Linkedin Instagram

Pages

  • Home
  • About
  • Contact

SEVY KUSDIANITA

let me tell you a story, about you and me falling in love deeply




Saya jarang mengulas tentang film. Mungkin bahkan tidak pernah selama beberapa tahun terakhir. Kali ini saya membagikan pengalaman menonton Genius. Colin Firth, Jude Law, dan Nicole Kidman masih menjadi aktor dan aktris favorit. Saya jatuh cinta pada akting Colin Firth ketika dia membintangi serial Pride and Prejudice versi BBC, sampai saat ini saya selalu menikmati dengan baik aktingnya di beberapa film. Di film Genius pun Colin Firth juga memukau saya dengan karakternya sebagai Maxwell Perkins, seorang editor yang menemukan Hemingway, Fitzgerald, dan Wolfe.
Film ini sudah saya lirik sejak akhir tahun lalu, hanya saja saya masih ragu menontonnya. Hingga kemaren seorang penulis sekaligus teman saya merekomendasikan film ini setelah saya berujar sesuatu kepadanya tentang pekerjaan saya. Saya pun menonton film ini.
Patah hati. Perasaan yang pertama kali muncul dalam diri saya. Wajar saja, karena saya merelasikan alur cerita dengan kehidupan nyata. Sama seperti Perkins, saya seorang editor meskipun masih seumur jagung. Saya tidak bisa membandingkan pencapaian Perkins dengan apa yang baru saya mulai dalam kehidupan saya. Tetapi saya bisa merelasikan bagaimana Perkins patah hati ketika penulis-penulisnya tidak mampu lagi menuliskan satu kalimat pun. Atau ketika penulisnya terlalu jumawa dengan nama besar yang berhasil dicapai.
Perkins selalu bisa menemukan batu yang dia percaya akan bersinar. Dia memoles batu itu, hingga menjadi permata. Kadang Perkins sadar permata itu akan berpindah tangan, tetapi kadang dia juga naif bahwa permata itu akan selalu berada di genggamannya. Saya akui bahwa saya pun pernah sangat naif. Percaya bahwa seseorang yang saya temani ketika berada di masa sulit, akan ada bersama saya ketika dia sudah menjadi besar. Kenyataannya berbalik 180 derajat dari yang saya percaya. Karena itu saya pun patah hati.
Pekerjaan editor hanyalah menemani proses penulis untuk sebuah buku. Menyediakan sarana dan sedikit polesan untuk diantarkan kepada pembaca. Seperti kata Perkins, buku akan selalu menjadi milik penulis, editor hanya bertugas mengantarkannya kepada pembaca. Editor tidak perlu kredit untuk setiap proses kreatif penulis, pembaca yang mengulas dengan baik dan mengkritik dengan kritis sudah cukup.  Jauh sebelum saya memahami ini, sepertinya saya telah belajar tentang hal ini. Menemani seseorang hingga sampai puncak lalu berdiri dibawah sambil tersenyum puas, tak peduli jika ia tak memperhatikan kalau saya telah berbalik pergi.
Saya masih perlu banyak belajar untuk melepaskan. Seperti Perkins yang merelakan Fitzgerald untuk tidak menuliskan kata-kata lagi. Atau seperti ketika Perkins merelakan Wolfe pergi untuk selamanya ketika ia sedang berada di puncak.
Tampaknya saya menemukan padanan kata baru untuk editor. Editor sama dengan melepaskan.
July 30, 2017 No comments
Entah sudah berapa banyak saya berbicara tentang mimpi. Rasanya sejak saya memiliki halaman blog ini saya sudah membicarakan tentang mimpi. Saya ini pemimpi, bahkan bapak saya pernah bilang 'kamu kebanyakan mimpi'. Ah iya, saya memang kebanyakan mimpi.

Saya pernah bermimpi pergi keliling dunia. Taukah bagaimana saya mewujudkannya? Saya mengajukan permohonan paspor tanpa saya tahu kapan atau ke mana saya pergi berkeliling dunia. Orang bilang, saya impulsif. Tapi saya bilang, saya sedang berdoa untuk terwujudnya mimpi saya. Tahukah apa yang terjadi? Setahun setengah dari pembuatan paspor itu, saya benar-benar pergi keluar negeri. Bahkan saya pergi ke tiga negara pada tahun yang sama. Pada tahun-tahun berikutnya saya masih punya mimpi keliling dunia.

Saya pernah bermimpi untuk menulis seumur hidup saya, atau lebih tepatnya menjadi bagian dari proses kreatif sebuah buku. Orang bilang menulis itu tidak banyak penghasilan, tidak punya jadwal gajian yang tetap, dan kerjanya selalu berkhayal. Saya sempat berhenti untuk mewujudkannya, mencoba menjadi 'normal' dengan mengejar karir kantoran dengan gaji tinggi dan tetap. Tetapi ternyata saya tidak menikmatinya. Saya pun kembali lagi impulsif, bekerja di bidang kreatif dengan gaji yang cukup untuk bayar kosan. Menyesal? Saat ini belum, saya masih dalam tahap sedang senang-senangnya. Bakal menyesal? Ngga tahu, belum kelihatan.

Masih punya mimpi? Masih. Banyak pula.
Saya masih ingin terus jadi pemimpi, hidup dalam mimpi, dan menikmati mimpi. Biar apa? Biar saya bahagia.
June 08, 2017 No comments
Tolong saya. Ini yang pertama kali saya ucapkan dalam hati ketika mengalami hal yang benar-benar mengguncang saya kemaren. Tolong saya. Tolong saya.
Sudah lama saya memiliki krisis kepercayaan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Saya tidak nyaman jika harus terlalu percaya pada orang, bahkan saya tidak nyaman jika orang lain menaruh kepercayaan pada saya. Tidak hanya orang lain, bahkan saya tidak nyaman ketika hewan peliharaan menaruh rasa percaya yang besar pada saya.
Ada banyak hal terjadi di masa lalu yang membuat saya menjadi seperti ini. Ya, seperti yang sudah banyak diduga. Kesalahan satu orang pada saya membuat saya menarik kesimpulan. Saya tahu kesimpulan ini salah. Tetapi wajar jika saya tidak ingin mengulangi kesalahan itu.
Banyak hal yang terjadi karena hal ini. Mungkin orang membenci saya, karena mereka merasa tidak dibutuhkan atau tidak dipercaya. 
Saya mencoba mengatasi hal ini dengan mengadopsi satu hewan untuk membantu saya. Kali ini pun saya menghancurkan sendiri usaha saya karena hal-hal yang saya takutkan bisa terjadi. Mengembalikan hewan yang saya adopsi memang bukan hal yang benar, saya menghancurkan komitmen yang saya buat dengan lembaga adopsi tersebut. Saya sadar bahwa saya akan dihujat oleh aktivis animal welfare manapun. Saya sejujurnya tidak takut dihujat. Saya lebih takut hewan tersebut tidak mendapatkan kasih sayang optimal dari saya. Saya lebih takut dia merasa dibuang oleh saya, meskipun secara fisik dia bersama saya. Saya lebih takut pada sorot mata hewan daripada tatapan penuh hujat dari manusia. Oleh karena itu saya kembalikan hewan tersebut pada orang yang lebih baik daripada saya.
Tolong saya. Tolong saya. Saya tidak tahu pertolongan apa yang saya butuhkan. Tolong saya.
March 07, 2017 No comments
Tuhan menciptakan manusia bukan karena kita layak menjadi manusia. Tuhan hanya menguji, apakah kita benar-benar layak menjadi manusia
November 18, 2016 No comments
Kalau memang rindu, katakan saja rindu. Tak usah kau bikin drama karena kesal pada gengsimu sendiri.

Baru saja saya membaca kembali halaman blog seorang kawan baik yang kini berada ratusan kilometer dari Semarang. Halaman blog yang menyadarkan saya betapa saya sangat merindukan kawan saya ini. Seorang yang seperti keluarga, yang orang tuanya sudah seperti orang tua sendiri. Seorang yang rumahnya sudah menjadi tempat 'pulang' bagi kami, teman-temannya. Seorang yang punya mimpi, yang membuat orang seperti saya bahkan tertular semangatnya untuk mewujudkan mimpi. Ah, saya rindu berbincang dengannya.

Mungkin saya terlalu sering mengajukan alasan untuk tidak mengunjunginya setahun belakangan ini. Entah karena saya sok sibuk, atau saya hanya malu menemuinya. Karena saya merasa jauh tertinggal dari dirinya. Ini absurd. Sangat absurd. Karena saya tahu, dia akan selalu membuka tangannya untuk saya kapan pun saya datang. Dia akan selalu membuka pintu rumah dan mengucapkan selamat datang. Saya juga tahu dia akan dengan tenang mendengarkan segalanya, karena dia baik. terlampau baik.

Atau saya hanya ingin melupakan? Melupakan sebuah kota yang menjadi saksi saya tumbuh. Ada begitu rasa bahagia di sana, juga rasa sakit. Rasa sakit yang membuat saya bisa melupakan rasa bahagia. Lagi-lagi ini tak masuk akal. Mengapa orang bisa lebih merasakan sakit daripada merasa bahagia? Mengapa orang bisa lebih mudah melupakan bahagia? Mungkinkah manusia sangat se-delusional itu?

Tapi, kawan saya ini menjadi salah satu pemicu saya untuk kembali ke kota ini. Mematahkan seluruh visi delusi yang saya bangun selama beberapa tahun terakhir. Sekaligus untuk membuktikan bahwa mimpi memang harus wujudkan. Begitu bukan?

Dear, kota yang selalu dingin padaku. Cukuplah aku merindumu sekarang.
October 18, 2016 No comments
I want to wander, not to feel the joy or the pain. But to understanding.
Pagi ini saya dikejutkan oleh notifikasi email dari seorang teman baik. Subyek emailnya membuat saya penasaran, tentang sebuah dunia yang dekat namun begitu jauh. Tentang ide yang hidu didalamnya, yang membuatnya seakan tak bisa terjangkau. Sebuah vlog dari seorang pelaku perjalanan yang membuat saya tertegun sekaligus iri. Saya tertegun dengan keberaniannya, tentu saja tentang mengambil resiko serta penghakimannya yang 'polos' namun membuat hampir siapa pun menyetujuinya. Kemudian saya juga iri, karena dia bisa menjajak dunia itu lalu bercerita kepada dunia tentang semua yang dialaminya di dunia itu.



Bagi saya, Korea Utara sudah berada di satu tempat istimewa di hati saya. Bagaimana tidak menjadi istimewa, kalau negara ini telah mengantarkan saya menuju jenjang lebih jauh dalam hidup saya? Korea Utara menjadi salah satu 'pintu' yang membawa saya kepada pilihan-pilihan hidup berikutnya, yang membuat saya sampai pada titik saat ini. Korea Utara juga meluruhkan segala penghakiman saya terhadap segala hal yang dianggap berbeda, membuat saya lebih bisa memahami daripada menghakimi secara tidak adil.

Video blog berdurasi sekitar empat belas menit tersebut dibuat oleh Jacob Laukaitis (kalian bisa mencarinya di laman youtube untuk mengikuti cerita perjalanannya), saat berkunjung ke Korea Utara. Tidak mudah mengunjungi negara yang cenderung menutup diri dari dunia, diperlukan izin yang cukup sulit prosesnya untuk mendapatkannya, diperlukan himbauan yang harus berkali-kali diulang agar tidak melakukan kesalahan, dan menekan segala bentuk rasa penasaran berlebihan yang bisa membuat diri celaka. Jacon Laukaitis berhasil memenuhi aturan-aturan itu sehingga saya bisa menikmati ceritanya.

Saya rasa ketika orang bilang 'waktu terasa berhenti' di Korea Utara, rasanya saya tidak melihat itu di video blog ini. Semua orang bergerak maju di negara ini, hanya saja cara mereka bergerak maju tidak sama dengan cara kita atau cara masyarakat lain di belahan dunia lainnya di bumi. Mereka telah mengizinkan turis berambut pirang dan bermata biru untuk berkunjung ke negara mereka, tentu saja dengan aturan-aturan yang mengikat. Saya rasa aturan itu pun dibuat bukan untuk membatasi diri terhadap dunia luar, tetapi untuk menunjukkan identitas mereka kepada dunia. Bahwa mereka punya nilai-nilai yang diyakini, dan cara hidup yang cocok dengan identitas mereka. Sama seperti kita yang memiliki prinsip atau aturan-aturan yang kita buat sendiri untuk menunjukkan identitas kita pada orang-orang di sekitar kita. 

Korea Utara mengalami banyak hal untuk bisa sampai pada kehidupaan saat ini, tentu saja dengan cara mereka. Jika beberapa negara lain memilih untuk berjalan di ide yang sama, Korea Utara memilih untuk tetap mengikuti ide yang dipilih dan disusunnya sendiri. Jika ada beberapa yang menganggap apa yang terjadi di Korea Utara adalah karena ambisi pemimpinnya, sebaiknya saya mulai membuka lagi catatan lama lalu menganalisanya lagi. Jika sebagian besar menganggap hal itu melanggar Hak Asasi Manusia, tampaknya perlu dibuka lagi tentang asal definisi hak asasi manusia. Karena saya meyakini definisi itu bisa berbeda tergantung pada latar belakang tempat, kondisi, dan budaya. Saya tidak ingin memberikan penghakiman apa pun pada apa yang terjadi, bukan berarti saya tidak punya empati. Saya hanya ingin memahami untuk apa yang mereka pilih, dan saya rasa hal itu akan memunculkan pesonanya sendiri. 
October 10, 2016 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me




a wanderer, in a past time and to the future
a reader, who suddenly stop to laughing or crying
once an editor, who loves to read so much


Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  September (2)
      • Aruna dan Lidahnya: Film yang Bikin Laper tapi Ngg...
      • Berhenti Menjadi 'Normal'
    • ►  August (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (4)
    • ►  November (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (1)
    • ►  January (4)
  • ►  2012 (41)
    • ►  December (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (4)
    • ►  May (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2011 (42)
    • ►  December (13)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  January (2)
  • ►  2009 (10)
    • ►  July (1)
    • ►  May (9)
  • ►  2008 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)

Pageviews

Cuap-Cuap

Tweets by SevyKusdianita

Created with by ThemeXpose