Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

Ini bukan cerita perjalanan yang luar biasa yang hampir selalu terjadi pada traveller, tidak pula terjadi di luar negeri. Tapi ini sepenggal catatan perjalanan yang masih begitu saya ingat dan sempat saya tuliskan, terjadi di Indonesia, di Surabaya tepatnya.

Hari itu hari minggu, tanggal 6 Januari 2013. Saya dan seorang teman memutuskan untuk melakukan perjalanan singkat ke Surabaya demi menonton The Hobbit 3D. Padahal waktu itu sahabat saya ini sedang berada di tengah minggu sibuk ujian akhir semester, tapi jika perjalanan ini tidak dilakukan sekarang lalu kapan lagi, itu kata sahabat saya waktu itu. Benar saja, saya mendapatkan hal menarik dalam perjalanan itu.
Cerita ini berawal ketika kami usai menonton film dan memutuskan untuk kembali ke Malang secepatnya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk naik taksi saja menuju Terminal Bungurasih. Saya terlalu malas dan capek jika harus menggunakan angkutan kota untuk ke terminal di hari yang sudah gelap dan hujan. Akhirnya kami masuk ke taksi yang memang mangkal di pangkalan taksi Ciputra World. Saya duduk di depan, di samping supir, sahabat saya ini duduk di belakang. Kemudian dimulailah percakapan dalam taksi.

Bapak sopir taksi, yang kini saya lupa namanya, bertanya pada kami, hendak kemana kami setelah dari terminal. Saya pun menjawab, bahwa kami akan kembali ke Malang. Beliau bertanya lagi, apakah kami memang asli Malang. Sahabat saya menjawab sekenanya, dan mengatakan bahwa kami tinggal di Malang. Tak terduga Pak Sopir pun berkampung halaman di Malang, lebih tepatnya di Batu. Akhirnya semakin panjanglah percakapan antara Pak Sopir dengan sahabat saya ini. Saya memilih diam dan mendengarkan di bangku depan.

Pak Sopir bercerita bahwa beliau berasal dari Batu. Lulus SMA langsung mengadu nasib di Surabaya dan menjadi pegawai di salah satu perusahaan multinasional besar di Surabaya hingga akhirnya menikah dengan perempuan asli Kota Pahlawan tersebut. Dari hasil pernikahannya Pak Sopir memiliki dua anak, yang pertama laki-laki, sudah lulus SMK dan bekerja di Jakarta. Anak yang kedua, perempuan, masih kelas 3 SD. Beliau menceritakan perjalanan hidupnya hingga akhirnya menjadi sopir taksi. Ternyata beliau ini memilih pensiun dini lantaran keluarganya tidak mengijinkan beliau untuk ditugaskan di cabang perusahaan di Sumatera. Keluarga pihak istri yang tidak mengijinkan beliau membawa istrinya turut serta ke Sumatera, sedangkan keluarga beliau di Batu hanya mengijinkan pergi apabila ditemani oleh istri. Akhirnya beliau memilih pensiun dini, meskipun manajer perusahaan berusaha mati-matian untuk membujuk beliau. Alasan berat pada keluarga menjadi titik balik karir yang sudah dibangun selama 20 tahun. Uang pesangon pun diterima, sebagian ditabung dan sebagian lagi digunakan untuk memperbaiki rumah. Kemudian beliau melamar menjadi sopir taksi dan akhirnya bertemu kami.

Beliau pun memaparkan rencana lima tahun ke depan, bahwa beliau ingin kembali ke Batu untuk merawat orang tuanya begitu si anak perempuan lulus SD. Beliau berencana menjual atau mengontrakkan rumahnya di Surabaya dan bersama-sama dengan keluarganya pindah ke Batu dan memulai lagi dari awal.

Percakapan kami terhenti ketika kami tiba di pintu depan terminal. Kami pun membayar sesuai argo dengan menambahkan tips yang tidak begitu banyak, namun semoga saja bermanfaat. Begitu turun dari taksi, kata pertama yang sahabat saya luncurkan adalah, "Betapa pedulinya Bapak itu sama keluarganya ya," sementara kalimat pertama saya adalah "Ketika nanti aku jadi istri, aku akan ikut kemana pun suamiku pergi dan sesusah apa pun hidupnya". Sahabat saya tidak menanggapi seketika. Kami pun berjalan, sedikit berlari sebenarnya, di bawah rintik hujan yang memisahkan peron dengan tempat bis berjajar menunggu penumpangnya. Setelah menelusuri pangkalan bis dan membaca satu per satu tujuan akhir bis, akhirnya kami menemukan bis cepat ke Malang. Segera kami naik, dan beruntung mendapatkan dua bangku yang masih kosong.

Tak lama kemudian bis pun melaju meninggalkan Surabaya. Saya melanjutkan kata-kata saya tadi dengan cerita tentang ibu saya yang meninggalkan keluarganya di Kediri untuk ikut merantau dengan ayah saya ke Surabaya ketika awal pernikahan mereka. Waktu itu, mereka belum memiliki apa pun termasuk rumah. Tempat tinggal mereka hanyalah kamar kos berukuran 4x6, dan itu pun bertahan hingga lima tahun lamanya, bahkan ketika saya sudah hadir di antara mereka. Oleh karena itu, saya menyatakan bahwa saya akan menyertai suami saya nanti bagaimana pun keadaan hidup kami. Sahabat saya pun bercerita, keadaan orang tuanya juga hampir sama dengan keadaan orang tua saya ketika memulai hidup. Maka dia mengerti betul dengan apa yang saya maksud. Saya pun melihat ke luar jendela yang gelap, teringat kata-kata ibu saya yang telah tiada. Ibu saya pernah mengatakan, bahwa ketika berkeluarga nanti, sebiasa mungkin jangan pernah bergantung kepada orang tua, karena sekali bergantung maka selamanya akan bergantung. Dan jika dua rumah tangga hidup dalam satu atap maka akan rentan sekali terhadap konflik. Dan inilah yang akan menjadi kehancuran rumah tangga tersebut. Saya menghela napas panjang, kemudian pamit tidur kepada sahabat saya. Memejamkan mata sejenak, menjadi obat ampuh ketika saya mulai mengingat hal yang pada saat itu tidak ingin saya ingat.

Saya memang belum mengerti apa-apa tentang hal ini, namun melihat perjuangan orang tua saya hingga saat ini memberikan saya banyak pelajaran. Ditambah dengan cerita Pak Sopir dalam perjalanan singkat bersamanya. Ada banyak hal di dunia yang perlu saya pelajari untuk menjalani hidup. Pak Sopir tadi mungkin adalah malaikat bagi keluarganya, dengan cara yang beliau anggap benar dan perlu dilakukan. Dan ibu saya juga malaikat bagi ayah saya dengan cara yang beliau anggap tepat. Saya pun bisa jadi malaikat seperti ibu saya dalam perjalanan hidup ini, tak terkecuali sahabat saya pun bisa jadi malaikat dengan cara yang dia anggap tepat dan sempurna.

Sebuah pelajaran dalam perjalanan tidak selalu didapat ketika pergi jauh, sering kali perjalanan kecil memberikan banyak arti. Semua tergantung bagaimana kamu menyerap apa yang selalu disampaikan oleh sebuah perjalanan - Sevy, 2012
January 26, 2013 No comments
Banyak cerita.
Saya ingin kamu tersenyum setelah membaca ini, sama seperti saya yang tersenyum ketika menuliskannya.
Saya sudah menghabiskan waktu setahun dengan bahagia. Karena kamu.
Saya pernah jatuh, dan saya pernah terluka. Saya tahu, kamu pun begitu.
Saya pernah tertawa, dan saya pernah menangis bahagia. Kamu pun pernah mengalaminya.
Kadang kita tertawa bersama, dan tak jarang pula kita membagi luka untuk saling menyembuhkan.
Ada cinta yang kita bagi bersama, dan ada banyak cinta yang datang untuk kita.
Saya dan kamu, membuat dunia ini utuh.
Tapi yang paling membuat saya utuh, adalah karena saya selalu jatuh cinta setiap hari.
Pada semua hal di sekitar saya. Yang baru ataupun yang telah ada.
Tuhan begitu baik, bukan?
Saya ingin kamu juga jatuh cinta setiap hari, supaya kamu utuh seperti saya.
Saya ingin kamu punya kemampuan meringankan luka setiap insan yang bergantung padamu.
Saya ingin kamu bahagia.
Jadi, apakah kamu sedang tersenyum ketika membaca ini?
January 02, 2013 No comments

"Menulis tak menunggu inspirasi, tapi menunggu kemauan (Sevy, 2012)"

Saya hanya menulis ini, hanya menuliskannya agar ada yang bisa saya tuliskan. Membingungkan memang.
Ya, saya mengalami writer's block! Ketika ide saya mampet, seperti pipa yang terhalang sampah.
Ide yang awalnya seperti air mengalir dari kran air, lalu kemudian BANG! Mampet!
Ini menyebalkan! Sangat menyebalkan.
Lebih menyebalkan dari pesan singkat yang tak berbalas, atau telepon yang tidak diangkat.
Writer's Block bisa dialami setiap orang, dan setiap orang pun punya cara sendiri untuk mengatasinya.
Ada yang meninggalkan tulisannya untuk sementara waktu, dan selang waktu itu digunakannya untuk jalan-jalan atau bermain-main sampai akhirnya sense menulis datang lagi bersamaan dengan ide yang lebih segar. Ada yang melampiaskannya pada makanan, dalam hal ini berarti dia akan makan banyak makanan. Atau bahkan mungkin ada yang sampai mengurung diri dalam ruang kerjanya.
Saya pun punya cara sendiri mengatasinya, yakni dengan menuliskannya. Saya menuliskan keadaan writer's block saya sendiri. Seperti sekarang. Atau saya menuliskan hal lain diluar tulisan utama yang saya kerjakan. Lebih banyak menulis tentang hati, patah hati dan jatuh hati. Jauh lebih melegakan ketika saya sudah menuliskan apa yang saya rasakan.
Writer's Block bukan harga mati bagi penulis untuk berhenti menulis. Itu hanya keadaan dimana kami merasa lelah dan merasa bosan. Wajar dan sangat manusiawi.
Saya banyak belajar dari penulis lain saat mengalami writer's block ini, bahwa saya harus mengenali keadaan saya sendiri lalu saya akan bisa mengatasinya sesuai dengan diri saya.
Ah, saya lega menuliskannya.
Saya masih menulis ternyata. :)
December 24, 2012 No comments

"Masih berpikir jarak itu ada? (Sevy, 2012)"

Bagiku, kamu tidak pernah jauh. Tidak sekalipun.
Ini bukan tentang berapa kilometer jarak yang terpaut. Bukan tentang kamu ada di mana, dan aku ada di mana.
Kamu dekat, hanya sejengkal dari bahuku. Membuatku mudah untuk bersandar.
Kamu dekat, sepanjang lenganku. Membuatku mudah untuk memelukmu.
Kamu dekat, hingga aku bisa merasakan napasmu.
Tunggu, kau paham maksudku bukan?
Ini masih tentang menjauhkan ego, peka merasa, dan jeli melihat.
Kamu tantang aku untuk mencari, dan aku menantangmu untuk berhenti sejenak untuk lebih peka merasa. Beranikah kau?
Kamu tantang aku untuk membuka hati, dan aku menantangmu untuk jatuh cinta padaku. Beranikah kau?
Ada ragu dalam matamu. Aku tahu itu.
Tenanglah, sebuah jawaban tidak akan pernah lebih jauh dari hatimu.
Benarkan kataku, ini masih tentang menjauhkan ego, peka merasa, dan jeli melihat. Lalu akhirnya kau akan bisa memahami, bahwa jawabannya tidak pernah jauh. Tidak sekalipun.
December 24, 2012 No comments
Hei Sang Penjelajah
Boleh aku bertanya padamu, ke mana tujuanmu? Ke bulan kah? Atau kau ingin ke luar angkasa?
"Keliling dunia," itu jawabmu.

Hei Penyebar Romantisme Alam Raya, kau memanggilku.
Boleh aku bertanya, mengapa kau suka sekali menulis puisi? menulis cerita? mengapa suka mendongeng?
"Supaya kau jatuh cinta padaku," jawabku.

Hei Pecinta Jalan Terjal
"Boleh aku ikut bersamamu?" pintaku.

"Untuk apa, wahai Pecinta Kata?"

"Supaya aku bisa bercerita, supaya aku bisa mencintaimu, dan supaya aku bisa menuliskan puisi tentangmu,"

"Tak takutkah kau akan bahayanya?"

"Bukankah bahaya itu indah, mengajari kita tentang kesalahan-kesalahan, tentang kebenaran-kebenaran pendapat alam. Supaya bisa menjadi hakiki. Bukankah kau yang pernah mengatakan itu padaku? Kau lupa?"

Sang Penjelajah tersenyum, si Penyebar Romantisme Alam Raya pun.

"Boleh?" tanya Penyebar Romantisme Alam Raya sekali lagi.

"Apa jadinya aku tanpa kamu," itu jawaban yang paling ingin di dengar semua Pecinta di alam raya.

Ini masih tentang perjalanan, ini masih tentang bahaya, dan ini masih tentang percaya satu sama lain.
December 18, 2012 2 comments
Saya memulai tulisan ini dengan rasa kecamuk di dada. Kecamuk marah dan kecewa, pada orang-orang yang saya cintai di tempat saya belajar selama empat tahun ini. Pada mereka yang menghancurkan percaya saya selama ini. Pada mereka dimana saya menaruh harapan untuk masa depan negeri yang saya cintai.

Saya gelisah. Tak bisa tidur semalaman, ketika mendengar beberapa orang yang selalu saya panggil dengan sebutan Aa, Abang, dan Mas (kakak laki-laki), yang saya anggap saudara sendiri terluka oleh hantaman adik laki-laki saya. Ah, mengapa ego begitu kejam. Mengapa mereka membiarkan ego menguasai diri mereka? Tak cukupkah mereka melihat ego telah membakar orang-orang yang ada di jajaran yang lebih tinggi dari mereka? Lalu mengapa pula mereka membiarkan ego melakukan hal yang sama terhadap diri mereka?

Saya tidak menyalahkan siapa pun, juga tidak membela siapa pun. Saya hanya terluka ketika mereka mengepalkan tinju kepada saudara mereka sendiri. Ketika kami sama-sama memiliki darah yang sama, ketika kami dilahirkan oleh rahim pertiwi yang sama. Saya teluka sangat terluka. Percaya saya di nodai, cinta saya ditampik sebegitu hebatnya.

Salahkah jika saya merindu saat-saat kita tertawa bersama, saat kita membangun rumah yang sama, saat kita  jatuh bersama. Saya rindu pelukan kalian, keluh kesah kalian di pangkuan saya, atau sekedar genggaman hangat tangan saat meminta kekuatan kala mengalami kepedihan.

Saya rindu. Saya rindu. Saya rindu.


December 18, 2012 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose