Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply

Klik, adalah yang pertama kali saya dengar di kepala saya ketika salah seorang teman mengirimkan foto sepatu lari yang dikenakannya dengan latar belakang rintik hujan. Habis lari, katanya ketika saya menanyakan sedang apa kepadanya. Melihat rintik hujan dan sepatu lari warna hitam dengan kombinasi warna hijau neon itu membuat saya ingin menceritakan sesuatu.

Saya seseorang yang tidak menyukai hujan, tetapi saya selalu merindukan hujan. Katakanlah saya terjebak love-hate relationship bersama hujan. It' was tiring, very tiring. Karena saya memakai perbandingan itu untuk menggambarkan love-hate relationship sepihak yang saya rasakan terhadap suatu hal dan juga seseorang.

It was tiring. Yes, it was. Ketika saya tidak tahu caranya menari bersama hujan, dan tidak tahu caranya menikmati gejolak perasaan yang naik, turun, serta memutar seperti roller coaster. It was tiring, ketika saya belum bisa bernegosiasi dengan perasaan saya dan penghakiman-penghakiman yang ditujukan kepada saya kala itu.

Melihat sepatu lari yang ia kenakan dengan latar belakang rintik hujan, membuat saya merindukannya sekaligus membuat saya mengingat bagaimana saya bisa berdamai dengan semua hal yang melelahkan itu. Time will heal everything, and it's work for me. Love-hate relationship  yang saya alami sudah menghilang. Namun ada yang tersisa dari itu, yakni cherish. Ya, I cherish the rain, I cherish him, and I cherish my self.

Saya menikmati rintik hujan yang jatuh ke dahi saya saat menengadahkan kepala, ketika saya sudah belajar bahwa hujan menghapus panas dan debu seharian. Seperti hujan yang meluruhkan lelah dan jengah yang saya alami seharian. Saya menikmati setiap percakapan jarak dekat maupun jarak jauh tanpa berharap apa pun kecuali pertemuan kembali untuk menceritakan kembali tentang apa pun yang kami lewatkan secara terpisah. Saya menghargai setiap hadirnya, dan setiap usahanya untuk mempertahankan ikatan yang terbentuk antara saya dengan dirinya. Karena saya tahu, akan sangat bodoh sekali apabila apa yang kami bangun selama ini hancur karena keegoisan salah satu diantara kami.

Saya sudah memutuskan untuk tidak lagi berpura-pura bahwa saya memiliki perasaan untuk dirinya, keputusan itu sudah lama dibuat dan saya menemukan diri saya membaik ketika mengakui hal itu. Ketika dia membaca tulisan ini nanti, saya berharap dia tidak lari. Saya harap dia akan memuji saya karena keberanian saya, dan belajar untuk melewati ini dengan baik tanpa merusak apa pun. Karena saya yakin, dia mampu mengataasi hal ini dengan baik seperti saya. Karena saya pun yakin, dia bisa menari bersama hujan seperti yang selalu saya lihat dari dirinya selama ini. Karena menikmati hujan akan selalu lebih baik daripada harus menggertutu. Karena penerimaan akan suatu keadaan akan selalu lebih baik daripada melakukan penolakan yang sia-sia bukan?

Thanks for the picture, memories, and lesson


September 15, 2016 No comments
Singapore, 6th February 2016

July 23, 2016 No comments
Kau pernah memberiku edelweis, pada suatu hari saat hujan turun. Saat aku kesal padamu, entah karena apa.
Kau pernah memberiku edelweis, pada suatu hari saat hujan turun. Kau bilang 'Aku tidak memetiknya, aku membelinya dari seorang penjual di kaki gunung kemarin,' aku hanya tersenyum mendengarnya. Kesalku padamu hilang seketika.
Kau pernah memberiku edelweis, pada suatu hari saat hujan turun. Aku mengira kau dan aku akan bersama. Ternyata mimpi kita berbeda, kau dengan jalanmu dan aku dengan jalanku.

Edelweis itu masih di sana, di rumah masa kecilku di lemari pajangan ruang tamu. Aku selalu mengingatmu.
Edelweis itu masih di sana, di rumah masa kecilku di lemari pajangan ruang tamu. Kamu selalu mengingatku.
Edelweis itu masih di sana, di rumah masa kecilku di lemari pajangan ruang tamu. Aku tak pernah mengunjunginya lagi.
Edelweis itu masih di sana, di rumah masa kecilku di lemari pajangan ruang tamu. Kau lupa pernah memberiku edelweis, sama seperti kau lupa memenuhi janjimu mengajakku menonton film terbaru di bioskop.

Ku kira edelweis tak akan pernah layu, bunga abadi katamu. Namun kelopaknya mulai rontok dan batangnya mulai berlubang, kata bibi penjaga rumah masa kecilku.
Kau salah, edelweis tidak abadi. Dia pun layu.
Kau dan aku tidak abadi, kau benar dalam hal ini. Kau dan aku akan selalu memilih jalan berbeda. Seperti edelweis yang memilih layu daripada harus menunggu pemiliknya kembali.
Edelweis pun layu, kau tak mengingatnya dan aku tak pernah kembali.
July 16, 2016 No comments
Sebuah alasan tetaplah menjadi alasan, kecuali kau mampu menegosiasikannya

Aku baru menyadari kalau daya produksiku menurun drastis tahun kemarin. Bahkan aku belum menulis sama sekali tahun ini. Kecuali jika kali ini dihitung sebuah tulisan, maka inilah tulisan pertamaku tahun ini.
Jika ditanya mengapa produktivitasku turun, maka jawabanku adalah aku tidak sedang jatuh cinta (I can see that you're rolled your eyes to me!).

Aku tahu itu absurd dan tidak masuk akal. Tapi kali ini aku akan bernegosiasi denganmu.
Kalau kau bilang alasanku absurd dan tidak bisa kau terima, aku mengerti. Karena memang menulis butuh konsistensi, alasan yang ku berikan kepadamu hanya alasan saja. Kau menganggapku malas. Aku mengerti, aku paham semua itu.
Tapi kalau boleh aku menambahkan, aku belajar melawan mood. Tidak sedang jatuh cinta kemudian tidak menulis adalah keadaan paling buruk yang ku alami, mood paling buruk yang ku alami dan cukup menjadikanku tidak produktif.
Ketika aku sedang jatuh cinta, aku mendapatkan banyak inspirasi. Rasa deg-degan ketika aku melihatnya, saat pipiku memerah karena bersamanya, saat cemburu ketika dia tidak memperhatikanku, bahkan saat patah hati ketika tahu bahwa hanya aku yang menyukainya tetapi dia tidak menyukaiku. Semua itu membuatku menulis. Aku menulis supaya dunia tahu aku sedang jatuh cinta pada pria terbaik di mataku saat itu. Aku menulis supaya aku baik-baik saja saat aku patah hati.

Ironi sekali bukan? :)
Aku memang bukan penulis yang kau harapkan. Tulisanku acak-acakan dan semaunya. Tapi mengetahuimu menggemari tulisanku dan menungguku untuk menghasilkan bacaan baru bagimu, aku bahagia. Aku tahu itu caramu mencintaiku. Maka, bisakah kau membuatku jatuh cinta kepadamu lagi? Supaya aku bisa menulis tentangmu, bahkan saat kau mematahkan hatiku. Jika kau membuatku patah hati sekali lagi, aku harap kau bisa membuatku jatuh cinta lagi. Bisakah kau melakukannya terus. Maka aku akan menulis terus, lagi, dan selamanya.
March 04, 2016 No comments
Ketika bicara tentang cinta, tolong jangan sebut dirimu atau diriku saja. Tolong sebutkan 'kita'. Aku tak mampu mencintai jika hanya seorang diri.

Saat itu malam semakin larut di Ismailia, derajat suhu semakin menurun, maklum saja Mesir memasuki musim dingin setiap akhir tahun. Tapi malam itu, saya dan teman sekamar belum bisa memejamkan mata, padahal esok pagi kami harus pergi ke kantor imigrasi Ismailia untuk mengurus perpanjangan visa. Tak ada suara obrolan sama sekali, mesikpun kami berada dalam satu kamar. Saya berkali-kali memandangi ponsel sambil sesekali scrolling sana-sini, salah satu teman saya (Diah, namanya) sedang membaca al-Quran dengan suara lirih, lalu Nisa sedang sibuk dengan laptopnya.

"Kalian butuh cinta ngga sih untuk menikah?" tiba-tiba saja saya menyeletuk saat jemari saya berhenti pada sebuah nama di jendela chat Whatsapp. Kedua teman saya langsung fokus kepada saya. Diah sampai menghentikan bacaannya lalu melepas mukenanya. Nisa bertanya mengapa tiba-tiba saya menanyakan hal itu. Saya hanya mengangkat bahu lalu tertawa.

"Ngapain tiba-tiba ketawa?" Diah pun tiba-tiba ikut tertawa besama saya. Mungkin geli melihat kelakuan saya yang tiba-tiba saja sangat serius lalu tiba-tiba tertawa begitu saja sedetik kemudian. "Seriously, I just want to know. Do you need love to get married?"
"I do," Nisa menjawab dengan mantap. "Alasannya?"
"Sebagai jaminan aku akan diperlakukan dengan baik dan diperjuangkan."

Nisa mengembalikan pertanyaan kepada saya, yang saya jawab dengan mantap bahwa saya tidak butuh cinta untuk memulai sebuah pernikahan, cukup dengan visi yang sama dan perjanjian 'tak tertulis' selain akad nikah untuk memasuki kehidupan yang baru itu. Kedua teman saya memandang saya dengan tatapan bertanya, 'apa kau yakin?'. Jika mereka mengajukan pertanyaan itu dengan lantang, saya sendiri tidak tahu apakah saya mampu menjawabnya atau tidak.

"Kamu tidak percaya cinta?" Diah mengajukan pertanyaan. "Bukankah saat ini kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Seseorang yang sering berbicara denganmu lewat LINE selama di sini, yang bukan orang tuamu?"
Saya menggeleng lalu menjawab bahwa saya tidak menjalin hubungan dengan siapa pun, lelaki itu hanya teman baik. "Tetapi lelaki itu membantu saya mengingat bagaimana jatuh cinta, patah hati, lalu kembali bangkit." jawab saya sambil tersenyum, memandangi sekali lagi nama yang muncul pada jendela Whatsapp.

Ismailia sangat dingin saat itu, seperti itulah saya mengingat lelaki itu. Lelaki yang jauhnya ribuan kilometer, yang suaranya masih selalu terdengar dekat di telinga saya.
November 07, 2015 No comments
Mengingat hujan sama seperti mengingat kamu. Kamu yang kadang seperti deras hujan, dan kamu yang kadang seperti petir menggelegar. Seperti itulah aku mengingatmu. Hujan dan kamu, merindukannya sekaligus menghindarinya.
November 07, 2015 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose