Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

Hei kamu, iya kamu, teman kencan saya. Apa kabarmu? Apakah kamu masih malu-malu ketika saya selalu menyebutmu sebagai teman kencan saya? Apakah kamu masih menyembunyikan diriku di balik punggungmu ketika kamu ketahuan kencan dengan saya? Ah, kamu mengangguk. Kamu memang teman kencan saya, teman kencan sembunyi-sembunyi.
Saya ingin bercerita kepadamu. Akhir-akhir ini saya tidak terlalu bersemangat menjalani hari-hari saya. Energi penuh yang selalu saya miliki, yang sering kau irikan dariku, tiba-tiba saja menguap. Saya benci hal ini. Kemudian saya berpikir apakah ini karena saya kehilangan salah satu sumber semangat saya? Saya kehilangan kamu.
Saya merindukan waktu kamu mengirimkan pesan singkat kepada saya untuk set a date and have some dinner. Ah iya, meskipun tidak makan malam setidaknya kita akan menikmati waktu bersama dengan ditemani kopi kesukaan saya dan cokelat panas kesukaan kamu. Kita akan berbincang apa saja, mulai gosip yang ada di sekitar kita hingga mimpi-mimpi masa depan.
Baiklah saya akui, saya pada akhirnya punya teman baru untuk minum kopi. Namun tentu saja dia sangat berbeda denganmu. Saya tidak akan membandingkanmu dengannya, karena saya tahu kalian orang yang berbeda. Saya hanya akan membandingkan rasa kencan saya ketika bersamamu dan ketika bersamanya.
Ketika saya bersamamu, saya akan sangat bersemangat sekali. Bahkan saya memilih dengan hati-hati pakaian yang akan saya kenakan ketika bertemu kamu. Meskipun kamu tahu saya bukan orang yang suka berdandan, tapi saya akan selalu ingin tampak enak dilihat ketika bersamamu. Saya tidak ingin mendapat tatapan menghakimi dari orang-orang di sekitar ketika bersamamu. Saya pun akan berkali-kali melirik ke jam tangan yang selalu saya pakai di tangan kanan, menunggu kamu yang berjanji menjemput saya pada waktu yang telah kita sepakati. Saya pun akan was-was apakah kamu akan membatalkan secara mendadak janji kencan kita atau tidak. Ya, saya tahu kamu sibuk tapi kamu selalu mampu meluangkan waktu untuk ngobrol denganku meskipun saya harus menunggmu selesai dengan semua pekerjaanmu. Ketika bersamamu pun kita selalu bisa talk some random things.
Berbeda ketika saya bersama orang itu. Saya tidak peduli baju apa yang akan saya kenakan, bahkan saya tidak peduli dengan tatapan menghakimi dari orang-orang di sekitar saya dan dia ketika kami bersama. Saya bahkan tidak peduli apakah dia membatalkan janjinya atau tidak. Saya juga bahkan tidak menolelir segala keterlambatan yang dilakukannya. Saya jadi perempuan sengit yang tidak suka jika kemaunnya tidak dituruti. Satu lagi, saya merasa obrolan yang kami lakukan tidak seimbang. Saya harus menjelaskan hingga hal-hal yang paling sederhana kepadanya. Saya pun akhirnya lebih memilih untuk memainkan gadget yang hampir tidak pernah saya sentuh ketika bersamamu, bahkan saya mampu membaca ketika ada orang lain di depan saya. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan ketika saya sedang ngobrol dengan orang lain. Saya pun membatasi topik pembicaraan ketika bersamanya. Tidak bebas.
Hei teman kencanku, apakah saya ini terlalu jahat ataukah terlalu naif? Hingga saya menutup diri dan tidak memberikan kesempatan?
Ah, proses. Iya, kamu selalu mengatakan bahwa saya perlu proses untuk membuka hati. Ini salah satu proses yang harus saya lakukan bukan?
Ketika kamu berada di dekat saya, saya selalu punya kemampuan untuk berani bermimpi lebih tinggi dan berani memimpikan hal-hal absurd. Saya pun selalu memiliki energi untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Kali ini saya hanya harus membiasakan diri jauh darimu, dan menjaga agar energi-energi itu masih eksis. 
Ketika kamu ada di dekat saya, saya selalu bisa menjadi penyabar untuk mengimbangimu yang meledak-ledak. Hanya saja kali ini saya harus membiasakan sabar itu tetap berada di sana, meskipun kamu tidak ada di dekat saya.
Saya merindukan semua energi yang kamu tularkan kepada saya. Saya juga merindukan cemberutmu ketika saya mulai tidak sabar menghadapi ledakan emosimu. Pada akhirnya, saya merindukan kamu.
Baik-baiklah di sana, teman kencanku. Saya tidak memintamu untuk menggantikan saya sebagai teman kencamu, saya hanya ingin kamu tetap sama atau bahkan lebih baik ketika saya tidak berada di dekatmu.
Ah iya, sampaikan salam saya kepada semua orang yang saya sayangi yang masih ada di tempat yang sama ketika saya pergi meninggalkanmu dan mereka. Sampaikan salam sayang saya kepada mereka.
December 02, 2013 No comments
Halo Zat Maha Dahsyat, terima kasih untuk setiap hembusan nafas dan setiap peduli yang Engkau berikan. Saya berjanji untuk terus memberikan alasan hidup bagi orang tercinta karena saya yakin Engkau akan terus memberi saya alasan untuk hidup. Meskipun hati saya sedang kacau, jangan biarkan saya mengacaukan hati orang lain pula.
December 02, 2013 No comments
Kamu
Bukankah aku selalu mengatakan inspirasi ada di mana-mana? Inspirasi selalu ada, kamu harus jeli supaya bisa memeluknya. Ah iya, sudahkah aku mengatakan kamu gudang inspirasi bagiku?

Buku
Aku dengan buku puisiku, kau dengan buku matematikamu. Hampir semua memandang ke arah kita ketika kita sedang sibuk dengan dunia kita masing-masing. Setidaknya kita masih bersama, iya kan?

Jarak.
Pada akhirnya sebuah jeda bernama jarak berada di antara kita. Aku berada di negeri yang tak pernah tidur. Kamu berada di negeri yang penuh awan putih seperti cotton candy.
Jarak itu sering mempermainkan kita. Membuatku menunggu, membuatku gelisah. Membuatmu kesal, membuatmu lelah.
Tapi ketika kita masih menghirup udara yang sama, melihat bulan yang sama, masihkah jarak eksis bagi kita?


Aku sering tersesat akhir-akhir ini. Mencari kamu, mencari gudang inspirasi untuk puisi-puisi yang biasa ku tuliskan. Aku mencarimu, menggali waktu-waktu terbaik yang pernah ada, memanggil setiap kenangan.
Aku mencarimu, mencari keindahan diksi dalam rumus-rumus matematika yang pernah kau selesaikan.
Ah iya, ternyata aku merindukanmu.
November 24, 2013 No comments
"Aku merindukanmu. Apa yang bisa kulakukan?"
Aku menuliskan pesan singkat itu diiringi suara air hujan yang menyentuh atap seng. Suaranya berisik, mengaburkan suara-suara orang lain di sekitarku yang sedang bercakap-cakap. Aku ingin pulang, gerutuku dalam hati. Hujan, ku mohon segeralah berhenti.
Tak nyaman rasanya memakai baju yang lembap dalam waktu lama, kaki ku pun basah dan banyak pasir yang menempel. Hujan selalu mebuatku kesal sendiri.
Pesan singkat itu pun terkirim. Aku tak antusias menunggu jawabannya. Sudah lama aku tak antusias lagi menunggu jawaban dari sebuah pesan singkat di mana aku menuliskan 'rindu' di dalamnya. Aku memutuskan untuk berhenti antusias.

"Hiya, geli juga. Apa yang bisa dilakukan? Bingung juga aku"
Aha! Ini jawaban yang aku terima. Aku pun tersenyum kecil, ternyata pesan singkat yang ku kirim berbalas. Tapi tunggu, mengapa aku bisa merasakan hanya separuh bibirku yang terangkat? Aku sedang tersenyum bukan? Mengapa hanya separuh? Mengapa tidak penuh?

"Yang pasti aku tidak akan langsung packing untuk menemuimu"
Aku menuliskan kata-kata itu tanpa berpikir panjang. Tak ada lagi berpikiran panjang hanya untuk menulis sebuah pesan singkat yang. Ku kirimkan padanya. Lalu tak berbalas lagi.

Iya, aku kesal. Aku kesal pernah merindu. Tapi apakah bisa aku menghindari rindu yang tiba-tiba menyeruak? Bagaimana jika rindu itu datang lagi?

Apa yang bisa kulakukan?
November 15, 2013 No comments
Kamu egois. Sudahkah aku mengatakan itu?
Ketika kamu meminta alasan tentang mengapa aku disampingmu.

Kamu bodoh. Sudahkah kau membaca karya para penyair itu?
Ketika kamu memintaku mengatakan tentang mengapa aku menyukaimu.

Kamu bodoh. Sudahkah kamu bercermin?
Ketika kamu bertanya padaku mengapa aku melangkah lebih jauh.

Mungkin aku bisa mengutip banyak kata dari penyair-penyair itu tentang mengapa aku disampingmu.
Namun apakah kau tidak merasa kalau itu sangat picis?
Aku tidak pernah bisa memberikan alasan-alasan itu, aku bahkan tidak pernah tahu alasan-alasan itu eksis.

Mengapa aku menyukaimu?
Apakah kau telah membeli cermin seribu dari penyihir yang ada di pasar itu? Ataukah justru kau tertipu kata-kata penyihir itu lalu kau membelinya?
Aku tahu kau kesal karena tidak mendapat jawabannya.
Mengapa kau masih saja mencari jawabannya, sedangkan jawaban itu tak pernah ada. Aku kesal padamu.

'Mengapa kau tidak disampingku lagi?'
Tahu kah kau berapa banyak pisau yang menyayat tubuhku saat kau bertanya itu padaku? Ah, ironis.
Karena aku tahu jawaban untuk pertanyaan itu.
Ada seratus orang yang mengajukan alasan mengapa aku harus bersamamu. Namun hanya satu egoku yang mampu mematahkan seratus alasan itu. Aku tak bisa bersamamu lagi.
November 14, 2013 No comments
Setiap gerak lincah jemariku diatas keyboard komputer, ada yang membisikkan namamu
Setiap gerak lincah jemariku diatas tuts piano, tawa gemerincingmu jadi nada yang ku pertimbangkan
Setiap gerak lincah jemariku bersama pensil warna dengan sketch book di pangkuan, potretmu hadir meminta porsi sketsa di buku gambarku
Kamu menemaniku dalam setiap puisi dan nada yang tercipta
Kamu selalu tak sabar mendengar cerita hasil imajinasi liar
Kamu selalu jadi yang pertama ku cari aku terjebak dalam sisi gelap ruang karya
Kamu penghantar inspirasi
November 04, 2013 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose