Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

akhirnya kubuka lagi blog-ku ini
setelah (berapa lama, ya?) aku tidak membukanya sama sekali
so, Hello World...
siap membaca tulisanku yang awut-awutan dan terkesan lebai sekaligus bodoh???
so, check it out!
April 18, 2010 No comments
Judul Buku : Banana, Beaches, Bases; Making Feminist Sense of International Politics
Pengarang : Cynthia Enloe
Penerbit : University of California Press
Tahun : 1989
Halaman : xiii + 244 halaman
KISAH PISANG DAN PANTAI
Isi dari buku ini diawali dengan penjelasan yang gamblang oleh Cynthia Enloe mengenai posisi wanita dalam politik internasional yakni di urutan terbawah hirarki politik internasional. Posisi wanita dalam politik internasional tidak lebih dari ‘aksesori’ para pria dan forum yang didalamnya terdapat proses penentuan kebijakan. Contoh nyata adalah mengenai posisi Fawn Hall yang merupakan sekretaris dari Letnan Oliver North dalam National Security Department yang turut serta dalam forum negoisasi untuk menentukan kebijakan yang tepat dalam menghadapi Contra Affair/ Iran. Fawn Hall hanyalah ‘aksesori’ di sana, meskipun pada kenyataannya pemikiran-pemikirannya lebih berarti daripada pria-pria yang ada di sana. Jika ada pergerakan wanita dalam politik internasional maka dianggap wanita-wanita tersebut adalah korban dari sistem internasional.
Bab kedua dari buku ini mejelaskan mengenai sexism yang dialami oleh wanita. Dimana wanita-wanita yang kebanyakan berasal dari negara dunia ketiga menjadi obyek sex tourism, pada saat negara mereka menjadikan pariwisata sebagai sumber pendapatan utama negara. Enloe mengatakan bahwa dalam posisi ini wanita diibaratkan sebagai ‘toilet paper’. Sex tourism bukan merupakan hal baru dalam politik internasional, hal tersebut justru menjadi pendorong para politisi untuk melancarkan investasi dari investor-investor negara dunia pertama untuk semakin banyak melakukan investasi di negara dunia ketiga. Dengan adanya hal tersebut maka sex tourism tidak akan pernah mati.
Rasisme wanita dijelaskan pada bab ketiga buku ini. Di sini masih dikatakan bahwa wanita adalah obyek, terutama yang berasal dari negeri-negeri jajahan. Konsep nasionalisme yang dikatikan dengan maskulinitas menurut Enloe mulai merambah ke feminitas, dimana banyak gerakan nasionalisme yang dicetuskan oleh beberapa wanita dari negara colonial di negara-negara jajahan. Namun pada prakteknya feminist nationalist mengalami beberapa hambatan terutama yang menyangkut tentang aturan-aturan yang sifatnya patriarki di beberapa negara, seperti yang dialami oleh wanita-wanita di negara Islam dan wanita-wanita yang melakukan pergerakan terutama dalam hal politik di negara-negara berkembang seperti Sri Lanka, Vietnam, dan Filipina. Wanita-wanita muslim tersebut mengalami dilema yang dapat dikatakan dengan veil dilemma, yakni haruskah mereka tetap menggunakan kerudung dalam melakukan nasionalisme atau melepasnya atas nama nasionalisme dan westernisasi. Sementara wanita-wanita yang berada di negara-negara berkembang dapat melakukan pergerakan di dalam politik dikarenakan adanya opresi terhadap wanita-wanita tersebut, namun hasilnya tidak beda jauh dengan yang dilakukan pria. Perkembangan dunia pendidikan dan ekonomi melaju seperti yang diharapkan setiap negara pada umumnya. Namun mereka dihambat dengan adanya patriarki yang tetap mengharuskan wanita berada dalam rumah, mengurus rumah tangga, kebutuhan suami, dan lain-lain.
Bab ketiga menjelaskan mengenai hubungan wanita dengan kamp miliet, yang isunya adalah wanita tetap menjadi obyek seks dari para pria di kamp militer tersebut. Contoh nyata ketika Amerika mengirimkan tentara kulit hitamnya ke Inggris hingga mereka menjalin hubungan dengan wanita kulit putih Inggris. Masalah ini menjadi perdebatan Inggris dan Amerika karena Inggris menganggap peristiwa ini mengancam kelangsungan generasi kulit putih Inggris. Enloe pun menjelaskan bahwa wanita-wanita yang tinggal di kamp militer sebagai istri tentara memerlukan keadaan yang aman bagi mereka, namun disini Enloe menjelaskan bahwa hubungan antara pria dan wanita di kamp militer mulai berubah. Wanita-wanita tidak lagi menjadi obyek seks tetapi lebih diperlukan dalam hal lobbying yang mendukung karir suami mereka. Penderitaan wanita di kamp militer yang digambarkan Enloe adalah tentang perceraian yang terjadi saat tentara yang menjadi suami mereka mulai terlibat affair dengan wanita-wanita yang bekerja dalam prostitusi. Selain itu Enloe juga menggambarkan mengenai AIDS yang menyerang para wanita yang bekerja sebagai wanita prostitusi di kamp militer, contohnya adalah yang terjadi di Filipina. Karena adanya hal tersebut, maka mulai digencarkan gerakan anti prostitusi oleh militer untuk mengubah keadaan wanita-wanita yang menjadi korban dari kamp militer.
Pada bab lima buku ini menggambarkan mengenai pernikahan-pernikahan yang dialami wanita, terutama bagi mereka yang menikahi diplomat ataupun orang-orang militer. Dalam hal ini wanita juga berperan dalam proses penetuan kebijakan (pekerjaan suami mereka), meskipun prioritasnya adalah sebagai penawaran masyarakat terhadap jasa, pekerjaan, dan tunjangan cerai. Bagi pemerintah, diplomat, dan anggota militer, pernikahan merupakan salah satu alat untuk mencapai suatu hubungan internasional dengan cara yang lebih lembut, atau menyenangkan dalam sebuah negosiasi.
Pembahasan mengenai pisang dan wanita dituangkan dalam bab enam buku ini. Diawali dengan suksesnya Carmen Miranda, aktris asal Brasil, di Hollywood yang akhirnya dimanfaatkan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk melakukan pendekatan dengan negara-negara di Amerika Latin tanpa menggunakan cara militer. Carmen Miranda dijadikan ikon dari Chiquita Banana, perusahaan buah Amerika, dengan memakai kostum setengah pisang. Pada saat itu pisang merupakan satu-satunya komoditas internasional yang mampu menembus pasar hingga kalangan bawah. Para perempuan yang umumnya menjadi ibu rumah tangga memilih pisang sebagai makanan penuh nutrisi yang murah untuk keluarganya, sehingga mereka inilah yang menjadi pasar terbesar dari komoditas pisang. Sedangkan Carmen Miranda yang menjadi ikon Chiquita Banana dapat dikatakan sebagai inspirator dari wanita-wanita tersebut tentang kesuksesannya. Pemerintah Amerika menyebut negara-negara penghasil pisang ataupun negara-negara perkebunan lainnya dengan sebutan Banana Republic. Sebelumnya maskulinitas perkebuan menjadi hal yang dominan, namun pada kenyataannya banyak wanita yang dipekerjakan dalam perkebunan tersebut seperti pada perkebunan kopi dan teh sebagai pemetik hasil perkebunan.
Penjelasan mengenai pop-culture dan wanita dituangkan dalam bab ketujuh. Pada bab ini penjelasan mengenai permulaan pop-culture adalah dimulai saat polyster diubah menjadi blue jeans oleh perusahaan Benneton yang kemudian menjadi popular dikalangan masyarakat barat. Dan tentu saja yang menjadi model dari blue jeans adalah wanita-wanita cantik berkulit putih dan cantik. Kemudian penjelasan mengenai kebutuhan buruh murah yang di dapat dari wanita-wanita terutama di negara dunia ketiga untuk memperkuat perusahan-perusahaan semacam Benneton, karena menjahit dianggap sebagai keahlian alami dan tradisional sebagai wanita, dianggap menjahit bukan pekerjaan yang memerlukan keterampilan (keterampilan hanya milik pria), kemudian dianggap bahwa wanita adalah pekerja kedua setelah pria yang kebanyakan tidak menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Marginalitas kepada perempuan juga terjadi ketika negara-negara maju mengubah industri ringan seperti garmen ke industri berat seperti besi dan baja, di mana pekerja wanita ditempatkan pada industri ringan tersebut. Kemudian diceritakan mengenai bagaimana pekerja-pekerja wanita pada industri garmen di seluruh dunia bersatu ketika terjadi peristiwa gempa bumi di Meksiko yang menghancurkan industri garmen, yang pemimpin perusahaannya lebih memilih menyelamatkan mesin-mesin jahit dan tidak membayar upah daripada menyelamatkan nyawa pekerja wanita yang tertimbung reruntuhan pabrik.
Bab kedelapan memaparkan mengenai dilemma wanita yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya yang tidak mampu dicukupi oleh suami, khususnya mereka yang berada di kalangan bawah. Wanita-wanita tersebut memilih memafaatkan keahlian mereka dalam pekerjaan rumah tangga dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau pengasuh bagi keluarga-keluarga kalangan menengah ke atas. Bahkan banyak diantara mereka pada akhirnya memilih bekerja di luar negeri dengan alasan di negara asal tidak dapat diharapkan lagi. Akibatnya para wanita ini kebanyakan menjadi korban atas tindak kejahatan seperti perdagangan manusia dan tindak kekerasan oleh majikan atau investor perusahan tempat dia bekerja. Sebagai solusi atas masalah ini dilakukan IMF dengan cara memberikan bantuan bagi negara-negara miskin untuk mengembangkan negara mereka secara optimal sehingga tidak ada lagi wanita-wanita yang pergi ke luar negeri untuk bekerja, namun kebijakan IMF ini berdampak pada pengurangan support tenaga kerja murah bagi negara-negara maju. Dengan adanya hal ini berarti wanita juga turut serta dalam politik internasional secara langsung baik merupakan subyek maupun obyek.
Dalam buku yang ditulis oleh Cynthia Enloe ini banyak terdapat kelebihan maupun kekurangan. Dalam beberapa hal buku ini termasuk buku yang nyaris sempurna untuk kajian gender. Pemilihan kata-kata yang sederhana, jelas, dan lugas mempermudah pembaca untuk mengikuti alur pikiran Enloe, bahkan bisa membenarkan setiap kata-kata Enloe jika tidak dicermati. Buku ini juga memberikan penjelasan yang mendetail mengenai permasalahan-permasalahan wanita sejak zaman kolonial hingga pada masa sekarang. Enloe yang merupakan tokoh feminist radikal menggunakan kata-kata yang gamblang dan lugas dalam menyampaikan pemikiran dan pemaparannya hingga terkesan terlalu menghakimi, namun hal tersebut tidak dapat disalahkan karena memang hal itu merupakan karakter dari tokoh feminis radikal yang tujuannya memang ingin wanita benar-benar sejajar dengan pria dan tidak lagi menjadi subyek opresi oleh sistem ataupun pria.
Kekurangan dari buku ini adalah analisis Enloe yang terlalu subyektif dan obyeknya merupakan mayoritas. Penulis mengatakan teralu subyektif karena dapat dilihat dari pemilihan kata-kata yang digunakan Enloe dalam bukunya ini, meskipun tidak banyak menggunakan kata ‘saya’. Kemudian pemilihan obyek kajian yang terlalu meluas dan merupakan kondisi dari wanita secara mayoritas. Seperti dalam pembahasan diplomatic wives, Enloe mengesankan bahwa wanita-wanita yang menikah dengan diplomat, anggota militer, dan pemerintah adalah wanita – wanita yang menderita karena dimanfaatkan, namun pada kenyataannya tidak semua wanita merasakan hal tersebut. Ada lagi ketika membahas mengenai wanita yang dijadikan obyek seks pada sex tourism, mereka belum tentu merasa tertekan dengan pekerjaan itu dan bahkan banyak dari mereka merasa diuntungkan dengan pekerjaan seperti itu.
Kekurangan lain dari buku ini adalah tidak diberikannya solusi secara jelas oleh Enloe mengenai permasalah-permasalahan yang dibahasnya dalam buku ini. Menurut penulis, Enloe sibuk dengan pemaparannya mengenai posisi wanita dalam sistem internasional dan penderitaannya tanpa mengungkapkan solusi yang dapat dijadikan pertimbangan.
January 28, 2010 No comments
Sejak peristiwa 9/11, Amerika menyerukan perang melawan terorisme yang puncaknya adalah Amerika menyerang beberapa negara di Timur Tengah, Afghanistan dan Irak, yang dianggap sebagai ‘sarang teroris’. Amerika menggalang dukungan dari berbagai negara termasuk Indonesia.
Pada masa pemerintahan Megawati, Indonesia menolak untuk mendukung Amerika untuk melakukan penyerangan terhadap Irak dan Afghanistan. Sementara Indonesia juga menggalang dukungan dari negara-negara Arab dan Afrika untuk menolak rencana Amerika tersebut. Pada masa pemerintahan Yudhoyono, tekanan Amerika untuk meminta Indonesia turut serta dalam penyerangan tersebut tidak surut. Namun Indonesia tetap menolak, karena saat Yudhoyono terpilih tidak lepas dari dukungan beberapa partai islam di DPR. SBY harus bisa meyakinkan mereka bahwa kebijakan luar negerinya dalam isu terorisme tetap memperhitungkan aspirasi konsisten Islam di dalam negeri (Aleksius Jemadu, 2008:180). Indonesia perlu meminta jaminan Amerika bahwa yang mereka perangi adalah para pelaku yang melakukan kekerasan atas nama agama, bukan memerangi suatu agama tertentu. Selain itu gaya kepemimpinan Yudhoyono yang percaya diri dan baik dalam pencitraan diri dapat meyakinkan para pemimpin dunia barat untuk mengimbangi perang melawan teroris dengan kebijakan yang serius dan adil untuk kepentingan umat Islam di Indonesia.
Dominasi global Amerika semakin kuat saat mereka mencetuskan perang terhadap teroris. Mereka kini tidak hanya mendominasi dalam hal ekonomi, politik, dan sosial, tetapi juga mulai mendominasi mengenai keamanan internasional. Karakter Bush yang kuat mencetuskan prinsipnya yaitu, “You are with us or against us” (Sapto Waluyo, 2009: 85). Dominasi Amerika yang semakin kuat ini membuat suatu input dalam sistem politik Indonesia dalam menentukan kebijakan melawan terorisme. Dominasi Amerika yang tertuang dalam kepentingan Amerika, merupakan penekan bagi pemerintah untuk berhati-hati dalam menentukan kebijakan. Karena hal tersebut tidak hanya mempengaruhi Indonesia secara langsung tetapi mempengaruhi negara lain yang pada akhirnya juga mempengaruhi Indonesia dalam menjalankan hubungannya dengan negara lain tersebut.
Hal baik yang dapat diambil dalam hal ini Amerika dan Indonesia tidak bisa saling mengitimidasi. Karena masing-masing dari kedua negara memiliki kepentingan masing-masing. Amerika memiliki kepentingan di Indonesia mengenai kontrak Freeport dan beberapa kepentingan politis lain, sedangkan Indonesia juga memerlukan pemasukan dana dari Amerika melalui pajak Freeport dan bantuan-bantuan lainnya. Untuk itu Amerika tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada Indonesia meskipun Indonesia adalah negara yang tidak sebesar Amerika. Kepemimpinan Yudhoyono mampu membuat Amerika untuk lebih respect kepada Indonesia dengan cara yang lebih halus dan tidak memaksakan seperti periode kepemimpinan sebelumnya.
Indonesia memiliki wilayah yang strategis dalam hal geopolitik dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Jadi langkah-langkah yang dilakukan Indonesia dalam memberantas terorisme pastinya akan mendapat sorotan dari wilayah regional maupun global. Langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia haruslah dapat melindungi kepentingan Amerika maupun kepentingan negara-negara lain yang ada di Indonesia, namun juga harus melindungi segala aspek yang ada di Indonesia yang paling penting yaitu keselamatan warga negara. Dalam hal ini Yudhoyono tidak menjadi pelayan Amerika untuk memberantas terorisme, meskipun dalam hal ekonomi dan politik beliau memiliki ideology yang hampir sama dengan Amerika yaitu neoliberalisme, Yudhoyono tetap menjalankan kepemimpinannya yang tetap melindungi kepentingan umat Islam di dalam negeri.
January 09, 2010 No comments
sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu peristiwa ini terjadi. aku memimpikannya.
dalam mimpiku, dia datang padaku. awalnya dia hanya memegang kepalaku, namun tiba-tiba saja dia menarikku dalam pelukannya.
sambil membelai kepalaku dan memelukku, dia berkata "Sev, I'm sorry. I have to go."
dengan manusiawinya aku bertanya, "Where will you go?"
"I have to go back to US." jawabnya.
kemudian aku melepaskan pelukannya, menatap ke dalam matanya. dia pun melakukan hal yang sama, menatap mataku sambil berkata "I'm Sorry."
dengan masih terpaku dalam keadaan itu, aku hanya bisa berkata. "OK."
dia pun tersenyum dan berkata, "Thank you."
tepat pada saat itu, aku terbangun. masih terpaku dengan apa yang hadir dalam mimpiku, aku menatap langit-langit kamar dalam diam.
kemudian akal sehatku mulai berjalan.
mimpi ini adalah peringatan bagiku, peringatan untuk tidak lagi larut dalam pesonanya. untuk tidak lagi berharap tentang kehadirannya dalam hidupku.
ya, itu peringatan. peringtan untuk melepaskannya. melepaskannya adalah jawabannya.
sebenarnya aku telah menyadarinya dari awal, bahkan detik ketika aku tahu bahwa aku mencintainya, bahwa kami jauh dan benar-benar tak bisa dijangkau.
peringatan itu semakin meyakinkanku bahwa semuanya tidak mungkin. hahaha, bodohnya aku. mengapa aku baru meyakininya sekarang.
selama ini aku berkutat pada keyakinanku bahwa tidak ada yang tidak mungkin. tapi sekarang aku sadar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau.
yah, aku harus melepaskannya. bukan demi dia, tapi demi diriku sendiri.
kadang melepaskan itu adalah hal terbaik yang pernah dipilih.
July 06, 2009 No comments
virus komputer. Sebuah "benda" yang sangat menjengkelkan kita. Menghilangkan data hingga merusak sistem operasi komputer kita. Benar-benar menjengkelkan sekaligus menyebalkan! Apalagi jika virus itu menyerang flashdisk kita yang disana banyak tersimpan data-data yang kita anggap sangat penting dan merupakan hidup mati kita, seperti tugas-tugas kuliah yang harus dikumpulkan, materi kuliah yang harus dipelajari, surat lamaran, surat tagihan, surat hutang, hehehehe....
tapi tenang saja, dibawah ini adalah cara membasmi virus yang meyerang flashdisk yang tipe virusnya merupakan penghilang data alias virus hidden.
inilah yang pertama disiapkan,
1. flashdisk yang sakit
2. komputer yang diharapkan dalam keadaan sehat (sangat disarankan)
3. segelas teh manis hangat atau kopi, atau cappucino
4. sekaleng makanan ringan

dan sekarang saatnya membasmi virus tersebut, let's do it!
1. colokin flashdisk teman-teman ke komputer,apabila autorunnya hidup harap cancel aj…
2. buka flash dari explorer dengan cara klik kanan START > explorer trus buka flashdisk nya,,
3. trus klik View > Detail
4. lalu klik tulisan type sekali,,
5. Nah kalo ada folder atau file MS word / MS excel tapi type nya aplikasi berarti ntu adalah virus..
6. Langsung aja hapus semua dengan di block terlebih dahulu trus pencet SHIFT+DELETE aj..
7. Sekarang flash nya keliatan kosong khan padahal sebenarnya ngak loh…
8. teguk dulu kapucino nya…(^_0), atau minuman apa saja yang kalian siapkan tadi
9. SaaTnya untuk mengembalikan data temen-temen semua…
10.Buka command prompt dengan cara klik start lalu ambil run kemudian klik cmd
11.Setelah ada di prompt (yang layarnya hitam ntu loh)..
12.lalu pindah ke flashdisk temen,misalnya flash saya di detech sebagai drive E di komputer,maka
yang saya klik di Command promot adalah E:
contoh:
C:\>E:
13.maka akan pindah ke drive E,
14.kemudian ketikan Attrib -s -h /D /S
15.Simsalabim…data temen-temen yang hilang tadi telah kembali,,
16. Finally, u found it!!!
NB: Kalau virusnya udah merambah ke drive C,,Cara terbaiknya install ulang aj komputernya lagi…
try it and says "Go to hell virusses"
May 31, 2009 No comments
Hacker. Yang terbayang pertama kali di benak kita adalah seseorang yang merusak sistem jaringan komputer kita dan bahkan melakukan kejahatan dunia maya (cyber crime). Padahal tidak seluruhnya yang disebut hacker adalah orang yang kita pikirkan seperti diatas. Mari kita tinjau lagi pengertian hacker secara linguistik,
Hacker: hack.er = an expert at programming, solving problems with computer.
jadi, hacker adalah orang yang mengoperasikan komputer untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan jaringan komputer.
Jika kita pikir selama ini bahwa hacker adalah orang jahat yang merusak jaringan komputer, maka sebaiknya kita tengok yang dibawah ini, .Pak Onno misalnya adalah salah satu hacker kita. Bayangkan, siapa sangka ternyata wajan bisa menjadi antena wireless? Atau Pak Johar dan kawan-kawan, yang memungkinkan biaya akses internet menjadi lebih ekonomis (dan keuntungan lainnya) dengan bergotong royong membuat IIX (Indonesian Internet Exchange)? Atau kawan-kawan di AirPutih, yang memungkinkan komunikasi segera mulai berjalan kembali pasca tsunami ? Atau rekan-rekan di MicroAid Projects, yang memungkinkan orang dari seluruh dunia untuk memberikan sumbangan modal usaha ke berbagai UKM di pelosok Indonesia? Atau kawan-kawan di AWALI.org, yang memungkinkan warnet berjalan dengan Linux dengan lebih mudah ?

Masih berpikir bahwa semua hacker adalah orang aneh, jahat, dan tidak bisa dimaafkan????
Keep ur opinion.... ^_^
May 31, 2009 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose