Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply


"Masih berpikir jarak itu ada? (Sevy, 2012)"

Bagiku, kamu tidak pernah jauh. Tidak sekalipun.
Ini bukan tentang berapa kilometer jarak yang terpaut. Bukan tentang kamu ada di mana, dan aku ada di mana.
Kamu dekat, hanya sejengkal dari bahuku. Membuatku mudah untuk bersandar.
Kamu dekat, sepanjang lenganku. Membuatku mudah untuk memelukmu.
Kamu dekat, hingga aku bisa merasakan napasmu.
Tunggu, kau paham maksudku bukan?
Ini masih tentang menjauhkan ego, peka merasa, dan jeli melihat.
Kamu tantang aku untuk mencari, dan aku menantangmu untuk berhenti sejenak untuk lebih peka merasa. Beranikah kau?
Kamu tantang aku untuk membuka hati, dan aku menantangmu untuk jatuh cinta padaku. Beranikah kau?
Ada ragu dalam matamu. Aku tahu itu.
Tenanglah, sebuah jawaban tidak akan pernah lebih jauh dari hatimu.
Benarkan kataku, ini masih tentang menjauhkan ego, peka merasa, dan jeli melihat. Lalu akhirnya kau akan bisa memahami, bahwa jawabannya tidak pernah jauh. Tidak sekalipun.
December 24, 2012 No comments
Hei Sang Penjelajah
Boleh aku bertanya padamu, ke mana tujuanmu? Ke bulan kah? Atau kau ingin ke luar angkasa?
"Keliling dunia," itu jawabmu.

Hei Penyebar Romantisme Alam Raya, kau memanggilku.
Boleh aku bertanya, mengapa kau suka sekali menulis puisi? menulis cerita? mengapa suka mendongeng?
"Supaya kau jatuh cinta padaku," jawabku.

Hei Pecinta Jalan Terjal
"Boleh aku ikut bersamamu?" pintaku.

"Untuk apa, wahai Pecinta Kata?"

"Supaya aku bisa bercerita, supaya aku bisa mencintaimu, dan supaya aku bisa menuliskan puisi tentangmu,"

"Tak takutkah kau akan bahayanya?"

"Bukankah bahaya itu indah, mengajari kita tentang kesalahan-kesalahan, tentang kebenaran-kebenaran pendapat alam. Supaya bisa menjadi hakiki. Bukankah kau yang pernah mengatakan itu padaku? Kau lupa?"

Sang Penjelajah tersenyum, si Penyebar Romantisme Alam Raya pun.

"Boleh?" tanya Penyebar Romantisme Alam Raya sekali lagi.

"Apa jadinya aku tanpa kamu," itu jawaban yang paling ingin di dengar semua Pecinta di alam raya.

Ini masih tentang perjalanan, ini masih tentang bahaya, dan ini masih tentang percaya satu sama lain.
December 18, 2012 2 comments
Saya memulai tulisan ini dengan rasa kecamuk di dada. Kecamuk marah dan kecewa, pada orang-orang yang saya cintai di tempat saya belajar selama empat tahun ini. Pada mereka yang menghancurkan percaya saya selama ini. Pada mereka dimana saya menaruh harapan untuk masa depan negeri yang saya cintai.

Saya gelisah. Tak bisa tidur semalaman, ketika mendengar beberapa orang yang selalu saya panggil dengan sebutan Aa, Abang, dan Mas (kakak laki-laki), yang saya anggap saudara sendiri terluka oleh hantaman adik laki-laki saya. Ah, mengapa ego begitu kejam. Mengapa mereka membiarkan ego menguasai diri mereka? Tak cukupkah mereka melihat ego telah membakar orang-orang yang ada di jajaran yang lebih tinggi dari mereka? Lalu mengapa pula mereka membiarkan ego melakukan hal yang sama terhadap diri mereka?

Saya tidak menyalahkan siapa pun, juga tidak membela siapa pun. Saya hanya terluka ketika mereka mengepalkan tinju kepada saudara mereka sendiri. Ketika kami sama-sama memiliki darah yang sama, ketika kami dilahirkan oleh rahim pertiwi yang sama. Saya teluka sangat terluka. Percaya saya di nodai, cinta saya ditampik sebegitu hebatnya.

Salahkah jika saya merindu saat-saat kita tertawa bersama, saat kita membangun rumah yang sama, saat kita  jatuh bersama. Saya rindu pelukan kalian, keluh kesah kalian di pangkuan saya, atau sekedar genggaman hangat tangan saat meminta kekuatan kala mengalami kepedihan.

Saya rindu. Saya rindu. Saya rindu.


December 18, 2012 No comments
Katakan kebenaran sebenar-benarnya yang ada (Sevy, 2012)

Tiga hari yang lalu, saya berkesempatan untuk jujur pada sahabat saya dan pada diri saya sendiri. Suasana malam yang menenangkan di sebuah cafe yang tak ramai pengunjung, kami berbicara. Tentang kejujuran hati dan tentang sakitnya hati. Secangkir cokelat panas dan milk-tea menemani bincang kami, mencoba menghangatkan hati yang sempat mendingin.

Tak ada yang istimewa, saya hanya mengungkapkan satu peristiwa yang sebelumnya saya pikir harus saya tutup rapat darinya. Satu peristiwa yang membuat saya kembali membuat jeruji untuk melindungi diri saya dari 'mereka'. Peristiwa yang membuat saya kecewa dan membuat saya menimbun banyak sekali penyakit yang membuat hati saya seperti dihujam ribuan pisau es. Dingin dan perih.

Satu per satu, kata demi kata, kalimat per kalimat, meluncur mulus dari mulut saya. Tak ada tangis yang merebak, tak ada sesal yang menghantam. Hanya saya dan kejujuran yang saya pilih untuk memulihkan luka hati saya. Saya memilih kata dengan tepat, memilih intonasi dengan cermat, membuat semuanya jelas. Rasa marah yang mampir, saya ungkapkan dengan tenang. Rasa kecewa yang hinggap, berubah menjadi kata-kata. Dan rasa benci yang pernah ada, perlahan melebur lalu hilang. Saya lega, saya merasa ringan.

Beribu maaf untuk sang Sahabat saya haturkan berkali-kali, sedikit menyesal karena menutupi ini cukup lama hingga membuatnya sedikit 'buta' dengan kondisi yang sebenarnya. Rasa sesalnya diungkapkan kepada saya, beribu maafnya pun meluncur dari mulut penuh pengharapan kebaikan, dan beribu terima kasihnya untuk saya dihaturkan dengan ketulusan yang tiada akhir. Tak ada lagi kecewa, tak ada lagi benci, dan tak ada lagi marah.

Saya dan dia, adalah murid dari kelas kehidupan. Kami belajar bersama untuk menjadikan diri kami sebaik-baiknya makhluk Tuhan, untuk bisa memberikan kebaikan pada setiap orang yang berharga. Malam itu, kami belajar tentang kejujuran hidup, kejujuran hati, dan kejujuran perbuatan. Berjanji untuk tidak menyakiti makhluk manapun dengan kekuatan hati yang kami miliki, berjanji untuk jujur pada diri sendiri hingga akhirnya mampu menyajikan kejujuran untuk kehidupan.

October 28, 2012 No comments
Tadaaaa....
Skripsiku selesai, sudah diujikan pula. Pas tengah tahun ini. Empat tahun tepat, seperti target awal.
Empat tahun aku belajar ilmu Hubungan Internasional. Belajar politik, belajar dunia di luar sana, belajar tentang mereka yang berjuang untuk mendapatkan rasa 'aman'. Well, aku menikmatinya.
Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Tentu saja menjalani mimpi. Sama seperti manusia lain, aku punya mimpi dan aku ingin berada dalam mimpi itu.
Aku bermimpi menuliskan ceritaku
Aku bermimpi menuliskan buku dengan namaku di sampulnya.
Aku bermimpi berbicara di depan sekelompok orang tentang cerita yang ku tulis, membubuhkan tanda tangan, kemudian meletakkan buku itu di salah satu sudut rak perpustakaan.
Aku bermimpi menuliskan cerita yang diangkat ke layar perak, diperankan oleh aktor dan aktris yang luar biasa
Aku masih bermimpi menuliskan cerita yang dipentaskan di panggung, dengan gagah dan mendebarkan. Menggetarkan hati setiap penontonnya.
Banyak hal yang sedang ku lakukan untuk menapaki mimpi-mimpi itu. Aku menulis dan menulis. Berkhayal. Melambungkan imaji liar hingga kabur akan batasnya. Aku menuliskan dongengku. Menceritakannya.
Mimpiku masih jauh juga makin dekat.
Eh tunggu, aku tidak sedang berkhianat bukan?
October 14, 2012 No comments
Aku hanya ingin mengomel tanpa aku harus menghabiskan tenagaku. Mungkin lebih tepatnya marah.
Marahku hanya berupa pertanyaan.
"Bagaimana jika kau hidup tanpa aku saja?"
"Bisakah kau hidup tanpa aku?"
"Bisakah kau tidak membuatku mengutuk diri sendiri?"

-ditulis dalam keadaan kecewa-
October 14, 2012 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose