Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

Ketika ku sebut hujan, maka kamu akan menyebutkan namanya
Ketika ku rindu gerimis lalu hujan, kau pun mengatakan aku sedang rindu padanya
Menurutmu dia lelaki hujan, menguarkan aroma hujan yang kuat untukku
Tidak, tidak. Tidakkah kau lihat aku menggelengkan kepala berkali-kali.
Dia bukan hujan. Dia matahari.
Aku bisa melihatmu membeliakkan mata, lalu bertanya 'kenapa matahari?'
Dia membuat mataku silau ketika melihatnya, bahkan mungkin bisa membutakanku.
Panasnya mampu membakar apa pun yang ada di dekatnya. Aku terlalu takut mendekat. Takut terbakar.
Dia membuat mendung dari air ketika hari terlalu panas untukku
Dia juga membuat pelangi ketika melihatku cemberut saat hujan menyelimuti kota sepanjang hari
Yang paling penting, aku selalu merindukan matahari ketika hujan selalu membuatku dingin
Kau pun tersenyum, mendengar jawabanku. Karena kau tahu, aku selalu memanggilmu 'matahari'

July 09, 2013 No comments

Saya rindu berbicara denganmu yang ditemani kopi atau teh ketika hujan turun atau hawa dingin sedang merasuk. Mendengarkan ceritamu dengan seksama, tanpa menghakimimu, tanpa menyela, membuatmu tak merasa terabaikan, membuatmu lega.
Saya rindu menceritakan keluh kesah atau kebimbangan hati padamu. Didengarkan dengan seksama, membuat saya merasa hangat tak peduli jika diluar dingin menggigit tulang. Hati saya hangat.
Saya dan kamu menjadi pencerita yang baik, pun menjadi pendengar. Kamu tidak pernah menghakimi saya, hanya mendengarkan, itu saja.
Saya rindu, kopi atau teh yang terabaikan karena mendengarkanmu atau kamu yang mendengarkanku.
Masihkah kamu jadi pendengarku?

June 25, 2013 No comments

Malam ini udara panas dan pengap menyergap, aku terperangkap.
Dalam rindu yang ternyata sudah terlalu dalam, pada sebuah tempat singgah. Aku rindu pada sunyi syahdu stasiun saat menunggu keretaku datang. Pada keinginan gila yang tiba-tiba menyeruak, aku ingin kamu menemaniku dalam perjalanan ini.
Masih terasa jabat erat tanganmu ketika melepasku di peron, hangat tapi membuatku menggigil hebat. Aku pun rindu senyum hangatmu di bawah hujan saat melihatku muncul di peron dengan koper di tangan.
Stasiun mengingatkanku pada jarak, kepada waktu yang membuat jarak itu. Stasiun mengingatkanku padamu yang menungguku.

June 13, 2013 No comments

Masih kurang beberapa jam menuju harimu. Tapi saya ingin mengucapkannya sekarang. Selamat ulang tahun, Ibu.
Entah doa apa lagi yang bisa aku panjatkan selain semoga engkau bahagia di sana. Entah kata apa lagi yang sanggup ku katakan selain aku rindu. Ya, aku rindu. Masih rindu.
Sudahkah kau sampaikan salamku padaNya, pada Dia yang pernah memberikanmu hidup lalu memberiku hidup melalui dirimu? Sampaikan terima kasihku karena telah memberikan dirimu untuk hidupku.
Terima kasih karena pernah ada dan selalu ada. Terima kasih untuk cinta tanpa syarat dan utuh. Terima kasih membuatku ada, hidup, dan utuh.
Aku rindu, Ibu. Rindu.

June 02, 2013 No comments

Sesak, rasanya begitu sesak.
Ada suara dalam kepala, mendesak segala hal
Ada rasa dalam dada, menghimpit raga tak bisa bernapas
Aku ingin sekali pergi, jauh. Sangat jauh.
Ke tempat yang tak seorang pun mampu menemukanku. Termasuk kamu.
Padang kebebasan.
Supaya aku bisa bernapas lagi.
Supaya aku menemukan alasan untuk pulang.
Jika aku tak kunjung pulang, ku mohon temukan aku. Mungkin saja di sana aku tersesat.
Ingatkan aku tentang kamu, seluruh alasanku untuk pulang
Ingatkan aku untuk mengembalikan bagian dirimu yang ku bawa saat aku menghilang

May 28, 2013 No comments

"Beberapa orang takut mengalami penolakan. Beberapa yang lainnya justru takut menghadapi penerimaan"

Tidak kah kamu tahu tentang hal itu? Tentang penerimaan dan penolakan.
Jika kau ingin tahu tentang ketakutan akan penolakan, lihatlah ke dalam dirimu. Kau akan menemukannya.
Jika kau ingin tahu ketakutan akan penerimaan, lihatlah aku dan tanyakan padaku.

May 25, 2013 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose