abu-abu kembali menjadi biru.
tapi langit bertahan dengan warnanya hari ini, hingga matahari menggelincir pergi. bisa dibayangkan suhu yang sudah tak bersahabat bertemu dengan kegelapan. menjadikan semuanya semakin tak menyenangkan.
hingga akhirnya tiba-tiba hangat merambat tubuh ini, lalu kemudian merambat hati. lebih dari jaket yang menyelimuti, lebih dari kaus kaki yang membungkus, dan lebih dari sarung tangan yang bergelung dengan jemari. terlebih lagi lebih dari sekedar pelukan mesra.
bukan karena hal istimewa, hanya hal sederhana. kecil namun mampu menjadi matahari saat langit abu-abu, saat matahari sebenarnya sudah pergi.
mendengar cerita sehari-hari, mendengar keluhan, dan mendengar idealisme menggebu. hanya mendengarkan dan menanggapi di tempat yang tepat.
bukan tentang seberapa dekat, namun tentang keberlanjutan untuk berbagi. bukan tentang cinta, tapi tentang kebutuhan untuk peduli. bukan tentang ingin bersama, tapi tentang melengkapi.
tak pernah ada yang istimewa, tak pernah ada emosi menggebu.
hanya kemampuan untuk duduk dan saling mendengarkan. hanya kemampuan untuk belajar berdansa.
membuat suhu yang menusuk, menjadi selimut tak kasat mata.
Wahai kekasih alam, tetaplah jadi penghangat.
genggam tanganku, dan ajari aku menari dalam hujan, Wahai jiwa-jiwa yang utuh.
tarik aku, ajari aku untuk tetap menjadi penghangat, wahai kekasih Tuhan.

*beruntungnya aku yang pernah menjadi penghangatmu
March 21, 2012 1 comments
Dear Tuhan,
Saya tidak ingin bertanya tentang surga dan neraka kali ini. Saya hanya ingin Engkau menyampaikan isi surat saya ini pada ibu saya.
Katakan padanya, bahwa saya merindukannya saat ini. Merindukannya besok dan besoknya lagi.
Saya begitu sedih saat beliau tidak ada di saat-saat penting saya setahun terakhir ini. Pada setiap moment bahagia maupun jatuh. Saya menjadi orang yang lebih cengeng akhir - akhir ini, menangis saat saya lega atau bahagia, dan menangis saat saya sakit atau jatuh. Bahkan akhirnya saya jadi susah membedakan mana tangisan sedih dan mana tangisan senang.
Ingin sekali saya menceritakan hari - hari saya kepadanya, seperti dulu. Menceritakan setiap detailnya, tanpa ada yang saya tutupi.
Ingin sekali saya menceritakan tentang perkembangan studi saya, bahwa saat ini saya sedang menyusun tugas akhir. Bahwa saya ingin menyebutkan namanya dalam lembar persembahan hasil akhir saya.
Ingin sekali saya menceritakan bahwa saat ini saya mengajar anak - anak di sela-sela waktu luang saya. Membantu mereka mengerjakan PR atau sekedar membuat mereka senang dengan kuis-kuis yang saya buat.
Saya juga ingin beliau tahu bahwa saat ini saya sedang senang-senangnya menulis, menjadi penulis skenario untuk proyek film indie, dan juga sedang membuat buku bersama beberapa teman.
Tuhan, katakan padanya, saya ingin dia ada saat saya berhasil melakukan apa pun yang saya lakukan.
Saya tidak sanggup lagi membayangkan apa yang akan saya hadapi di depan tanpa beliau disamping saya. Saya memang manja, tapi sungguh hanya beliau yang saya butuhkan.
Saya tidak sanggup membayangkan tentang ujian skripsi yang menanti saya di depan tanpa mendengar restu dan doa darinya.
Saya tidak sanggup membayangkan memakai kebaya dan toga tanpa mendengar pendapat darinya, tanpa ada foto dirinya di samping saya nanti.
Saya juga tidak sanggup membayangkan saat saya memakai kebaya, kemudian duduk disamping calon suami saya untuk mendengar pengikatan janji seumur hidup kami, tanpa ada beliau disamping saya. Jangankan hal itu, saya bahkan tidak sanggup membayangkan dia tidak mengenal calon suami saya sebelum kami menikah nanti.
Tuhan, saya tidak sanggup. Tuhan, katakan padanya, saya membutuhkannya.
Tuhan, saya merindukannya
Tuhan, saya ingin dia bahagia
Tuhan, saya juga ingin bahagia bersamanya
Tuhan, jika saya tidak berhasil menjaganya di dunia, saya mohon jaga dia di sisimu. Saya percaya, bahwa Engkau lebih mampu menjaganya dengan baik
Tuhan, katakan padanya, saya mencintainya.
Ibu, saya merindukanmu.
Ibu, kuatkan saya meskipun saya tidak bisa menggapai tanganmu lagi.
March 19, 2012 No comments
aku memandang gerimis sore ini, lewat kaca jendela yang sudah dingin
hanya desah napas dan tubuhku yang membuatnya hangat, lalu sedikit berembun
titik-titik air membasahi tanah, lalu menghantarkan jutaan bayang tentang kamu
tentang kamu yang pernah datang
tentang kamu yang pernah peduli
tentang kamu yang pernah tertawa bersamaku
tentang jalan yang kau pilih
tentang jalan yang aku pilih
tentang aku, kamu, lalu tentang dia
kemudian tentang punggungmu yang semakin jauh, atau barang kali tentang aku yang pergi
aku tidak pernah mengerti mengapa ada gerimis lalu hujan
mengapa ada hujan kemudian pelangi
sama seperti aku tak pernah bisa memahami mengapa kamu datang lalu pergi
sama seperti aku tak pernah bisa mengerti mengapa aku pergi darimu, namun kamu tak pernah menahannya
aku menanti gerimis berubah menjadi hujan
supaya aku bisa menarikmu lagi, berteduh disini bersamaku
supaya aku bisa bertanya padamu, 'Apa kabar, hujanku?'
lalu bertahan sejenak disini, sebelum dia kembali menjemputku
March 05, 2012 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose