Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

Memulai bukan hal yang mudah, tetapi jika tidak dimulai bagaimana aku bisa tahu akhirnya?

Ini tulisan pertama saya tahun ini. Saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sibuk? Saya rasa tidak, justru saya punya banyak waktu luang. Mengerjakan tesis? Iya, tetapi tentu saja tidak setiap hari? Mungkin saya hanya malas. Ini tulisan pertama, saya memulai lagi cerita baru.

Berbicara tentang pertama kali, bagi saya pertama kali menjadi sesuatu yang paling membekas daripada sebuah akhir.
Saya masih ingat bagaimana pertama kali seseorang menyatakan cinta kepada saya. Saat itu saya masih 15 tahun. Cinta monyet? Mungkin, tetapi itu cukup membuat saya tersenyum saat mengingatnya. Muda dan sangat naif. Akhirnya? Cukup membuat saya membangun tembok besar yang tebal hingga tak ada seorang pun yang masuk.
Saya ingat pertama kali mendengan Kanker. Rasanya seperti ada palu godam besar yang jatuh ke kepala saya. Tidak, bukan hanya kepala tetapi seluruh tubuh. Saat itu dimulailah pertama kali-pertama kali yang lain hingga akhirnya pertama kali mengalami kehilangan. Cukup membuat saya marah pada hidup dan protes pada Tuhan.
Pertama kali bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu, membuat saya pertama kali meruntuhkan tembok yang bertahun-tahun saya bangun. Membawa pada hari-hari seperti roller coaster, membuat saya takut sekaligus tertantang. Akhirnya? Tidak pernah ada akhir karena saya dan kamu tidak pernah memulai sesuatu.
Pertama kali jauh dari rumah dalam waktu lama, pertama kalinya juga sangat merindukan rumah dan kamu. Tetapi pertama kalinya juga saya memutuskan untuk berbalik arah dari kamu, saya tidak ingin menunggumu lagi. Jika kamu tanyakan mengapa, saya tidak pernah bisa memberikan jawaban yang memuaskan kamu. Tetapi jika kamu memaksa, maka saya akan mengatakan bahwa saya hanya ingin melihat langit yang lebih terang dan senja yang lebih indah.

Pertama kali membuat saya mengingat hal-hal baik, juga mengingat hal-hal buruk tetapi tidak cukup menjadikan hal-hal buruk itu mendominasi. Pertama kali juga membuat saya memaafkan semuanya, termasuk memaafkan diri saya sendiri yang tidak bisa menunggumu lagi
June 17, 2015 No comments
Alexandria, 9 Oktober 2014
Untukmu, tempat ku menjatuhkan hatiku

@Montazah Palace, Alexandria
photo taken by Desty Ardian
"Apa hobimu?" aku bertanya padamu di suatu hari yang basah karena hujan. Kau ingat? Kau sedang menekuni sebuah buku tentang perjalanan sebuah kelinci porselen waktu itu. Pandanganmu menjauh dari deretan kata dihadapanmu, menatapku dengan kedua alis yang menyatu. Seakan aku menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
"Membaca," jawabmu, kemudian berkedip dua kali lalu kembali menekuni bukumu. Aku masih ingat, kau membuat napasku berhenti sedetik ketika kau melakukan itu. Seperti kata orang, ribuan kupu-kupu menggelepak di perutku.
"Mengapa?" aku bertanya lagi. "Bisa membawaku keliling dunia," kali ini kau menjawab tanpa mengalihkan pandanganmu dari cerita fantasi itu.
"Aku ingin pergi ke Alexandria," cetusmu suatu hari sambil menatap langit. Sebuah buku menelangkup di dadamu, naik turun mengikuti setiap hembusan napasmu. "Mengapa? tanyaku. Kau pun menceritakan tempat yang kau ketahui dari buku yang baru saja kau baca, berapi-api, dan rinci. Kau membawaku ke Alexandria saat itu juga lewat kata-katamu.
Kini, aku berada di Alexandria. Langkahku menyusuri pedestrian tepi pantai dari Laut Mediterania. Mataku menyusuri Benteng Qaitbay, melihat dengan jelas apa yang pernah kau ceritakan tentang tempat itu. Tanganku menyusuri setiap punggung buku yang ku temui di Bibliotheca Alexandria. Dan aku melihat senja yang kau ceritakan di Taman Montazah. Semuanya persis seperti yang kau bacakan dari buku, seakan menyembul begitu saja, muncul tiba-tiba.

Aku jatuh cinta, di Alexandria. Sepertimu yang jatuh cinta pada tempat ini hanya dari buku yang kau baca. Aku jatuh cinta, di Alexandria. Mengingatkanku tentang hatiku yang jatuh begitu saja kepadamu.
Aku jatuh cinta, di Alexandria. Meskipun kau meninggalkan hatiku kosong sekian tahun, menunggumu pulang.
Aku jatuh cinta, di Alexandria. Meskipun aku menggenggam angin saat menyusuri pedestrian tepi pantai.
Biarkan aku merindu di Alexandria. Mengingatmu yang pernah menciumku di koridor perpustakaan kampus yang lenggang.
Biarkan aku merindu di Alexandria. Mengingatmu yang pernah menyandarkan kepala di bahuku, menikmati senja kesukaanmu dan angin laut favoritku.
Biarkan aku jatuh cinta sekali lagi, di Alexandria. Seperti aku yang jatuh cinta padamu ribuan kali.
October 15, 2014 No comments
Dare to dream big! -anyone who has big dream

Perjalanan menuju Kairo membawa saya menginjakkan kaki di Dubai Internationa Airport untuk pertama kali, meskipun hanya untuk transit. Melihat kata Dubai tercetak rapi di tiket pesawat, tentu saja saya bersemangat. Begitu memasuki bandara, hanya satu hal yang saya cari. Burj Khalifa. Saya mencari lambang kemakmuran padang pasir yang terkenal itu.
Burj Khalifa tidak terlihat dari Terminal 3A di salah satu bandara tersibuk di dunia itu. Namun begitu menginjakkan kaki di Terminal 3B, saya melihat menara itu menjulang cantik dari jendela besar nan tinggi di bandara. Melihatnya menjulang, saya teringat salah satu teman yang punya mimpi ke Dubai untuk melihat menara yang sama. Dia seorang pemimpi besar yang sedang menyusun langkahnya satu per satu untuk menuju mewujudkan mimpinya, salah satunya keliling dunia dan mengunjungi Dubai. Ia salah satu yang mengajarkan saya untuk bermimpi besar dan mewujudkannya. Melihat apa yang diraihnya saat ini, membuat saya percaya. Sebuah mimpi harus dijalani.
Menara cantik yang berdiri megah di kejauhan tampak menggoda saya untuk melihatnya lebih dekat. Sebelum memasuki pesawat menuju Kairo, saya mengabadikan Burj Khalifa sekali lagi dari kamera smartphone saya. Burj Khalifa berhasil berdiri tegak dan menjulang anggun. Tak ada mimpi yang tak menjulang.

4 September 2014

September 27, 2014 No comments
4 September 2014 (Jakarta-Dubai-Cairo)

Dalam dingin dan keringnya udara di dalam pesawat, aku menulis ini untukmu. Kamu yang tak pernah dekat denganku juga tak pernah jauh denganku. Aku yang diam-diam merindukanmu, dan kamu yang diam-diam merindukanku pula.
Bisa kau bayangkan hatiku berdebar kencang saat menulis ini. Ya, aku gugup sekaligus senang. Pergi ke tempat jauh, meninggalkan yang mencintaiku, berjuang untuk membuat diri ini makin dewasa. Tempat yang hanya bisa kulihat dari gambar yang bisa diunduh di laman internet, dalam beberapa jam akan ku tapaki. Andai kau bersamaku saat ini, aku bertaruh bahwa aku akan menggenggam tanganmu erat-erat untuk menyembunyikan segala gugup yang menghambur kepadaku. Dan aku bertaruh kau akan tertawa terbahak-bahak di sampingku.
I dare to dream big. Itu salah kalimat yang diajarkan beberapa sahabatku. Aku belajar dari mereka untuk berani bermimpi besar, berani bermimpi setinggi langit bahkan seluas jagad raya. Aku yakin kau pun begitu. Kau memiliki mimpimu dan aku dengan mimpiku. Ingin rasanya aku berada di sampingmu, menemanimu berjalan menggapai semuanya. Menggenggam tanganmu ketika kamu gugup, ketika kamu takut, ketika kamu butuh kekuatan. Ingin rasanya pula kau ada di dekatku saat aku menggapai mimpiku. Aku ingin membaginya bersamamu.
Kairo hanya salah satu langkahku, menuju mimpi lainnya. Aku sama seperti manusia lain, tak puas hanya dengan satu mimpi. Tetapi jika itu menyangkut dirimu, rasanya akan lebih dari cukup. Aku pergi tidak untuk meninggalkanmu, aku membuat satu langkah lebih lebar untuk menemuimu di puncak.

Aku merindukanmu
September 10, 2014 No comments
Hari sudah gelap ketika, Alia sampai di rumah. Ia merogoh tasnya untuk mencari kunci dengan terburu-buru, bibirnya gemetar menahan dingin air hujan yang membasahi tubuhnya dalam perjalanan ke rumah. Tidak hanya itu, matanya juga bengkak dengan air mata yang tak surut sejak keluar dari kantor kekasihnya sore tadi. Kunci sialan itu tidak kunjung ditemukannya sampai Alia menumpahkan seluruh isi tasnya dan melihat kunci itu jatuh bersamaan dengan seluruh isi tasnya; handphone, dompet, sisir, notes, dan pulpen. Dengan cepat Alia memasukkan kunci ke lubangnya, lalu memutarnya, dalam waktu singkat pintu rumah terbuka lebar. Tanpa mengembalikan barang-barang ke tasnya, Alia hanya meraup semua barang itu ke pelukannya lalu masuk ke rumah. Dibantingnya pintu rumah, lalu ia duduk di sofa ruang tamu dan menangis keras-keras.
Alia masih tidak percaya, Rio, sahabatnya mengkhianatinya. Ia menemukan Rio dan Gilang, kekasihnya, bertukar ciuman penuh gairah di depan matanya saat ia memasuki kantor kekasihnya (sekarang jadi mantan kekasih). Hatinya terluka, sangat terluka. Alia tidak menyangka sahabatnya menyukai sesama jenis, Rio menyukai Gilang yang sangat dicintai Alia setengah mati. Hatinya lebih terluka, mengetahui Gilang juga sama seperti Rio. Ia dibohongi selama ini, dan Alia merasa sangat bodoh setelah mengetahuinya. Ia juga merasa kotor, mengingat setiap ciuman yang dibaginya bersama Gilang dulu. Apa yang harus ku lakukan, Tuhan? teriak Alia dalam hati. Tuhan maha Pengampun, itu jelas bagi Alia. Apakah ia juga harus memaafkan seperti Tuhan memaafkan manusianya? Tetapi rasanya Alia tidak sanggup melakukan hal itu, ia bukan Tuhan. Apa yang bisa kau lakukan Alia? suara hatinya bertanya. Alia tak tahu jawabannya. Tidak, ia tak sanggup menjawabnya.
August 31, 2014 No comments

Jika tidak menemukan keberanian, maka aku tidak pernah melihat dunia

Saya baru saja membaca artikel yang menarik dari worldofwonderlust.com tentang solo trip. Kemudian saya membuka kotak memori melalui ‘buku kenangan’ yang berisi segala macam bukti kesenangan (termasuk tiket kereta, tiket masuk tempat wisata, hingga tiket bioskop), mengingat apakah saya pernah melakukan solo trip atau belum. Thanks God! Saya pernah melakukan solo trip. Bukan ke luar negeri atau luar pulau seperti traveler sejati lainnya. Saya ‘hanya’ mengunjungi Yogyakarta, sebuah kota istimewa sesuai namanya.
Solo trip pertama saya terjadi pada bulan April 2012 selama 4 hari. Mungkin akan memalukan jika saya katakan alasan pertama saya melakukannya di sini, tetapi saya putuskan untuk mengatakannya demi diri saya sendiri dan orang lain yang berniat menggunakan alasan yang sama. Oke, waktu itu saya beralasan ingin mencari data untuk skripsi, and honestly I did it! Kemudian saya berpikir ulang bahwa itu hanya alasan yang saya buat untuk melakukan sebuah ‘pelarian’ singkat. Dan saya tidak menyesal pernah ‘berbohong’ seperti itu, karena saya mendapatkan kesenangan juga kebutuhan untuk skripsi. Ahli Bahasa Indonesia akan mengatakan ‘sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui’ untuk hal ini, bukan?
Seperti backpacker sungguhan, saya pun memilih penginapan murah yang jauh dari keramaian pusat wisatawan dan jauhnya akses kendaraan umum. Waktu itu saya menginap di Hotel Puspita dengan harga kamar 80rb/ malam, dengan kipas angin, kamar mandi dalam yang lumayan bersih, dan sarapan setiap pagi. Ku mohon jangan hakimi atas pilihan saya ini, karena waktu itu saya masih menjadi pemula untuk hal ini (bahkan masih sangat pemula hingga saat ini). Jarak antara tempat menginap dengan shelter TransJogja sekitar 600 m, berjalan kaki sejauh itu setiap hari cukup membuat kaki pegal karena tidak terbiasa sebelumnya. Hotel itu juga milik keluarga, yang bagian resepsionisnya tidak bisa stand by 24 jam di meja resepsionis. Sampai saat ini saya masih merasa bersalah karena mengetuk pintu dan membunyikan bel berkali-kali pada pukul 2 pagi, di hari pertama saya datang ke Yogya.
Hari pertama saya di Yogya, saya langsung menuju salah satu kampus terbesar dan luar biasa untuk mencari bahan menulis skripsi. Ingat, saya menggunakan skripsi sebagai alasan dan saya hanya berusaha memenuhinya saat itu. Usaha saya tak sia-sia, beberapa buku saya temukan dan petugasnya bersedia memfotokopi untuk saya ambil di hari terakhir saya di Yogya nanti. Setelah memastikan saya memenuhi ‘janji’ itu, tentu saja saya bersenang-senang.
TransJogja berbeda dengan TransJakarta, sangat berbeda. Selama 4 hari di kota ini, saya naik turun bus mini ber-AC warna hijau tersebut. Kartu multitrip seharga 25 ribu rupiah sangat membuat perjalanan lebih efektif dan lebih murah. Tetapi shelter yang disediakan kurang banyak, mungkin karena kota ini tidak sebesar Jakarta. Saya lebih banyak berjalan kaki menuju tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Pertama, saya harus jalan kaki lebih dari 1 km untuk mencapai Taman Sari setelah turun dari TransJogja di kawasan antah berantah yang tidak saya kenal waktu itu. Lelah? Tentu saja. Menyesal? Tidak sama sekali. Jika wisatawan mengunjungi Taman Sari, mayoritas akan menuju pintu masuk yang ada tiket box-nya. Mereka akan disuguhi oleh kolam mandi para ratu dan putri keraton terlebih dahulu, baru diajak mengelilingi Masjid Bawah Tanah dan reruntuhan ‘vila’ kerajaan dengan melewati kampung yang ada disekitarnya. Berkat TransJogja, saya melakukan sebaliknya. Tanpa pengetahuan yang cukup, saya justru melewati perkampungan, reruntuhan ‘vila’ kerajaan, Masjid Bawah Tanah, lalu bagian utama Taman Sari. Tidak ada guide, tidak ada teman. Membuat saya leluasa berjalan sambil mengamati perkampungan itu. Inilah mengapa saya katakan tidak menyesal sama sekali.
Kedua, untuk ke Keraton Yogyakarta, saya harus turun di shelter Taman Pintar atau shelter Malioboro 3 lalu berjalan kaki. Sebenarnya ada becak, waktu itu saya berpikir mending jalan kaki daripada menghabiskan 10-15 ribu untuk naik becak. Pemikiran kere? Terserahlah, saya tidak peduli dengan hal itu. Terakhir kali mengunjungi keraton, saat saya kelas 2 SMP pada tahun 2007. Ada yang berubah? Saya rasa tidak. Keraton tetap berdiri kokoh dengan abdi dalem yang setia. Kalau dulu saya mengunjungi keraton dengan lebih banyak berkeliling dan berfoto bersama teman-teman, saat itu saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk manis menonton pertunjukan wayang lalu mengobrol dengan abdi dalem.
Obrolan dengan abdi dalem cukup menarik. Pertama, abdi dalem yang saya temui saat itu bukan kakek-kakek sepuh, tetapi bapak-bapak paruh baya yang terkejut dengan anak gadis yang bepergian sendiri. “Bapak sudah berapa lama mengabdi?” tanya saya pada beliau yang dijawab, mungkin seumur hidupnya ia sudah mengabdi. Bisa dibayangkan, mata saya hampir copot mendengar hal itu. Tetapi si Bapak segera mengkonfirmasi bahwa beliau sejak kecil sudah melihat kakek dan bapaknya mengabdi untuk keraton, maka beliau pun memilih jalan yang sama. Luar biasa, adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya saat itu. “Semoga berhasil kuliahnya, dan selamat menikmati Jogja,” diucapkan si Bapak ketika mengakhiri obrolan dengan saya.
Ketiga, mengeksplor pasar buku di belakang Taman Pintar dekat dengan Taman Budaya Yogyakarta tidak bisa saya lewatkan begitu saja. Hampir sama dengan Pasar Buku Wilis di Malang, toko-toko kecil dengan koleksi buku bekas, baru, hingga bajakan. Saya tidak berhasil mendapatkan Anna Karenina karya Leo Tolstoy, tetapi saya mendapatkan serial Sherlock Holmes dengan harga super miring.
Belanja di Yogya? Harus, ini menurut saya. Mirota batik, one stop shopping. Di mana saya mendapatkan berbagai penak-pernik lucu untuk oleh-oleh keluarga dan teman satu kamar kos. Pasar Beringharjo adalah pasar yang membuat saya penasaran setengah mati. Pertama, tentu saja saya belanja batik di bagian depan yang berderet stand-stand batik. Satu batik seharga 60 ribu untuk tubuh saya yang besar, sudah cukup murah bagi saya. Tidak itu saja, penasaran saya berlanjut sampai saya melangkah ke bagian belakang pasar yang menjual bahan-bahan untuk membuat jamu tradisional. Aromatherapy khas rempah-rempah langsung menusuk hidung saya, rasanya seperti menerima healing gratis. Bagi yang tidak suka aroma macam itu pasti langsung pusing dan muntah.
The highlight dari solo trip saya adalah a date with old friend. Sahabat cowok sejak SD hingga SMA, yang menempuh pendidikan di Solo. Sejak lulus SMA, saya belum pernah bertemu dengannya hingga dia rela menemui saya di Yogya saat itu. Kami janji bertemu di depan Taman Pintar, kemudian mengisi perut di depan Pasar Beringharjo. Pecel murah meriah dengan berbagai pilihan lauk dan es teh sebagai penyegar. Museum Affandi adalah tujuan date kami saat itu. Menaiki TransJogja dari shelter Malioboro 3 ke Museum Affandi di Jl. Laksda Adi Sucipto harus memutar jauh sekali diwarnai dengan macet, hingga memakan waktu perjalanan sekitar satu jam. “Apa kabar?”, “Sedang sibuk apa?”, “Sudah punya pacar?”, adalah tiga pertanyaan utama yang diajukan untuk masing-masing diri. Sahabat saya ini luar biasa. Saya selalu menilainya seperti itu sejak SD. Dia salah satu yang memiliki kekurangan di dirinya, tetapi tidak menjadikan kekurangan itu sebagai kelemahan. Saya masih ingat, saat lulus dari SD, guru saya curhat soal kekhawatirannya terhadap sahabat saya itu. Khawatir dia menjadi bahan bullying, yang ternyata kekhawatirannya tidak terjadi sama sekali. Sense of humor yang luar biasa dan kebaikan hatinya yang juga luar biasa mampu menutupi segala kekurangan di dirinya, hingga ia bisa melalui seluruh bagian hidupnya tanpa sedikitpun terganggu oleh pendapat orang lain tentang kekurangannya. Tidak hanya itu, otaknya yang encer membuatnya dipercaya oleh dosen dan mendapatkan pekerjaan yang yang sesuai passion-nya, tata kota. Dia juga salah satu yang tidak roaming saat membicarakan isu-isu yang menjadi bidang saya karena pengetahuannya yang luas.
Waktu itu dia minta maaf tidak bisa datang ke pemakaman ibu saya yang terjadi pada 2010. Kemudian, saya bercerita tentang beberapa hal yang terjadi pada hidup saya setelah kematian ibu saya kepadanya. Dia mendengarkan, hanya mendengarkan. Sebelum dia kembali ke Solo petang itu, dia mengatakan yang intinya “Kita harus traveling bareng kapan-kapan”, saya mengiyakan.
Malam itu di kamar hotel, saya sadar betapa beruntungnya diri saya. Pertama, saya beruntung menemukan keberanian untuk traveling seorang diri. Kedua, saya beruntung tidak pernah memburu diri saya sendiri untuk membuat diri saya sama seperti traveler lainnya. Karena dengan melakukan segalanya secara perlahan dan tepat, saya bisa menemukan kepuasan tanpa penyesalan sedikit pun. Ketiga, saya beruntung memiliki sahabat seperti sahabat saya itu. Darinya saya belajar mengolah kekurangan menjadi kekuatan, tidak menjadikan kekurangan sebagai hambatan. Solo trip sederhana itu memberikan saya keberanian untuk melakukan solo trip selanjutnya.
August 22, 2014 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose